Posts

Penyedia Virtual Datacenter Terbaik di Indonesia: Panduan Memilih Solusi Enterprise yang Tepat

Penyedia Virtual Datacenter Terbaik di Indonesia

Infografis Penyedia Virtual Datacenter Terbaik di Indonesia

 

Memilih best virtual datacenter Indonesia sering kali terlihat sederhana di awal, tetapi menjadi rumit saat masuk ke detail teknis dan komersial. Banyak vendor menawarkan fitur yang terdengar mirip, namun perbedaan pada lokasi data center, SLA, keamanan, dukungan lokal, dan model billing dapat berdampak besar pada operasi bisnis.

Bagi enterprise, keputusan ini bukan sekadar memilih cloud provider Indonesia, melainkan memilih fondasi untuk aplikasi kritikal, kepatuhan, efisiensi biaya, dan kesiapan tumbuh. Artikel ini membantu Anda membandingkan virtual datacenter Indonesia secara lebih terstruktur agar keputusan pembelian lebih aman, rasional, dan sesuai kebutuhan organisasi.

Mengapa Memilih Virtual Datacenter Menjadi Keputusan Strategis bagi Enterprise

Virtual datacenter atau virtual data center adalah model infrastruktur cloud yang menyediakan resource komputasi, storage, dan network secara elastis melalui virtualisasi. NIST mendefinisikan cloud computing sebagai model akses on-demand ke shared pool of configurable resources yang dapat diprovisioning dengan cepat dan efisien.

Bagi perusahaan menengah hingga enterprise, VDC Indonesia membantu mempercepat transformasi digital tanpa harus membeli dan mengelola seluruh hardware fisik sendiri. Ini relevan untuk beban kerja seperti ERP, aplikasi internal, sistem customer-facing, environment development dan staging, serta workload hybrid cloud Indonesia yang memerlukan kombinasi cloud lokal dan sistem on-premise.

Ada beberapa alasan strategis mengapa enterprise makin serius mempertimbangkan enterprise cloud Indonesia:

  • Efisiensi biaya, karena CAPEX dapat ditekan dan kapasitas bisa disesuaikan dengan kebutuhan aktual.
  • Skalabilitas, karena resource dapat ditambah saat beban kerja naik tanpa pengadaan perangkat baru.
  • Keamanan, karena vendor yang matang biasanya menyediakan kontrol akses, isolasi lingkungan, backup, dan monitoring.
  • Compliance, karena banyak organisasi membutuhkan data residency dan tata kelola yang lebih jelas.
  • Fleksibilitas, karena virtual infrastructure mendukung pola deploy yang lebih cepat dan adaptif.

Dalam praktiknya, cloud infrastructure Indonesia sering dipilih oleh perusahaan retail nasional, manufaktur, layanan keuangan, logistik, hingga instansi pemerintah yang membutuhkan kontrol lebih atas lokasi data dan dukungan operasional lokal. Pada skenario yang umum, tim IT menggunakan managed cloud Indonesia untuk menjalankan aplikasi bisnis inti, sementara environment lain tetap berada di private cloud Indonesia atau infrastruktur internal.

Kriteria Penting Memilih Virtual Datacenter di Indonesia

Memilih vendor yang tepat membutuhkan evaluasi lebih dari sekadar harga per vCPU atau kapasitas storage. Anda perlu menilai kesiapan platform untuk kebutuhan enterprise, termasuk kepatuhan, kontinuitas layanan, dan kemampuan operasional vendor.

1. Lokasi data center

Lokasi data center Indonesia menjadi faktor penting untuk latency, ketersediaan jaringan, dan kepatuhan data residency. Untuk workload yang sensitif terhadap waktu respons, lokasi yang lebih dekat ke pengguna atau kantor pusat dapat memberikan pengalaman yang lebih baik. Untuk sektor tertentu, penyimpanan data di Indonesia juga menjadi pertimbangan tata kelola dan kepatuhan internal.

2. Sertifikasi dan standar

Sertifikasi menunjukkan bahwa vendor menjalankan kontrol yang diakui secara industri. Yang umum dicari antara lain ISO 27001 untuk sistem manajemen keamanan informasi, ISO 22301 untuk business continuity, ISO 9001 untuk manajemen mutu, dan PCI DSS bila lingkungan memproses data kartu pembayaran. ISO dan standar keamanan membantu organisasi menilai apakah vendor memiliki proses yang disiplin, bukan sekadar infrastruktur yang terlihat modern.

3. Keamanan

Keamanan harus dilihat dari beberapa lapisan: isolasi tenant, firewall, kontrol identitas, enkripsi, logging, proteksi terhadap serangan jaringan, dan prosedur respons insiden. Untuk enterprise, pertanyaan yang penting bukan hanya “apakah aman”, tetapi “bagaimana vendor membuktikan keamanan itu dijaga secara konsisten”. BSSN juga menekankan pentingnya pengelolaan insiden siber yang terstruktur sebagai bagian dari ketahanan digital organisasi.peraturan.

4. High availability dan disaster recovery

Sistem enterprise tidak boleh bergantung pada satu titik kegagalan. Pastikan penyedia virtual datacenter menawarkan arsitektur high availability, opsi backup, replikasi, dan disaster recovery yang bisa diuji secara berkala. Jika vendor memiliki multi-data center atau region terpisah, itu menjadi nilai tambah untuk layanan kritikal.

5. SLA dan dukungan 24/7

SLA menunjukkan komitmen vendor terhadap tingkat layanan yang dijanjikan. Namun, angka SLA saja tidak cukup; Anda juga perlu memahami ruang lingkupnya, mekanisme kompensasi, jam dukungan, dan jalur eskalasi. Untuk organisasi yang menjalankan aplikasi 24/7, dukungan lokal dan respons cepat sering kali sama pentingnya dengan spesifikasi teknis.

6. Skalabilitas dan fleksibilitas resource

Enterprise cloud computing harus mampu mengikuti perubahan kebutuhan bisnis. Resource CPU, RAM, storage, dan network sebaiknya bisa ditingkatkan tanpa migrasi yang kompleks. Fleksibilitas billing juga penting agar biaya tetap selaras dengan pola pemakaian.

7. Kompatibilitas VMware

Banyak perusahaan masih menjalankan lingkungan berbasis VMware karena stabil, familiar, dan mudah diintegrasikan dengan workflow infrastruktur yang sudah ada. Karena itu, dukungan VMware Cloud Indonesia atau platform berbasis VMware menjadi pertimbangan utama bagi organisasi yang ingin migrasi bertahap tanpa redesign besar-besaran.

8. Compliance Indonesia

Selain sertifikasi, enterprise juga perlu memastikan vendor memahami kebutuhan regulasi dan praktik data governance di Indonesia. Ini penting untuk sektor pemerintahan, keuangan, pendidikan, dan layanan publik yang umumnya memiliki tuntutan audit, retensi data, dan kontrol akses yang lebih ketat. Dalam konteks sovereign cloud Indonesia, aspek lokasi data dan kontrol operasional menjadi makin relevan.

Perbandingan Penyedia Virtual Datacenter Terbaik di Indonesia

Dalam memilih layanan Virtual Datacenter (VDC) di Indonesia, gambaran yang objektif berdasarkan informasi publik sangat diperlukan. Untuk beberapa fitur spesifik yang belum dipublikasikan secara terbuka oleh masing-masing penyedia, disarankan untuk melakukan konfirmasi langsung ke vendor terkait agar tidak menimbulkan asumsi yang keliru.

Berikut adalah uraian mengenai profil dan kapabilitas dari masing-masing penyedia VDC di Indonesia:

1. Arupa Cloud

Arupa Cloud mengoperasikan infrastrukturnya di Indonesia, meski detail lokasi region-nya perlu dikonfirmasi langsung. Penyedia ini menawarkan dukungan lokal, managed services, serta kapabilitas hybrid cloud. Infrastrukturnya berbasis VMware VDC (cloud computing) dengan keamanan tingkat enterprise-grade (detail sertifikasi perlu konfirmasi). Layanan backup dan disaster recovery sudah tersedia secara umum, namun rincian teknis, skema billing, serta jaminan SLA masih memerlukan konfirmasi langsung. Arupa Cloud utamanya menargetkan segmen enterprise, instansi, dan perusahaan yang membutuhkan cloud lokal.

2. Biznet Gio

Biznet Gio didukung oleh tiga data center utama di Indonesia, yaitu di Cimanggis, MidPlaza Jakarta, dan Banten. Menawarkan dukungan lokal 24/7, managed services, dan integrasi hybrid cloud, Biznet Gio menjamin keamanan standar Tier-3 serta sertifikasi PCI DSS pada publikasi region data center-nya. Tingkat jaminan SLA berkisar antara 99% hingga 99,9% tergantung produk yang dipilih. Namun, detail terkait dukungan VMware, backup, disaster recovery, dan skema billing perlu dipastikan per layanan. Layanan ini dirancang untuk skala enterprise dan bisnis yang membutuhkan integrasi cloud.

3. Telkomsigma

Telkomsigma menyediakan infrastruktur VDC berbasis lokasi di Indonesia (detail lokasi spesifik perlu konfirmasi). Layanan ini sudah dilengkapi dengan dukungan lokal, managed services, serta kapabilitas hybrid cloud. Aspek teknis lainnya—seperti dukungan VMware, backup, disaster recovery, billing, keamanan, dan SLA—memerlukan konfirmasi langsung ke vendor. Telkomsigma difokuskan untuk memenuhi kebutuhan enterprise, korporasi, dan institusi.

4. Lintasarta

Berfokus pada segmen enterprise dan sektor yang terikat regulasi ketat, Lintasarta menghadirkan infrastruktur di Indonesia (detail lokasi perlu konfirmasi). Penyedia ini menyertakan dukungan lokal, managed services, serta solusi hybrid cloud. Detail operational seperti penggunaan VMware, backup, disaster recovery, skema billing, spesifikasi keamanan, dan jaminan SLA perlu dikonfirmasi lebih lanjut ke pihak Lintasarta.

5. Huawei Cloud Indonesia

Huawei Cloud menghadirkan layanan cloud berlokasi di Indonesia (detail lokasi perlu konfirmasi) dengan target pasar kelas enterprise dan digital-native company. Layanan ini mendukung integrasi hybrid cloud dan menyediakan support lokal. Kendati demikian, rincian mengenai managed services, VMware, backup, disaster recovery, billing, keamanan, serta SLA memerlukan klarifikasi langsung dari vendor.

6. Alibaba Cloud Indonesia

Alibaba Cloud menyediakan infrastruktur lokal di Indonesia (detail lokasi perlu konfirmasi) yang ditujukan untuk sektor enterprise dan aplikasi skala besar. Didukung oleh support lokal dan kemampuan hybrid cloud, aspek operasional lain—seperti managed services, dukungan VMware, backup, disaster recovery, billing, fitur keamanan, dan SLA—masih perlu dikonfirmasi secara langsung kepada penyedia.

7. AWS Outposts

AWS Outposts menyajikan pendekatan berbeda karena bukan merupakan VDC lokal murni, melainkan sangat bergantung pada desain arsitektur yang diterapkan. Solusi ini ditargetkan untuk enterprise dengan kebutuhan hybrid edge. Disediakan dengan dukungan lokal (melalui partner dan AWS support), managed services, serta kapabilitas hybrid cloud, AWS Outposts tidak berfokus pada VMware native VDC. Aspek terkait backup, disaster recovery, billing, keamanan, dan SLA perlu dipastikan langsung ke penyedia.

8. Microsoft Azure Stack

Microsoft Azure Stack dirancang khusus bagi enterprise hybrid dan beban kerja ter-regulasi (regulated workload). Lokasi dan ketersediaan layanannya bergantung pada desain arsitektur serta mitra penyedia. Solusi ini dilengkapi dengan managed services, kapabilitas hybrid cloud, dan dukungan lokal melalui partner. Untuk detail mengenai VMware, backup, disaster recovery, billing, fitur keamanan, serta SLA, calon pengguna perlu melakukan konfirmasi langsung ke vendor atau partner resminya.

Untuk beberapa vendor global seperti AWS Outposts dan Microsoft Azure Stack, kategori yang paling tepat sering kali bukan “virtual datacenter lokal” dalam pengertian umum, melainkan pendekatan hybrid atau edge-cloud yang sangat bergantung pada desain arsitektur dan integrasi partner. Karena itu, untuk pembeli enterprise di Indonesia, penting menguji apakah solusi tersebut benar-benar memenuhi kebutuhan lokasi data, support, dan operasional lokal.

Kapan Sebaiknya Memilih Virtual Datacenter Lokal Dibanding Global Cloud?

Virtual datacenter lokal lebih masuk akal ketika latency rendah menjadi prioritas, misalnya untuk aplikasi transaksi internal, ERP, virtual desktop, dan sistem operasional yang digunakan tim di Indonesia. Lokasi data center Indonesia juga membantu mengurangi kekhawatiran soal data residency dan memudahkan koordinasi dengan tim vendor yang berada di zona waktu yang sama.

Global cloud tetap menarik untuk banyak kasus, tetapi biaya transfer data, kompleksitas arsitektur, dan ketergantungan pada region luar negeri bisa menjadi tantangan. Jika organisasi Anda menjalankan hybrid cloud Indonesia dengan kombinasi sistem legacy, aplikasi internal, dan workload cloud baru, solusi lokal sering memberi jalur migrasi yang lebih realistis.

Secara umum, pilih virtual datacenter lokal bila Anda membutuhkan:

  • Respons dukungan yang lebih cepat dalam bahasa dan jam kerja lokal.
  • Kepastian lokasi data yang lebih dekat dengan kebijakan internal.
  • Integrasi yang lebih mudah dengan infrastruktur on-premise.
  • Jalur migrasi yang lebih bertahap untuk aplikasi enterprise.

Mengapa Banyak Enterprise Memilih Arupa

Arupa relevan untuk perusahaan yang ingin membangun cloud enterprise dengan pendekatan yang lebih terarah, terutama bila prioritasnya adalah virtual datacenter Indonesia berbasis VMware. Dari informasi publik, produk VMware Virtual Data Center di Arupa ditujukan untuk membangun lingkungan data center virtual yang terpusat dan elastis, sehingga resource server, jaringan, dan storage dapat dikelola secara lebih fleksibel.

Nilai yang biasanya dicari enterprise dari Arupa bukan sekadar kapasitas komputasi, melainkan kombinasi antara managed services, konsultasi teknis, dan fleksibilitas deployment. Untuk tim IT yang sedang migrasi dari server fisik atau private cloud Indonesia ke lingkungan yang lebih modern, pendekatan seperti ini bisa mengurangi risiko operasional karena tidak semua hal harus dibangun sendiri.

Arupa juga menarik bagi organisasi yang membutuhkan:

  • Dukungan lokal untuk koordinasi teknis yang lebih cepat.
  • Arsitektur yang cocok untuk workload VMware.
  • Opsi backup dan disaster recovery yang bisa dikembangkan sesuai kebutuhan.
  • Fleksibilitas untuk mendukung hybrid cloud tanpa mengubah seluruh stack sekaligus.
  • Infrastruktur enterprise-grade yang lebih mudah diposisikan untuk kebutuhan audit dan tata kelola.

Dalam praktiknya, banyak perusahaan memilih provider seperti Arupa karena mereka ingin fokus pada aplikasi dan layanan bisnis, bukan menghabiskan waktu untuk mengelola kompleksitas infrastruktur dari nol. Itu sangat relevan untuk tim IT yang harus menyeimbangkan tuntutan operasional, keamanan, dan efisiensi biaya.

Checklist Sebelum Memilih Vendor Virtual Datacenter

Gunakan checklist berikut saat mengevaluasi vendor virtual datacenter:

  • Lokasi data center jelas dan sesuai kebutuhan bisnis.
  • SLA tertulis dan mudah dipahami.
  • Backup tersedia dengan kebijakan retensi yang jelas.
  • Disaster recovery dapat diuji dan didokumentasikan.
  • Support 24/7 dengan jalur eskalasi yang jelas.
  • Sertifikasi keamanan dan mutu dapat diverifikasi.
  • Monitoring, alerting, dan logging tersedia.
  • Model billing transparan dan mudah diprediksi.
  • Resource dapat diskalakan tanpa downtime besar.
  • Keamanan mencakup kontrol akses, segmentasi, dan perlindungan jaringan.
  • Proses migrasi dibantu tim teknis yang kompeten.
  • Integrasi hybrid cloud didukung dengan baik.

Jika jawaban vendor masih ambigu pada beberapa poin di atas, itu biasanya sinyal bahwa Anda perlu workshop teknis sebelum mengambil keputusan. Untuk enterprise, transparansi jauh lebih penting daripada janji pemasaran yang terdengar meyakinkan.

FAQ

1. Apa Virtual Datacenter terbaik di Indonesia?

Tidak ada satu jawaban yang berlaku untuk semua perusahaan. Pilihan terbaik tergantung pada lokasi data center, VMware compatibility, SLA, support lokal, compliance, dan kebutuhan hybrid cloud.

2. Apa bedanya VDC dan Public Cloud?

VDC biasanya memberi pendekatan yang lebih terkontrol dan terisolasi, sering kali dengan pengalaman pengelolaan yang mirip data center virtual. Public cloud lebih luas dan sangat elastis, tetapi model operasional dan struktur biayanya bisa berbeda.

3. Berapa biaya Virtual Datacenter?

Biaya sangat bergantung pada jumlah vCPU, RAM, storage, bandwidth, backup, DR, dan layanan managed services. Untuk angka yang akurat, minta quotation langsung karena model harga setiap vendor bisa berbeda.

4. Bagaimana memilih provider yang tepat?

Mulailah dari kebutuhan bisnis: lokasi data, compliance, SLA, dukungan teknis, dan kemampuan scaling. Setelah itu, bandingkan arsitektur, keamanan, dan total cost of ownership, bukan hanya harga awal.

5. Apakah Virtual Datacenter cocok untuk ERP?

Ya, sering kali cocok, terutama jika ERP membutuhkan lingkungan yang stabil, aman, dan mudah diskalakan. Namun, performa storage, latency, dan rencana backup harus diuji sebelum go-live.

6. Apakah Virtual Datacenter mendukung VMware?

Banyak penyedia enterprise VDC di Indonesia menawarkan lingkungan berbasis VMware. Jika VMware adalah syarat utama, pastikan kompatibilitas dan versi platform dikonfirmasi langsung ke vendor.

7. Apakah data tetap berada di Indonesia?

Jika Anda memilih vendor dengan data center Indonesia, data biasanya dapat ditempatkan di dalam negeri. Tetap pastikan klausul lokasi data tertulis jelas di kontrak dan dokumen layanan.

8. Bagaimana proses migrasinya?

Umumnya dimulai dari assessment, desain arsitektur, proof of concept, migrasi bertahap, lalu cutover. Untuk workload kritikal, vendor yang baik akan membantu menyusun runbook migrasi dan rollback plan.

9. Apakah tersedia managed service?

Banyak provider enterprise menawarkan managed cloud Indonesia atau layanan pendamping. Namun, cakupannya berbeda-beda, jadi Anda perlu memeriksa apakah hanya monitoring atau juga patching, backup, DR, dan support aplikasi.

10. Bagaimana memastikan SLA vendor?

Baca detail SLA secara menyeluruh, termasuk downtime yang dikecualikan, prosedur klaim, dan metrik pengukuran. Minta bukti historis performa layanan bila tersedia, serta tanyakan mekanisme eskalasi jika terjadi gangguan.

Jika Anda ingin mengevaluasi kebutuhan bisnis, konsultasikan dengan Zettagrid untuk mendapatkan rekomendasi yang tepat berdasarkan target operasional dan recovery organisasi. Hubungi Zettagrid di marketing@zettagrid.id atau WhatsApp +62 811–9688–835 sekarang juga.

Run Cloud-based Warehouse Management System Like A Pro

Cloud-based Warehouse Management System

Run Cloud-based Warehouse Management System Like A Pro

 

When everything goes into digital, anything you can do seems easier. Thanks to technology that create solutions for people so they could simplify their life and business including warehouse management system. Warehouse Management System (WMS) is a software that helps you run and manage your day to day warehouse operation. Business with warehouse can utilize WMS to prevent warehousing issues such as; misplaced or missing items, wrong delivery, inefficient process, etc.

Zettagrid Indonesia, in partnership with PT. Mimotek Indonesia, proudly present Largo App. Largo covers almost everything in your warehouse operation starting from inbound process, put away, picking, all the way to outbound processes. Largo uses Barcode/RFID Technology in most of the transactions to make it easier, faster, and error-proof. ‘Scan and Go’ we call it and it will make your warehouse operation a lot faster, less administrative works, and a lot less human error.

Join us to get insight how to “Run Cloud-based Warehouse Management System Like A Pro” on Zettagrid e-TechDay Vol.04. Meet Antony Wijaya as Business Consultant from Largo, one of the best WMS apps solution in Indonesia.

Event Details:

Date: Tuesday, 20 October 2020

Time: 14.00-16.00

Zoom

Link to Register: https://tinyurl.com/eTechDay4

Save your spot now and get chance to win OVO credits by the end of Event. If you need further information you could contact us to marketing@zettagrid.id or click here.

Cloud Computing atau On-premises? Manakah yang lebih baik?

Cloud Computing Atau On-Prem?

Cloud Computing atau On-premises? Manakah yang lebih baik?

Memilih solusi IT Cloud computing atau On-premises untuk bisnis anda merupakan hal yang krusial. Karena jika salah pilih, maka banyak hal yang harus anda pikirkan dari awal. Apalagi di masa pandemi COVID-19 yang tidak menentu seperti ini, yang dimana tak jarang beberapa perusahaan harus melakukan efisiensi agar bisnis berjalan dengan lancar di tengah pandemi.

Sebelum memilih harus di alokasikan kemana biaya investasi anda, lebih baik anda mengenalinya lebih baik terlebih dahulu apa itu cloud computing dan ap aitu on-premise yang mana yang sesuai dengan kebutuhan anda.

Cloud computing adalah layanan komputasi melalui internet dengan basis pembayaran pay-as-you-go basis, atau membayar sesuai pemakaian anda. Dengan kata lain, cloud computing adalah solusi hosting dimana penyedia layanan cloud atau cloud service provider menawarkan fasilitas dan data center untuk IT workload perusahaan anda. Ketika anda menggunakan jasa cloud provider, cloud provider anda lah yang harus bertanggung jawab atas data center, keamanan, dan fungsi network IT workload anda.

Sedangkan didalam On-premises atau on-prem, seluruh IT environment dan infrastruktur termasuk server dan software yang digunakan, terpasang dan dikelola oleh IT organisasi atau perusahaan sendiri. On-premise sendiri memiliki server fisik yang biasanya terletak di lingkungan organisasi/perusahaan tersebut.

Jadi dimana letak perbedaan dan mana yang terbaik? Cloud computing atau On-premis?

Cloud Computing Atau On-Prem?

Cloud computing memiliki kemampuan fleksibel atau scalable. Sehingga dengan cloud bisnis akan lebih mudah untuk mengembangkan atau mengurangi kapasitas sesuai dengan kebutuhan. Kemudian cloud juga lebih instant dari segi kapan anda ingin menggunakannya. Jika anda ingin menggunakan anda tinggal menyalakan fungsinya namun sebaliknya, anda juga dapat memberhentikannya hanya dengan mematikan/turn off.

Dari sisi biaya, cloud memiliki keuntungan tersendiri yaitu anda hanya membayar sesuai dengan kapasitas yang anda gunakan. Sedangkan, di On-prem biaya operasional akan terus sama bahkan meningkat apapun yang terjadi.

Dengan cloud, perusahaan juga tidak perlu memikirkan biaya perawatan dan update system, sehingga anda dapat menghemat waktu, biaya dan tenaga untuk memenuhi strategi bisnis anda.

Di Zettagrid, anda dapat mengakses sistem dan data anda dengan keamanan yang terjamin Up-time Service Level Agreement (SLA) 99,9%. Ditambah lagi saat ini Zettagrid Indonesia adalah cloud service provider di Indonesia yang memiliki sertifikat VMware Cloud Verified Provider, sehingga anda sebagai user dapat memaksimalkan seluruh fitur VMware cloud-based yang ada di Zettagrid.

Jika anda berminat, atau memiliki pertanyaan lebih lanjut, anda dapat menghubungi kami disini atau email kami di sales@zettagrid.id.

Tingkatkan Sistem IT Workload Bisnis Anda Dengan Cloud Provider

IT Workload

Tingkatkan Sistem IT Workload Bisnis Anda Dengan Cloud Provider

Sejak terjadinya pandemi COVID-19, berbagai industri dari sektor bisnis kini bertransformasi menjadi lebih digital. Hal ini dilakukan tentunya tidak hanya untuk mengikuti kebijakan social distancing, melainkan juga perilaku konsumen yang saat ini beralih secara daring. Untuk itu, akses internet saja tidak cukup dalam meningkatkan bisnis di masa pandemi ini. Sistem IT canggih lainnya juga diperlukan demi menunjang kebutuhan operasional bisnis, salah satunya adalah sistem cloud provider.

Selain menjadi solusi infrastruktur digital bagi perusahaan, sistem layanan cloud juga dapat membantu meningkatkan efisiensi bisnis dengan mengurangi investasi CAPEX dan OPEX. Tak hanya itu, deployment yang dapat dilakukan dalam beberapa jam saja, menjadikan cloud sebagai pilihan pengusaha untuk meningkatkan sistem IT workload bisnis anda di masa pandemi seperti sekarang.

Dalam talkshow bertajuk “Zettagrid e-CloudTalk vol. 04: Elevate Your IT Business Growth with Zettagrid” pada 26 Agustus 2020, Yohannes Saputra selaku IT Project and Development di Chemstation Asia (CSA), membagikan pengalaman perusahaannya saat menggunakan teknologi cloud infrastructure. Setelah melakukan beragam inovasi teknologi, CSA kini mempercayai sistem layanan cloud data center dari Zettagrid Indonesia untuk menopang sistem IT workload perusahaan.

Keputusan perusahaan tersebut pastinya terjadi bukan tanpa alasan. Mengingat sistem cabang perusahaan di 7 negara lainnya memiliki waktu yang berbeda, CSA membutuhkan sistem server yang dapat terus aktif demi meningkatkan operasional bisnisnya. Sehingga, sistem cloud dipercaya dapat menjadi solusi IT perusahaan tersebut.

Human error yang dapat terjadi sewaktu-waktu pun menjadi alasan berikutnya. Demi meminimalisir terjadinya risiko dari bencana, perusahaan yang bergerak di bidang distribusi kimia ini melihat perlunya sistem backup plan. Sehingga, jika terjadi gangguan seperti human error, sistem backup plan cloud dapat diaktifkan secara real time dan tidak mengganggu operasional lainnya.

Namun, mencari solusi operasional IT tidaklah cukup bagi bisnis yang sedang dijalankan. Bencana alam maupun serangan hacker tentunya dapat menimpa sistem IT workloads bisnis anda. Terutama bagi on-premise yang tidak memiliki standard data center seperti cloud provider.

Menurut Stephen Tukimin selaku VCPP Senior Solution Engineer di VMware, sistem layanan cloud tentunya memiliki standar yang dapat menjaga service level agreements (SLA). Standar tersebut bisa dilihat dari sisi infrastruktur, konektivitas jaringan, hingga keadaan daruratnya. Sehingga, kebijakan SLA yang jelas dapat menjadi jaminan bagi pengguna terkait keamanan data yang tersimpan pada sistem.

Jika anda ingin menyimak apa kata para pakar mengenai Cloud computing di Zettagrid e-CloudTalk Vol.04, anda dapat menyimak tayangannya di channel Youtube kami disini

Jika anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Zettagrid, anda dapat menghubungi kami di sini atau email ke sales@zettagrid.id untuk memudahkan pengalaman cloud bagi bisnis anda.

 

Writer: Gita Gisela