Posts

Backup Automation: Mengurangi Human Error dan Mempercepat Recovery

Ilustrasi Backup Automation untuk mengurangi human error dan mempercepat pemulihan data

Backup Automation membantu perusahaan mengurangi kesalahan manual dan meningkatkan efisiensi proses backup.

Dalam operasional backup enterprise, backup automation bukan lagi sekadar fitur tambahan, melainkan kebutuhan strategis. Human error tetap menjadi salah satu penyebab utama kegagalan backup dan recovery, mulai dari konfigurasi jadwal yang keliru, retention policy yang tidak konsisten, hingga job backup yang gagal tetapi tidak terdeteksi selama berminggu-minggu. Ketika disaster terjadi, proses recovery manual yang bergantung pada dokumentasi yang sudah kedaluwarsa atau tim yang sedang under pressure dapat memperpanjang downtime secara signifikan.

Artikel ini membahas bagaimana automated backup dapat mengurangi risiko human error, meningkatkan konsistensi operasional, dan mempercepat recovery time. Fokusnya bukan pada janji bahwa otomatisasi akan menghilangkan seluruh masalah, melainkan pada pemahaman realistis tentang apa yang dapat dan tidak dapat dicapai dengan automasi, serta bagaimana mengintegrasikannya ke dalam strategi data protection yang lebih luas.

Di Mana Human Error Paling Sering Terjadi dalam Backup?

Sebelum membahas solusi, penting untuk memahami di mana titik lemah operasional backup yang paling rentan terhadap kesalahan manusia. Berdasarkan pengalaman operasional di berbagai lingkungan enterprise, beberapa pola kesalahan muncul secara konsisten:

Konfigurasi Job Backup

Admin IT sering kali harus mengonfigurasi puluhan bahkan ratusan job backup untuk berbagai workload. Tanpa standarisasi, setiap job dapat memiliki pengaturan yang berbeda: jadwal, retensi, target repository, atau tingkat kompresi. Kesalahan kecil seperti salah memilih retention policy atau lupa mengaktifkan enkripsi dapat berakibat serius saat recovery diperlukan.

Manajemen Jadwal dan Retensi

Jadwal backup yang tidak terdokumentasi atau bergantung pada ingatan individu berisiko tinggi. Ketika admin yang bertanggung jawab cuti, resign, atau pindah tim, pengetahuan tentang “bagaimana backup berjalan” dapat hilang. Retention policy yang diterapkan secara manual juga rentan terhadap inkonsistensi: beberapa workload mungkin menyimpan backup terlalu lama (memboroskan storage), sementara yang lain terlalu singkat (tidak memenuhi kebutuhan compliance).

Missed Backup dan Failed Job yang Tidak Terperiksa

Backup job yang gagal tanpa notifikasi adalah risiko tersembunyi yang umum. Dashboard yang tidak dimonitor, alert yang dikirim ke email yang sudah tidak aktif, atau asumsi bahwa “backup pasti sukses” dapat menyebabkan perusahaan menyadari kegagalan backup hanya saat mencoba restore, yang mungkin sudah terlambat.

Kapasitas Storage yang Tidak Terpantau

Storage backup yang penuh adalah penyebab umum kegagalan backup mendadak. Tanpa monitoring proaktif, tim IT mungkin baru menyadari masalah ini setelah beberapa job gagal berturut-turut. Dalam skenario terburuk, backup tertunda selama berhari-hari sebelum kapasitas ditambah atau data lama dihapus.

Proses Recovery Manual

Saat disaster terjadi, tekanan waktu tinggi dan dokumentasi recovery yang tidak teruji dapat menyebabkan kesalahan fatal: restore ke target yang salah, urutan recovery yang tidak memperhatikan dependency aplikasi, atau lupa mengonfigurasi ulang network dan security setting. Human error dalam recovery sering kali lebih mahal dampaknya daripada error dalam backup rutin.

Bagaimana Backup Automation Membantu?

Automasi tidak menghilangkan seluruh risiko, tetapi secara signifikan mengurangi titik-titik kegagalan yang disebabkan oleh inkonsistensi manusia. Berikut adalah area di mana backup management berbasis automasi memberikan nilai paling besar:

  • Scheduling yang Konsisten dan Terprediksi

Dengan backup automation, jadwal backup didefinisikan dalam policy yang diterapkan secara terpusat. Setiap workload yang masuk dalam scope policy akan otomatis mendapat jadwal yang sama, mengurangi risiko lupa mengkonfigurasi backup untuk server baru atau workload yang baru di-deploy. Scheduling juga dapat disesuaikan dengan business hour, maintenance window, atau periode low-activity untuk meminimalkan dampak pada performa produksi.

  • Policy-Driven Retention

Retention policy yang didefinisikan secara terpusat memastikan konsistensi di semua workload. Misalnya, policy “daily backup retained 30 days, weekly retained 12 weeks, monthly retained 12 months” dapat diterapkan otomatis tanpa perlu konfigurasi manual per job. Ini juga membantu memenuhi kebutuhan compliance yang memerlukan retensi data jangka panjang.

  • Monitoring dan Alerting Proaktif

Sistem automasi modern menyediakan dashboard terpusat yang menampilkan status semua backup job, baik yang sukses, warning, maupun gagal. Alert dapat dikonfigurasi untuk mengirim notifikasi via email, SMS, atau integrasi dengan platform ITSM ketika job gagal, storage hampir penuh, atau ada anomali seperti backup yang tidak berjalan sesuai jadwal. Ini mengubah model operasional dari “reaktif setelah masalah ditemukan” menjadi “proaktif sebelum masalah berdampak”.

  • Automated Reporting dan Compliance

Laporan backup yang dihasilkan otomatis mengurangi beban administratif dan memberikan visibilitas yang konsisten untuk audit. Laporan dapat mencakup metrik seperti success rate, RPO actual vs target, kapasitas storage yang digunakan, dan tren kegagalan dari waktu ke waktu. Untuk industri yang diatur (finansial, kesehatan, sektor publik), laporan ini menjadi bukti kepatuhan terhadap kebijakan backup dan retention.

  • Verification dan Automated Restore Testing

Beberapa platform backup modern mendukung automated restore testing, di mana backup secara berkala diuji restore-nya ke environment isolated untuk memverifikasi integritas data. Hasil testing dilaporkan otomatis, memberikan keyakinan bahwa backup benar-benar dapat dipulihkan, bukan hanya tampak sukses di dashboard.

  • Orchestration Recovery Workflow

Untuk skenario disaster recovery yang kompleks, recovery automation dapat mengoordinasikan urutan restore berbagai komponen: database harus di-restore dulu sebelum aplikasi, network configuration harus diterapkan sebelum VM di-boot, dan seterusnya. Orchestration ini mengurangi risiko kesalahan urutan yang dapat menyebabkan aplikasi gagal start atau data tidak konsisten.

  • Batasan Automasi: Human Oversight Tetap Diperlukan

Meskipun automasi memberikan banyak manfaat, penting untuk memahami batasannya. Backup automation dapat mengurangi, tetapi tidak menghilangkan seluruh human error. Beberapa area yang tetap memerlukan keterlibatan manusia:

  • Desain Kebijakan dan Arsitektur

Automasi menjalankan apa yang didefinisikan dalam policy. Jika policy itu sendiri salah desain (misalnya, RPO terlalu longgar untuk workload kritikal, atau retention tidak memenuhi kebutuhan compliance), automasi hanya akan menjalankan kesalahan tersebut secara konsisten. Desain arsitektur backup, pemilihan RTO/RPO, dan penentuan workload priority tetap memerlukan judgement manusia.

  • Interpretasi Alert dan Eskalasi

Alert otomatis dapat memberitahu bahwa ada masalah, tetapi interpretasi dan eskalasi yang tepat tetap memerlukan analisis manusia. Misalnya, alert “backup gagal” dapat disebabkan oleh masalah jaringan temporer, bug software, atau kegagalan storage yang serius. Tim IT perlu menilai urgensi dan mengambil tindakan yang sesuai.

  • Perubahan Infrastruktur dan Workload Baru

Ketika infrastruktur berubah (server baru, migrasi cloud, perubahan network topology), policy backup perlu disesuaikan. Automasi tidak dapat mendeteksi perubahan ini secara otomatis tanpa integrasi yang mendalam dengan sistem inventory dan change management.

  • Recovery Decision yang Kompleks

Dalam skenario disaster besar, keputusan seperti “apakah kita failover ke site DR sekarang atau menunggu”, “workload mana yang diprioritaskan untuk di-restore dulu”, atau “apakah data yang terkorupsi dapat diterima” memerlukan judgement bisnis yang tidak dapat diotomatisasi sepenuhnya.

  • Security dan Access Control

Automasi tidak menggantikan kebutuhan akan kontrol akses yang ketat, audit trail, dan pemisahan duty (separation of duties). Siapa yang dapat mengubah policy backup, menghapus backup, atau initiate recovery tetap perlu dikontrol dan diaudit.

  • Best Practice Implementasi Backup Automation

Untuk memaksimalkan manfaat automasi sambil meminimalkan risiko, berikut beberapa best practice yang dapat diadopsi:

  • Mulai dari Policy, Bukan Tool

Sebelum mengimplementasikan automasi, definisikan terlebih dahulu kebijakan backup yang jelas: workload apa yang perlu dilindungi, RPO/RPO untuk masing-masing, retention requirement, dan lokasi backup (onsite, offsite, immutable). Policy ini kemudian diterjemahkan ke dalam konfigurasi tool automasi.

  • Terapkan Monitoring Berlapis

Jangan bergantung pada satu channel alert saja. Kombinasikan email notification, dashboard monitoring, dan integrasi dengan platform ITSM atau ticketing. Pastikan alert dikirim ke multiple recipient dan ada prosedur eskalasi yang jelas jika alert tidak ditindaklanjuti dalam waktu tertentu.

  • Dokumentasikan dan Uji Recovery Workflow

Otomatisasi recovery hanya berguna jika workflow-nya terdokumentasi dan teruji. Lakukan recovery drill secara berkala (minimal setiap 6 bulan) untuk memverifikasi bahwa automated runbook benar-benar berfungsi dan tim memahami peran mereka dalam proses recovery.

  • Integrasikan dengan Change Management

Ketika ada perubahan infrastruktur (server baru, aplikasi baru, migrasi), pastikan ada trigger otomatis atau checklist manual yang memperbarui policy backup. Integrasi antara sistem CMDB (Configuration Management Database) dan platform backup dapat membantu memastikan tidak ada workload yang terlewat.

  • Review dan Refine Policy Secara Berkala

Kebutuhan bisnis berubah, dan policy backup perlu menyesuaikan. Lakukan review berkala (misalnya setiap tahun atau setelah perubahan bisnis besar) untuk memastikan RPO/RTO masih relevan, retention masih sesuai compliance requirement, dan arsitektur backup masih optimal.

  • Jangan Abaikan Backup Manual untuk Kasus Khusus

Meskipun automasi mencakup sebagian besar workload, ada kasus di mana backup manual atau ad-hoc diperlukan (misalnya sebelum perubahan besar pada sistem kritikal). Pastikan ada prosedur yang jelas untuk backup semacam ini dan hasilnya tetap terdokumentasi dalam sistem monitoring.

Dampak pada RTO dan RPO

Salah satu manfaat paling konkret dari backup automation adalah kemampuannya untuk mendukung RPO yang lebih ketat dan RTO yang lebih cepat.

Untuk RPO, automasi memungkinkan frekuensi backup yang lebih tinggi tanpa beban operasional tambahan. Backup yang sebelumnya harian dapat ditingkatkan menjadi setiap beberapa jam atau bahkan continuous data protection untuk workload yang sangat kritikal. Karena jadwal dijalankan otomatis, risiko missed backup akibat human error berkurang secara signifikan.

Untuk RTO, automated recovery workflow dapat memangkas waktu yang diperlukan untuk restore. Prosedur yang sebelumnya memerlukan beberapa langkah manual (locate backup, mount repository, initiate restore, configure network, validate application) dapat dikompresi menjadi satu klik atau bahkan trigger otomatis. Untuk skenario disaster recovery, orchestration yang mengoordinasikan restore multiple komponen secara paralel dapat mengurangi downtime dari jam menjadi menit.

Namun, penting untuk diingat bahwa peningkatan RPO/RTO ini hanya tercapai jika arsitektur backup dan recovery dirancang dengan benar. Automasi mempercepat eksekusi, tetapi tidak mengubah batasan fisik seperti bandwidth jaringan atau kapasitas storage.

Integrasi dengan Managed Service dan Professional Service

Bagi banyak perusahaan, terutama yang memiliki tim IT terbatas, mengimplementasikan dan mengelola backup automation secara mandiri dapat menjadi tantangan. Di sinilah layanan managed backup dan professional service seperti yang ditawarkan Arupa dapat memberikan nilai tambah.

Arupa menyediakan layanan Assessment & Consultation yang membantu perusahaan mengevaluasi kesiapan backup saat ini, mengidentifikasi gap, dan merancang roadmap automasi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Layanan ini mencakup review infrastruktur, analisis kebijakan backup existing, dan rekomendasi arsitektur yang optimal.

Selain itu, Arupa menawarkan managed service untuk implementasi, monitoring, dan pengelolaan backup secara end-to-end. Tim ahli Arupa dapat membantu mengonfigurasi automasi, setting monitoring dan alerting, serta melakukan recovery testing berkala. Ini memungkinkan tim IT internal fokus pada inisiatif strategis sambil memastikan bahwa backup operasional berjalan dengan andal.

Kesimpulan

Backup automation adalah investasi yang memberikan return jelas dalam bentuk pengurangan human error, peningkatan konsistensi operasional, dan percepatan recovery time. Namun, automasi bukan solusi ajaib yang menghilangkan seluruh risiko. Ia paling efektif ketika dipadukan dengan kebijakan yang terdefinisi dengan baik, monitoring proaktif, testing recovery rutin, dan oversight manusia yang tepat.

Bagi perusahaan yang masih bergantung pada proses backup manual atau semiotomatis, langkah pertama adalah mengevaluasi di mana titik-titik kerentanan human error paling besar, kemudian memprioritaskan automasi pada area tersebut. Tidak perlu mengotomatisasi semuanya sekaligus; pendekatan bertahap yang terukur sering kali lebih berkelanjutan.

Jika Anda ingin memahami seberapa siap strategi backup saat ini dan di mana automasi dapat memberikan dampak terbesar, Arupa menyediakan layanan Dapatkan Free Backup Assessment yang dapat membantu mengidentifikasi peluang perbaikan dan merancang roadmap implementasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran bisnis Anda.

 

FAQ

Apa itu backup automation?
Backup automation adalah penggunaan software dan policy terpusat untuk menjalankan jadwal backup, monitoring, alerting, dan reporting secara otomatis tanpa intervensi manual berulang. Tujuannya mengurangi human error dan meningkatkan konsistensi operasional backup.

Apakah automasi backup menghilangkan seluruh human error?
Tidak. Automasi mengurangi risiko kesalahan rutin seperti missed schedule atau konfigurasi inkonsisten, tetapi desain policy, interpretasi alert, dan keputusan recovery kompleks tetap memerlukan judgement manusia.

Bagaimana automasi membantu RPO dan RTO?
Automasi memungkinkan frekuensi backup lebih tinggi (mendukung RPO lebih ketat) dan recovery workflow yang terkoordinasi (mempercepat RTO). Namun, batasan fisik seperti bandwidth dan kapasitas storage tetap berlaku.

Apakah automated restore testing benar-benar diperlukan?
Ya. Backup yang belum pernah diuji restore-nya adalah risiko tersembunyi. Automated restore testing memverifikasi bahwa backup dapat dipulihkan dan memberikan laporan konsisten untuk audit.

Berapa sering sebaiknya saya review policy backup?
Minimal sekali setahun atau setelah perubahan bisnis besar (misalnya akuisisi, migrasi cloud, atau perubahan regulasi). Review memastikan RPO/RTO, retention, dan arsitektur backup masih relevan.

Apa peran managed service dalam backup automation?
Managed service membantu implementasi, monitoring, dan pengelolaan backup secara end-to-end. Ini berguna bagi perusahaan dengan tim IT terbatas atau yang ingin fokus pada inisiatif strategis.

Bagaimana memulai implementasi backup automation?
Mulailah dengan mendefinisikan kebijakan backup (RPO/RTO, retention, workload coverage), lalu pilih tool yang mendukung policy-driven automation, monitoring terpusat, dan alerting. Implementasi dapat dilakukan bertahap, dimulai dari workload paling kritikal.

Bagaimana Meminimalisir Risiko Kehilangan Data Perusahaan?

meminimalisir kehilangan data

Bagaimana Meminimalisir Risiko Kehilangan Data Perusahaan?

Dalam mengembangkan bisnis, ketersediaan data sangat penting bagi perusahaan. Tanpa adanya ketersediaan data, layanan operasional, pengembangan produk, hingga inovasi bisnis tentunya tidak bisa dijalankan secara efektif. Itulah mengapa, banyak bisnis menjadikan data sebagai indikator utama dalam memberlangsungkan perusahaannya.

Namun seiring era digital berkembang, inovasi bukan lagi satu-satunya yang ditemui oleh perusahaan. Beragam ancaman pun kini banyak ditemukan dan menghantui perusahaan seiring bisnis bertransformasi secara digital. Bahkan, ancaman era digital seperti serangan ransomware, hacker, dan overwritten data, bisa mengakibatkan kehilangan data perusahaan hingga menyebabkan kerugian materi. Oleh sebab itu, perlindungan data menjadi hal yang penting untuk dipenuhi agar risiko ancaman kehilangan data perusahaan bisa diminimalisir.

Lalu, bagaimana caranya agar perusahaan dapat memenuhi hal tersebut?

Pada artikel ini akan dijelaskan mengenai cara untuk meminimalisir risiko kehilangan data perusahaan. Penasaran seperti apa? Simak selengkapnya di bawah ini:

1. Mengontrol Siapa yang Dapat Mengakses Data Tertentu

meminimalisir kehilangan data

(Source: cyano66 from Getty Images Pro)

Ada data yang bersifat publik dan rahasia, tergantung pada tingkat prioritas data. Untuk melindungi data bisnis dari pihak eksternal, maka lakukan pemberian akses kepada orang yang bertanggung jawab terhadap data terkait.

Misalnya, dalam sebuah perusahaan, pastinya ada banyak divisi dengan masing-masing peran dan fungsinya. Berbagai divisi tersebut tentu juga memiliki data yang harus dikelola sesuai tugas dan tanggung jawab tim. Untuk menghindari terjadinya kebocoran data, manajemen bisa memberikan akses data kepada divisi yang bersangkutan. Sehingga, hal ini akan meminimalisir terjadinya kebocoran data, baik dari pihak eksternal divisi maupun perusahaan.

2. Manfaatkan Fitur Disaster Recovery

meminimalisir kehilangan data

(Source: monsitj from Getty Images Pro)

Serangan siber tentu tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Bisa saja ketika bisnis tengah fokus berkembang, serangan siber mendadak menyerang tanpa ada peringatan apapun. Akibatnya, tidak hanya kehilangan data saja yang bisa terjadi kepada perusahaan. Tetapi, sistem down akibat kerusakan hardware atau infeksi serangan siber, juga bisa dialami jika perusahaan tidak siap menghadapinya.

Namun, Anda tidak perlu khawatir. Memanfaatkan Disaster Recovery bisa membantu bisnis menghadapi risiko tersebut. Dengan memiliki solusi off-premise yang dapat memulihkan data serta sistem perusahaan, Anda tidak perlu lagi cemas akan risiko yang bisa dialami ketika serangan siber menyerang.

3. Melakukan Backup Secara Berkala

meminimalisir kehilangan data

(Source: CarmenMurillo from Getty Images)

Memanfaatkan solusi backup juga bisa menjadi pilihan untuk meminimalisir risiko kehilangan data. Namun, perlu diketahui bahwa melakukan backup tidak cukup hanya sekali, mengingat data diproduksi perusahaan setiap waktunya. Oleh karena itu, melakukan backup secara berkala sangat penting untuk dilakukan, sehingga data terbaru yang diproduksi maupun masuk ke sistem perusahaan bisa dicadangkan secepat mungkin.

Lalu, bagaimana caranya untuk membackup data perusahaan secara berkala?

Saat menggunakan solusi cloud backup, Anda pasti tahu bahwa cloud menyediakan penjadwalan backup untuk data organisasi. Dengan menentukan jadwal backup berupa harian, mingguan, atau bulanan, solusi cloud backup siap mencadangkan data secara otomatis sesuai kebutuhan perusahaan.

Adakah solusi untuk meminimalisir ancaman kehilangan data?

1. Mengimplementasikan Veeam Replication

Seperti yang disebutkan di awal, menggunakan Disaster Recovery bisa menjadi cara yang baik untuk meminimalisir ancaman kehilangan data. Dengan memiliki solusi satu ini, perusahaan tidak hanya dapat memulihkan datanya, tetapi sistem pun juga bisa dipulihkan apabila terjadi failure pada infrastruktur perusahaan akibat bencana maupun serangan siber.

Veeam Replication bisa menjadi salah satu solusi untuk masalah tersebut. Dengan mereplikasi sistem dan data di luar lokasi atau off-premise, Anda dapat meminimalisir risiko dan ancaman gangguan failure. Tak hanya itu, Veeam Replication juga memiliki sejumlah recovery point yang berfungsi sebagai titik pemulihan untuk failover. Sehingga, ini akan memudahkan Anda untuk memulihkan Virtual Machine (VM) perusahaan.

2. Memanfaatkan Veeam Backup

Solusi cloud backup seperti Veeam Backup juga bisa menjadi pilihan bagi bisnis untuk menyelamatkan data-datanya. Dengan mereplikasi data-data penting ke solusi off-premise seperti Veeam, Anda tidak perlu lagi khawatir akan risiko kehilangan data.

Selain itu, Veeam Backup juga memudahkan Anda untuk melakukan backup secara berkala. Dengan menyediakan jadwal backup otomatis, kini Anda dapat menentukan waktu backup untuk data perusahaan, baik secara harian, mingguan, atau bulanan. Namun, perlu diketahui untuk penjadwalan ini Anda perlu mengkonfigurasikan waktu backup yang perusahaan butuhkan terlebih dahulu. Sehingga, ini akan memudahkan backup secara berkala kedepannya.

3. Menggunakan Arupa Object Storage

Tahukah Anda? Selain cloud backup dan Disaster Recovery, ternyata Object Storage juga bisa dijadikan solusi untuk meminimalisir risiko kehilangan data. Dengan menyediakan solusi off-premise yang fleksibel, Anda dapat mencadangkan data Anda dengan mudah secara otomatis.

Arupa Object Storage merupakan salah satu contoh solusi ini. Dengan kapasitas hingga bilangan petabyte, Arupa Object Storage menyediakan tempat yang lebih fleksibel dan reliabel untuk penyimpanan data hingga NAS atau solusi backup lainnya. Sehingga, Anda tidak perlu lagi memerlukan maintenance ketika kapasitas penyimpanan ini meningkat. Sebab, Anda hanya cukup menscale up penyimpanan Anda sesuai kebutuhan dan dengan harga yang terjangkau.

Itulah beberapa solusi yang bisa Anda gunakan untuk meminimalisir risiko kehilangan data. Bila Anda punya pertanyaan lebih lanjut tentang solusi cloud kami, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

Perlukah Melakukan Backup Pada Microsoft Teams?

Backup Microsoft TeamsPerlukah Melakukan Backup Pada Microsoft Teams?

Aktif menggunakan layanan kolaboratif seperti Microsoft Teams memang bisa memudahkan sistem kerja perusahaan. Tapi, pernahkah terpikirkan oleh Anda untuk juga menerapkan sistem Backup pada Microsoft Teams?

Setelah satu tahun diterjang pandemi COVID-19, kini banyak perusahaan menerapkan sistem kerja dari mana saja atau hybrid working. Sejalan dengan penerapannya, berbagai online tools pun menjadi primadona yang dimanfaatkan oleh bisnis untuk bisa berkomunikasi dan bekerja secara kolaboratif. Salah satunya adalah dengan menggunakan layanan Microsoft Teams.

Bagi Anda yang menggunakan Microsoft Teams, Anda pasti berpikir jika layanan satu ini mampu memudahkan sistem kerja perusahaan. Apalagi jika bisnis menerapkan hybrid working, pastinya pertemuan tatap muka, penyimpanan data, dan proyek kerja bersama tetap terasa mudah dilakukan mengingat layanan ini menawarkan beragam fitur kolaboratif.

Namun demikian, menggunakan Microsoft Teams tanpa strategi perlindungan data saja sangat berisiko bagi bisnis. Coba bayangkan, saat akses dan data Microsoft Teams bisnis Anda terserang hacker atau Human Error, kehilangan data tentu menjadi dampak utama yang bisa disebabkan oleh kedua ancaman tersebut. Oleh sebab itu, bisnis perlu memikirkan ulang terkait keamanan data di Microsoft Teams-nya.

Aktif melakukan Backup pada Microsoft Teams bisa menjadi salah satu pilihan untuk menghindari ancaman tadi. Dengan menyimpan salinan data ke cloud, Anda tidak perlu khawatir lagi akan kehilangan data atau akses ke layanan tersebut. Tak hanya itu, beberapa alasan juga turut mendasari pentingnya melakukan Backup pada Microsoft Teams. Salah empat di antaranya bisa Anda lihat di bawah ini:

1. Data Tidak Sengaja Terhapus

Backup Microsoft Teams

(Source: abluecup from Getty Images)

Alasan utama yang perlu Anda pertimbangkan terkait pentingnya Backup ialah pengguna bisa saja menghapus data, file, atau kontak penting di Microsoft Teams secara tidak sengaja. Atau dalam kasus lain, pengguna menimpa data penting dengan yang tidak terpakai di layanan tersebut.

Akibatnya, kehilangan data bisa terjadi di Microsoft Teams bisnis Anda. Meskipun Anda berpikir Microsoft 365 menyediakan OneDrive Recycle Bin, namun fitur tersebut tetap tidak akan efektif untuk mengembalikan data penting yang telah lama terhapus atau tertimpa.

Backup bisa menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini. Dengan menyalin layanan Microsoft 365 ke cloud, perusahaan bisa memulihkan kembali data yang hilang ke On-Premise, sehingga risiko kehilangan data dapat diminimalisir semaksimal mungkin.

2. Kebutuhan Regulasi Perusahaan

Backup Microsoft Teams

(Source: Ricfard Villalonundefined Undefined from Getty Images)

Dalam organisasi atau perusahaan terkadang Anda dituntut untuk memiliki Backup pada seluruh data Anda. Begitu pula jika bisnis Anda menggunakan layanan Microsoft 365, Backup pastinya juga diperlukan sebagai kebutuhan regulasi perusahaan.

Maka dari itu, melakukan Backup pada Microsoft 365 penting dilakukan tidak hanya untuk menghindari ancaman kehilangan data, tetapi juga untuk mematuhi kebutuhan regulasi penyimpanan atau perlindungan data.

3. Ancaman Internal Bisnis

(Source: shironosov from Getty Images Pro)

Pernahkah Anda mendengar seorang karyawan sengaja menghapus semua datanya ketika akan keluar dari pekerjaannya? Atau melihat seorang karyawan menyabotase sistem IT perusahaan lantaran bersengketa dengan Manajemen?

Dua kasus internal tersebut merupakan hal yang lumrah terjadi pada bisnis. Bahkan bila manajemen lengah, dua kasus tersebut bisa merugikan perusahaan. Oleh sebab itu, antisipasi dengan sistem keamanan data yang solid penting dilakukan oleh perusahaan. Sehingga ini akan menghindari terjadinya kehilangan data, terutama di Microsoft Teams.

Backup bisa menjadi opsi untuk melindungi bisnis dari risiko kehilangan data. Sehingga ketika salah satu data penting di Microsoft Teams terhapus, bisnis bisa tetap mendapatkan salinan datanya kembali melalui sistem Backup.

4. Ancaman External Bisnis

(Source: undefined undifined from Getty Images Pro)

Bencana alam hingga serangan siber, pastinya telah menjadi bayang-bayang bisnis ketika menjalani sistem hybrid working. Bagaimana tidak, dengan bekerja dari mana saja, ancaman bisa lebih mudah menghampiri. Apalagi bila bisnis Anda tidak memiliki sistem keamanan data yang optimal. Tentunya ini akan berisiko tidak hanya bagi satu atau dua pengguna, tetapi juga untuk seluruh operasional bisnis.

Maka dari itu, memiliki strategi perlindungan data seperti Backup bisa menjadi solusinya. Selain bertujuan untuk menyalin data Microsoft Teams bisnis Anda, Backup juga berfungsi untuk meminimalisir kerugian akibat hilangnya data atau sistem mengalami yang downtime.

Itulah beberapa alasan mengapa Anda perlu menerapkan strategi Backup pada Microsoft Teams. Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait solusi Backup pada layanan Microsoft 365, Anda bisa menghubungi tim kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

Backup Data Microsoft 365 Bisnis dengan Arupa Backup 365

Backup data microsoft 365Backup Data Microsoft 365 Bisnis dengan Arupa Backup 365

Saat bekerja, bencana maupun kesalahan memang tidak dapat dihindari. Baik itu human error, bencana alam, atau ancaman siber, kerap kali datang di waktu yang tak terduga dan mengganggu keberlangsungan bisnis. Apalagi jika beberapa masalah tadi mengancam data bisnis Anda di Microsoft 365, hal ini tentu akan menghambat tidak hanya operasional perusahaan, tetapi juga layanan bisnis dan konsumen.

Maka dari itu, mengimplementasikan solusi pencadangan data sangat penting untuk dilakukan oleh perusahaan, terutama bagi bisnis yang menggunakan sistem dan layanan kolaboratif seperti Microsoft 365. Hal ini dilakukan mengingat layanan ini memiliki Shared Responsibility Model antara Microsoft sebagai penyedia layanan dan pelanggan sebagai pengguna layanan. Lalu, apa artinya ini?

backup data microsoft 365

Seperti diagram di atas, Rhipe mendefinisikan Microsoft sebagai penyedia layanan, bertanggung jawab pada infrastruktur dan menjaga agar layanannya dapat berjalan dengan baik. Di samping infrastruktur, penyedia layanan tersebut pun hanya melakukan replikasi data dan bukan mencadangkan data, menjaga keamanan infrastruktur, serta kerahasiaan data sesuai dengan standar sertifikasi internasional.

Sementara itu, pelanggan sebagai pemilik didefinisikan bertanggung jawab dalam melakukan akses dan kontrol pada data mereka seperti: pencadangan data, penyimpanan data, keamanan data dari ancaman siber, serta kerahasiaan data sesuai standar dari masing-masing pelanggan. Itulah sebabnya strategi pencadangan data menjadi hal yang perlu dipersiapkan oleh pelanggan itu sendiri.

Namun, Anda tidak perlu khawatir karena solusi seperti Arupa Backup 365 (AB365) bisa menjadi pilihan untuk mengatasi tantangan ini. Dengan memanfaatkan teknologi dari Veeam Backup Microsoft 365, AB365 mampu menghadirkan pengalaman pencadangan data yang lebih cepat dan sederhana. Berbagai keuntungan juga dapat dirasakan oleh bisnis karena solusi yang satu ini. Penasaran apa saja? Simak selengkapnya berikut ini:

1. Jaminan SLA 99.9%

backup data microsoft 365

(Sumber: Maksim Labkouski dari Getty Images)

Kehilangan data di berbagai layanan Microsoft 365 memang bisa berdampak buruk. Apalagi bila file yang hilang memuat data penting seperti hasil penjualan, database klien, hingga rencana besar perusahaan. Ancaman ini pastinya akan menggoyahkan kelangsungan bisnis bila terjadi.

Tapi Anda tidak perlu khawatir apabila data di layanan tersebut hilang karena bencana maupun human error, sebab AB365 siap mencadangkan data penting Anda dengan jaminan uptime 99,9%. Tak hanya itu, Anda juga bisa menjadwalkan pencadangan data secara rutin per-hari, per-minggu, maupun per-bulan sesuai kebutuhan bisnis Anda. Sehingga, ini akan meminimalisir kehilangan data hingga yang terbaru.

2. Kemudahan Tanpa Batas

backup data microsoft 365

(Sumber: Natali_Mis dari Getty Images)

Saat mengimplementasikan strategi pencadangan data, ada baiknya bagi perusahaan untuk melakukan proses setup dan konfigurasi backup. Sebab dengan dua hal mendasar ini, Anda mampu mengoperasikan pencadangan data secara optimal.

AB365 menawarkan kemudahan proses tersebut untuk layanan Microsoft 365. Tidak perlu lagi waktu berjam-jam bahkan hingga seharian penuh untuk mengkonfigurasikannya, cukup dengan waktu singkat, solusi tersebut siap Anda gunakan.

3. Aman dan Bersertifikasi

(Sumber: Urupong dari Getty Images Pro)

Apabila Anda berencana mengimplementasikan strategi pencadangan data, usahakan agar Anda menentukan solusinya dengan melihat lokasi data center. Sebab dengan menggunakan data center lokal, data bisnis maupun perusahaan akan terjaga dengan aman bersama penyedia layanan cloud.

AB365 menggunakan infrastruktur data center Zettagrid Indonesia yang berlokasi di Jakarta dan Cibitung serta telah dilengkapi dengan sertifikasi ISO9001, ISO27001, dan PCI DSS. Sehingga ini akan melengkapi keamanan data maupun perusahaan yang tersimpan oleh infrastruktur cloud Zettagrid Indonesia.

4. Infrastruktur yang High Availability

(Sumber: monsitj dari Getty Images Pro)

Di samping keamanannya, solusi backup ini juga memiliki data center yang berlokasi di Indonesia serta berkonsep High Availability dan Redundant Power. Dengan demikian ini akan meminimalisir risiko downtime. Tak hanya itu, tim dan layanan support pun siap sedia melayani Anda selama 24 jam dalam seminggu. Sehingga ini akan membantu apabila bisnis Anda membutuhkan bantuan support untuk backup data Microsoft 365.

Ingin tahu lebih lanjut tentang A365 sebagai #SolusiYangPasti? Anda bisa mulai membaca produk selengkapnya di sini. Jika Anda memiliki pertanyaan terkait solusi kami, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

 

3 Penyebab Kehilangan Data di Office 365

3 Penyebab Kehilangan Data di Office 3653 Penyebab Kehilangan Data di Office 365

Siapa yang tidak kenal dengan cloud Software as a Service (SaaS)? Di era perkembangan teknologi saat ini, cloud SaaS menjadi teknologi yang sangat umum digunakan untuk kebutuhan organisasi. Jika di masa lalu setiap komputer memiliki drive disk dan meng-install perangkat lunak baru untuk kebutuhan bekerja, maka saat ini SaaS hadir dan menggantikan cara konvensional tersebut. Dengan biaya yang lebih terjangkau, konfigurasi yang cepat, skalabilitas, dan fleksibilitas, SaaS menjadi salah satu infrastruktur yang praktis digunakan untuk organisasi.

Salah satu cloud SaaS yang cukup populer hingga hari ini adalah Office 365. Layanan ini merupakan sebuah produk dari Microsoft yang dibuat untuk mengefisiensikan dan meningkatkan produktivitas organisasi. Selain itu, layanan ini juga menyediakan beragam fitur lain, seperti email, aplikasi cloud, hingga file sharing yang dapat memudahkan pengguna dalam melakukan kolaborasi kerja.

Dilihat dari fungsi dan fiturnya, layanan Office 365 memang menawarkan layanan yang efektif dan fleksibel. Namun bukan berarti data bisnis dapat tetap aman tersimpan pada layanan satu ini. Menurut iland.com, Microsoft menyediakan beberapa proteksi mendasar untuk menjaga data Anda, tapi jika terjadi kehilangan data, layanan tersebut tidak menyediakan Backup untuk mengembalikan data yang hilang. Padahal jika melihat penelitian Veeam, 81 persen dari seribu pekerja IT professional mengalami kehilangan data di Office 365.

Lalu, apa saja yang bisa menjadi penyebab kehilangan data di Office 365? Simak selengkapnya di bawah ini:

1. Human Error

3 Penyebab Kehilangan Data di Office 365

(Sumber: shironosov from Getty Images)

Pernahkah Anda atau karyawan menghapus salah satu data bisnis secara tidak sengaja? Atau apakah Anda pernah menghapus data bisnis, padahal sebenarnya Anda masih membutuhkan data tersebut di masa yang akan datang?

Jika Anda masih memiliki Backup data, pastinya histori data dan kelangsungan bisnis masih bisa diselamatkan. Tapi, bagaimana jika bisnis Anda tidak memiliki Backup data? Pastinya Anda atau bahkan manajemen akan repot melacak kembali histori data bisnis, terlebih jika data yang terhapus adalah data penjualan, ini pasti akan mengganggu kelangsungan bisnis Anda.

Begitu pula jika salah satu data bisnis di layanan Office 365 terhapus secara tidak sengaja. Ini tidak hanya akan membuat Anda kelam-kabut, tetapi organisasi juga akan ripuh karena layanan ini tidak memiliki Backup. Oleh sebab itu, Backup menjadi sangat penting untuk dimiliki oleh layanan Office 365 organisasi Anda untuk meminimalisir risiko kehilangan data.

2. Virus atau Malware

3 Penyebab Kehilangan Data di Office 365

(Sumber: stevanovicigor from Getty Images)

Pekerjaan bisnis rutin mengandalkan perangkat digital? Jika iya, maka Anda perlu berhati-hati sebab perangkat digital tidak terlepas dari virus, malware, atau beragam pencurian data lainnya. Coba bayangkan, saat Anda tengah bekerja tiba-tiba komputer Anda tidak bisa dioperasikan dan di layar monitor hanya muncul gambar seperti di bawah ini.

Anda pasti akan panik, terlebih ketika data bisnis tidak dapat diakses atau menghilang. Tentu ini tidak hanya akan membuat Anda cemas, tetapi satu organisasi juga repot dibuatnya. Begitu pula jika malware ikut menginfeksi data di Office 365 Anda. Meskipun layanan tersebut memiliki fitur keamanan untuk menyangkal malware, tapi fitur tersebut tidak mampu mendeteksi setiap infeksi yang bisa diakibatkan malware ataupun virus.

3. Overwritten Data

data office 365

(Sumber: Pashalgnatov from Getty Images)

Meski Office 365 menawarkan manajemen layanan yang lebih mudah dan regulasi keamanan data, tapi keduanya tidak cukup untuk melindungi bisnis dari risiko overwritten data. Kehilangan data di Office 365 bisa saja terjadi ketika Anda secara sengaja maupun tidak, mengganti data yang valid dengan yang tidak valid (overwritten data). Jika sudah begini, bisakah Anda tetap menjamin kelangsungan bisnis Anda?

Maka dari itu, sebuah solusi pun diperlukan untuk memitigasi risiko kehilangan data akibat overwritten data. Dengan strategi keamanan yang tepat, bisnis bisa lebih meminimalisir skenario terburuk dari hilangnya data bisnis di Office 365.

Itulah beberapa hal yang bisa menyebabkan kehilangan data di Office 365 Anda. Dengan melihat beberapa kasus tadi, Anda pasti tahu kan apa #SolusiYangPasti untuk bisnis Anda? Tapi jika belum, nantikan kami selanjutnya di #SolusiYangPasti berikutnya.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang solusi cloud kami, hubungi kami di sini atau ke sales@arupa.id.

3 Risks of Not Having Disaster Recovery Solution

disaster recovery solution

3 Risks of Not Having Disaster Recovery Solution

As business evolved from time to time, data becomes the most important aspect that needs to be kept by enterprise. With business relies on sales and marketing documents, product data, applications, and existing data to function, enterprise would know where they had to direct their business in an exact way. Therefore, critical data played a key role in driving business development, and in some way, it should be saved in a secure infrastructure.

However, save and secure business-critical data only on its local infrastructure is not enough to ensure it is safe. The world is unpredictable and disaster could strike at any time. The enterprise may buy insurance to protect their business against losses, but insurance can’t replace error local infrastructure that contains business valuable data and the key applications. That’s why enterprise must plan ahead to restore data when disasters occur. One of the solutions is by using the Disaster Recovery.

According to techtarget.com, Disaster Recovery solution is an area of security planning that aims to protect an organization from the effects of significant negative events. Having a Disaster Recovery solution in place enables organization to maintain or quickly resume mission-critical functions following a disruption. But, regardless of natural disasters, what are the risks that can come up if there’s no Disaster Recovery solution? Read them below here:

1. Hardware Failure

disaster recovery solution

Sumber: Prostock from Freepik

Depending on local infrastructure may be the option to optimize business operations and services. However, this solution is not the best option for business continuity. IT downtime caused by power outages or even hardware failure can happen and affect business to an overwhelmed situation. While an enterprise can take steps to protect its hardware with cooling systems, power surge protectors, and other infrastructure, it will take a lot of resources of IT department and cost for business.

Disaster Recovery solution is designed to be a solution for this risk. By using cloud-based or off-site storage, it can add additional protections as it is unlikely both locations will be struck at the same time. That’s why, Business Disaster Recovery plan should include to these steps, to ward off the potential data loss that could occur.

2. Human Errors

Sumber: PR Image Factory from Canva

No one is perfect apparently is not a slogan only. It can also occur to enterprises and their employees. Forgetting to save changes, accidentally deleting an important document, or flipping the wrong switch could lead to a significant loss for the company. Training programs may help enterprise and employee to reduce errors, however, it is not effective and takes a lot of energy and cost for your business. Therefore, the Disaster Recovery solution is needed to protect the business against data loss caused by this risk.

Having multiple backups can be the best choice for business. Instead of deleting the last data backup when business makes a new one, it would be better to keep older backups on hand. So, if any human error occurs and affects potential loss for critical business data, Disaster Recovery can be used to restore the backups. That’s why Disaster Recovery solution can be the option to this risk.

3. Cyber Crimes

disaster recovery

Sumber: Azret Ayubrov from Getty Images Pro

Although data is a valuable component of running a business, it is open to a number of threats that can lead to data leaks and data loss. These may be caused by physical device damage, technical threats, or even human threats like cybercrimes such as malware and ransomware. Even though enterprise has ways to protect against many of these, any vulnerability of local IT infrastructure could put business data to a loss if those risks occur.

Therefore, a Disaster Recovery solution should be taken by enterprise to keep and protect their business continuity. By include Disaster Recovery solution to recover critical data from hacking attempts, critical data will still be safe and accessible for business. So, enterprise doesn’t have to worry more about data loss that caused by a cyber attack.


Zettagrid Indonesia is one of the cloud computing service providers of Infrastructure as a Service (IaaS) that offers Virtual Server, Virtual Datacenter, Backup as a Service (BaaS), and Disaster Recovery as a Service (DRaaS). If you have any further questions about Cloud Computing solutions, you can contact us here or by sales@zettagrid.id.