Pos

Datacenter Virtual vs Public Cloud: Infrastruktur Mana yang Tepat untuk Bisnis Anda?

Perbandingan Datacenter Virtual vs Public Cloud Zettagrid

Ketika merencanakan migrasi ke cloud, banyak organisasi langsung membandingkan Virtual Datacenter dan Public Cloud. Keduanya sama-sama menawarkan fleksibilitas infrastruktur, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal kontrol, performa, biaya, serta kepatuhan. Memahami perbedaan ini menjadi langkah penting sebelum menentukan strategi cloud jangka panjang.

Hampir semua organisasi hari ini mempertimbangkan langkah ke cloud, namun tidak semua beban kerja (workload) punya kebutuhan yang sama. Memilih platform yang kurang tepat dapat berujung pada biaya yang membengkak, performa yang tidak konsisten, celah keamanan, tantangan kepatuhan, dan kompleksitas operasional yang menunda target bisnis.

Artikel ini membandingkan Virtual Datacenter dan Public Cloud secara objektif untuk membantu CIO, CTO, IT Manager, dan pemangku kepentingan lain menentukan jalur yang paling cocok berdasarkan karakteristik workload dan kebutuhan organisasi.

Apa itu Virtual Datacenter?

Virtual Datacenter (VDC) adalah lingkungan infrastruktur yang dioperasikan sebagai kumpulan resource virtual compute, storage, dan networking yang disediakan dalam lingkungan yang terisolasi dan sering kali dedicated untuk satu organisasi. VDC biasanya dibangun di atas platform virtualisasi dan infrastruktur fisik yang dikelola oleh tim internal perusahaan, colocation provider, atau penyedia managed VDC.

Cara kerja singkat:

  • Virtualisasi resource: Server fisik dibagi menjadi beberapa mesin virtual (VM) atau container menggunakan hypervisor. Penyimpanan juga dibuat virtual (misalnya SAN, NAS, atau Virtual SAN), sementara jaringan dipisahkan menggunakan teknologi seperti VLAN, VXLAN, atau Software-Defined Networking (SDN).
  • Dedicated environment: resource dapat dialokasikan khusus (reserved) untuk satu organisasi atau aplikasi, sehingga memberikan isolasi yang lebih baik dari tenant lain.
  • Kontrol: Administrator memiliki kendali lebih besar atas konfigurasi infrastruktur, mulai dari hardware, firmware, topologi jaringan, hingga kebijakan keamanan.

Analogi: bayangkan VDC seperti gedung perkantoran yang Anda sewa secara penuh, lantai, listrik, dan akses dipakai secara eksklusif oleh perusahaan Anda, sehingga Anda bisa mengatur tata ruang dan keamanan sesuai kebutuhan.

 

Apa itu Public Cloud?

Public Cloud adalah model layanan di mana provider menyediakan infrastruktur komputasi yang multi-tenant; resource (CPU, storage, network) dibagi antara banyak pelanggan dan disediakan secara elastis dengan model pay-as-you-go. Layanan public cloud juga menawarkan banyak managed services, database terkelola, analytics, AI/ML, dan identity services yang dapat dipanggil lewat API.

Ciri utama:

  • Shared infrastructure: Infrastruktur digunakan bersama oleh banyak pelanggan, tetapi setiap pengguna tetap dipisahkan secara logis sehingga data dan aplikasinya tetap aman.
  • Elastic resources: Kapasitas resource dapat bertambah atau berkurang secara otomatis (autoscaling) mengikuti perubahan beban kerja.
  • Provisioning cepat: resource baru dapat disediakan hanya dalam hitungan detik hingga menit.
  • Model billing: Biaya dihitung berdasarkan penggunaan (pay-as-you-go), dengan pilihan paket reserved atau committed use untuk mendapatkan harga yang lebih hemat.

 

Perbedaan Virtual Datacenter vs Public Cloud

 

Virtual Datacenter (VDC)

  • Model Infrastruktur: Infrastruktur dedicated yang dikelola penyedia layanan.
  • Resource: Resource dapat dialokasikan dan dijamin sesuai kebutuhan.
  • Isolasi: Isolasi fisik atau virtual yang lebih kuat.
  • Skalabilitas: Dapat ditingkatkan, tetapi bergantung pada kapasitas fisik yang tersedia.
  • Performa: Lebih konsisten dan dapat dioptimalkan untuk workload tertentu.
  • Fleksibilitas: Memberikan kontrol dan kustomisasi hardware maupun sistem operasi yang lebih luas.
  • Keamanan: Kontrol lebih besar terhadap kebijakan keamanan.
  • Kepatuhan (Compliance): Lebih mudah memenuhi regulasi lokal dan kebutuhan kepatuhan tertentu.
  • Kontrol Infrastruktur: Tinggi, termasuk konfigurasi jaringan dan resource.
  • Biaya: Umumnya lebih stabil dan mudah diprediksi.
  • Model Billing: Biasanya menggunakan kontrak atau biaya tetap untuk resource yang dialokasikan.
  • Kompleksitas: Membutuhkan pengelolaan kapasitas dan operasional infrastruktur.
  • Kustomisasi: Tinggi, termasuk konfigurasi hardware dan software.
  • Disaster Recovery: Perlu dirancang dan dikonfigurasi secara khusus.
  • Workload yang Cocok: Aplikasi mission-critical, sistem legacy, dan workload yang memiliki persyaratan regulasi tinggi.

 

Public Cloud

  • Model Infrastruktur: Infrastruktur bersama (multi-tenant) yang dikelola penyedia cloud.
  • Resource: Resource bersifat elastis dan tersedia sesuai permintaan (on-demand).
  • Isolasi: Isolasi dilakukan secara logis antartenant.
  • Skalabilitas: Sangat mudah ditingkatkan atau dikurangi sesuai kebutuhan.
  • Performa: Performa dapat bervariasi, tetapi tersedia instance berperforma tinggi.
  • Fleksibilitas: Memudahkan penggunaan layanan baru, tetapi mengikuti standar dari penyedia cloud.
  • Keamanan: Menggunakan model keamanan bersama (shared responsibility), dengan dukungan keamanan dari penyedia cloud.
  • Kepatuhan (Compliance): Menyediakan banyak fitur kepatuhan, tetapi lokasi penyimpanan data perlu diperhatikan.
  • Kontrol Infrastruktur: Lebih terbatas karena sebagian besar infrastruktur dikelola oleh penyedia cloud.
  • Biaya: Menggunakan sistem pay-as-you-go, biaya dapat berubah sesuai penggunaan.
  • Model Billing: Berdasarkan penggunaan aktual (usage-based) dengan perhitungan yang lebih rinci.
  • Kompleksitas: Membutuhkan pemahaman cloud-native serta pengelolaan biaya (cost governance).
  • Kustomisasi: Tinggi untuk software, tetapi lebih terbatas untuk hardware.
  • Disaster Recovery: Menyediakan berbagai layanan Disaster Recovery yang siap digunakan.
  • Workload yang Cocok: Aplikasi web, analitik, pengembangan dan pengujian (dev/test), AI, serta workload dengan kebutuhan yang berubah-ubah.

 

Penjelasan Poin Penting

Skalabilitas vs Prediktabilitas

  • Virtual Datacenter (VDC): Lebih cocok untuk workload yang stabil karena menawarkan performa yang konsisten dan biaya yang lebih mudah diprediksi.
  • Public Cloud: Unggul dalam menambah atau mengurangi resource secara instan sesuai kebutuhan.

Kontrol vs Kecepatan

  • Virtual Datacenter (VDC): Memberikan kontrol yang lebih besar terhadap infrastruktur, konfigurasi, dan kepatuhan data.
  • Public Cloud: Memungkinkan deployment layanan baru lebih cepat dengan dukungan berbagai managed services.

Total Cost of Ownership (TCO)

  • Virtual Datacenter (VDC): Lebih ekonomis untuk workload besar yang berjalan secara konsisten dalam jangka panjang.
  • Public Cloud: Lebih hemat untuk workload yang naik turun, asalkan penggunaan resource dikelola dengan baik.

 

Mana yang Lebih Efisien dari Sisi Biaya?

Biaya tidak hanya ditentukan oleh harga awal layanan. Enterprise juga perlu mempertimbangkan biaya operasional, transfer data, lisensi, kapasitas yang tidak terpakai, serta kebutuhan pengelolaan infrastruktur. Untuk workload yang stabil dalam jangka panjang, Virtual Datacenter sering kali memberikan biaya yang lebih mudah diprediksi. Sebaliknya, Public Cloud lebih ekonomis untuk workload yang berubah-ubah karena menggunakan model pay-as-you-go.

Kelebihan Virtual Data Center

  • Resource dedicated: Resource dialokasikan khusus untuk performa yang stabil dan terisolasi.
  • Performa konsisten: latensi dan IOPS lebih stabil, cocok untuk database dan aplikasi real-time.
  • Kontrol lebih tinggi: kendali lebih besar atas hardware, jaringan, dan kebijakan keamanan.
  • Mudah memenuhi compliance: memudahkan pemenuhan regulasi dan proses audit.
  • Cocok untuk aplikasi enterprise: ideal untuk ERP, SAP, database besar, dan sistem SCADA.
  • Mendukung aplikasi legacy: migrasi lebih mudah tanpa perlu mengubah arsitektur aplikasi.
  • Biaya lebih terprediksi: memudahkan perencanaan anggaran jangka panjang.
  • Isolasi tenant lebih baik: mengurangi risiko gangguan dari tenant lain.
  • Migrasi virtualisasi lebih mudah: cocok bagi organisasi yang sudah menggunakan VMware atau Hyper-V.

Kekurangan Virtual Data Center

  • Skalabilitas lebih terbatas: Penambahan kapasitas biasanya memerlukan koordinasi dengan penyedia layanan.
  • Biaya awal lebih tinggi: Umumnya memerlukan investasi awal atau kontrak jangka panjang.
  • Managed services lebih terbatas: Beberapa layanan, seperti backup, monitoring, atau middleware, mungkin perlu dikelola sendiri.
  • Perlu perencanaan kapasitas: Alokasi resource yang berlebihan dapat meningkatkan biaya secara tidak efisien.

Kelebihan Public Cloud

  • Provisioning cepat: infrastruktur dan layanan dapat digunakan dalam hitungan menit.
  • Skalabilitas tinggi: Resource dapat bertambah atau berkurang secara otomatis sesuai kebutuhan.
  • Banyak managed services: tersedia berbagai layanan siap pakai, seperti database, analitik, AI, dan data pipeline.
  • Cocok untuk berbagai kebutuhan: ideal untuk startup, aplikasi SaaS, web, mobile, maupun proyek uji coba.
  • Mendukung AI dan Big Data: menyediakan layanan AI dan machine learning yang memudahkan pengembangan serta uji coba solusi.
  • Jangkauan global: memiliki banyak region, availability zone, dan CDN untuk mendukung aplikasi di berbagai lokasi.
  • Mendukung DevOps dan cloud-native: memudahkan penggunaan container, Infrastructure as Code (IaC), dan CI/CD untuk pengembangan aplikasi modern.

Kekurangan Public Cloud

  • Biaya sulit diprediksi: Tanpa pengelolaan yang baik, tagihan dapat meningkat karena penggunaan resource yang tidak terkontrol.
  • Risiko overprovisioning: Resource yang tidak digunakan secara optimal tetap dapat menimbulkan biaya.
  • Vendor lock-in: Penggunaan layanan khusus dari penyedia cloud dapat menyulitkan proses migrasi ke platform lain.
  • Tantangan compliance: Perlu memastikan lokasi penyimpanan data, proses audit, dan konfigurasi keamanan sesuai regulasi.
  • Infrastruktur bersama: Meskipun aman, sebagian organisasi masih memiliki kekhawatiran terkait isolasi fisik antar pengguna.
  • Biaya data egress: Transfer data ke luar cloud atau antar region dapat menambah biaya.
  • Model billing kompleks: Banyaknya pilihan layanan dan skema harga memerlukan pengelolaan agar biaya tetap efisien.

 

Mana yang Lebih Cocok untuk Enterprise?

Tidak ada jawaban yang berlaku untuk semua organisasi. Enterprise dengan kebutuhan kepatuhan tinggi, performa stabil, dan kontrol infrastruktur biasanya lebih cocok menggunakan Virtual Datacenter. Sebaliknya, organisasi yang membutuhkan skalabilitas cepat, inovasi layanan, atau pengembangan aplikasi cloud-native sering kali memperoleh manfaat lebih besar dari Public Cloud. Banyak perusahaan akhirnya memilih pendekatan hybrid cloud agar dapat memanfaatkan keunggulan keduanya.

 

Kapan Sebaiknya Memilih Virtual Datacenter?

Contoh kasus:

  • ERP dan database besar: Cocok untuk sistem seperti SAP HANA atau Oracle yang membutuhkan latensi rendah dan performa penyimpanan (IOPS) tinggi.
  • Sektor kesehatan dan keuangan: Ideal untuk organisasi yang harus memenuhi persyaratan kepatuhan dan audit yang ketat.
  • Manufaktur dan telekomunikasi: Sesuai untuk kebutuhan kontrol jaringan dan integrasi dengan sistem SCADA atau Operational Technology (OT).
  • Aplikasi mission-critical dan legacy: Tepat untuk aplikasi penting yang sulit dimodernisasi atau diubah arsitekturnya.
  • Pemerintahan dan sektor publik: Cocok bagi organisasi yang harus mematuhi aturan penyimpanan data (data residency) yang ketat.

Kapan Public Cloud Menjadi Pilihan Tepat?

Contoh:

  • Startup dan SaaS: Cocok untuk peluncuran aplikasi yang cepat.
  • Website dan aplikasi: Ideal untuk traffic yang berubah-ubah.
  • Development dan testing: Mendukung proses pengembangan, pengujian, dan CI/CD.
  • AI dan Big Data: Menyediakan resource sesuai kebutuhan untuk AI, machine learning, dan analitik.
  • Workload musiman: Tepat untuk kebutuhan yang meningkat pada periode tertentu, seperti promo e-commerce.
  • Deployment global: Memudahkan distribusi aplikasi ke berbagai region di seluruh dunia.

Faktor yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memilih

  • Anggaran: Pertimbangkan biaya awal (CapEx), biaya operasional (OpEx), serta kestabilan biaya.
  • Compliance: Pastikan memenuhi regulasi industri dan aturan lokasi penyimpanan data.
  • Lokasi data: Sesuaikan dengan kebutuhan latensi dan ketentuan penyimpanan data.
  • SLA dan availability: Tentukan target waktu pemulihan (RTO) dan kehilangan data yang dapat ditoleransi (RPO).
  • Skalabilitas: Pertimbangkan kebutuhan pertumbuhan dan lonjakan penggunaan.
  • Infrastruktur yang ada: Sesuaikan dengan investasi virtualisasi, kontrak, dan kemampuan tim.
  • Disaster Recovery: Pastikan tersedia replikasi data, rencana pemulihan, dan failover.
  • Keamanan: Perhatikan enkripsi, logging, dan pembagian tanggung jawab keamanan.
  • Kebutuhan performa: Sesuaikan dengan kebutuhan IOPS, latensi, dan throughput.
  • Kemampuan tim: Pertimbangkan keahlian operasional dan cloud-native yang dimiliki.
  • Integrasi sistem: Pastikan kompatibel dengan sistem lama dan ketergantungan pada vendor.

Apakah Hybrid Cloud Menjadi Jalan Tengah?

Banyak organisasi memilih arsitektur hybrid, menggabungkan VDC (atau private cloud) dengan public cloud. Pendekatan ini memungkinkan:

  • Workload placement: Jalankan aplikasi penting di VDC, sementara beban kerja yang berubah-ubah atau analitik di Public Cloud.
  • Cloud bursting: Gunakan kapasitas tambahan dari Public Cloud saat dibutuhkan tanpa harus menambah kapasitas lokal.
  • Backup & Disaster Recovery: Simpan salinan data di Public Cloud agar proses pemulihan lebih cepat saat terjadi gangguan.
  • Hybrid architecture: Hubungkan VDC dan Public Cloud melalui jaringan, identitas pengguna, dan alat orkestrasi yang terintegrasi.

Praktik terbaik: Kelompokkan workload sesuai kebutuhannya, petakan alur data, dan gunakan otomatisasi untuk mengelola lingkungan multi-cloud serta mengoptimalkan biaya cloud.

 

Kesimpulan

Virtual Datacenter dan Public Cloud masing-masing punya kekuatan dan batasannya. VDC unggul pada kontrol, performa konsisten, dan kepatuhan; Public Cloud unggul pada agility, skalabilitas, dan ekosistem layanan. Pilihan terbaik bergantung pada karakteristik workload, regulasi, target bisnis, anggaran, dan kemampuan operasional. Tidak ada satu solusi yang selalu paling baik, keputusan harus berbasis analisis kebutuhan bisnis, bukan sekadar hype.

 

Masih belum yakin memilih Virtual Datacenter atau Public Cloud?

Jika Anda ingin mengevaluasi kebutuhan bisnis, konsultasikan dengan Zettagrid untuk mendapatkan rekomendasi yang tepat berdasarkan target operasional dan recovery organisasi. Hubungi Zettagrid di marketing@zettagrid.id atau WhatsApp +62 811–9688–835 sekarang juga.

 

FAQ

  1. Apa perbedaan utama Virtual Datacenter dan Public Cloud?
    Virtual Datacenter menyediakan resource yang lebih dedicated dan kontrol infrastruktur yang lebih besar; Public Cloud menawarkan elastisitas, provisioning cepat, dan banyak managed services. Pilihan tergantung pada kebutuhan kontrol vs agility.
  2. Apakah Virtual Datacenter lebih aman dibandingkan dengan Public Cloud?
    Keamanan tergantung pada desain. VDC memberi kontrol fisik dan isolasi yang lebih besar, tetapi public cloud provider besar berinvestasi secara signifikan pada security tooling. Kepatuhan dan governance jadi faktor penentu.
  3. Kapan bisnis sebaiknya memilih Virtual Datacenter?
    Pilih VDC untuk aplikasi mission-critical, data sensitif, workload latensi rendah, atau jika regulasi mengharuskan kontrol lokasi fisik dan audit lebih ketat.
  4. Bisakah Virtual Datacenter dikombinasikan dengan Public Cloud?
    Ya. Hybrid cloud umum diterapkan: VDC untuk beban kerja kritikal dan public cloud untuk burst, analytics, atau dev/test—memaksimalkan keuntungan keduanya.

Apa Itu Infrastructure as a Service (IaaS) dan Siapa Penyedia Terbaiknya di Indonesia?

Dalam era digital yang semakin kompetitif, kebutuhan akan infrastruktur TI yang fleksibel, scalable, dan hemat biaya semakin meningkat. Salah satu solusi yang banyak digunakan oleh perusahaan saat ini adalah Infrastructure as a Service (IaaS).

Namun, sebelum memilih penyedia layanan, penting untuk memahami apa itu IaaS, keuntungannya, dan siapa saja penyedia terbaiknya—terutama di pasar Indonesia.

Apa Itu IaaS?

Infrastructure as a Service (IaaS) adalah model layanan cloud di mana pengguna dapat menyewa sumber daya infrastruktur TI seperti server virtual, storage, jaringan, dan sistem operasi, tanpa perlu membeli perangkat keras fisik sendiri.

Dalam model ini, penyedia IaaS bertanggung jawab atas manajemen infrastruktur dasar, sedangkan pengguna memiliki kontrol penuh terhadap sistem operasi, aplikasi, dan data mereka.

Manfaat Menggunakan IaaS

Mengadopsi IaaS memberikan berbagai keuntungan bagi perusahaan dari berbagai skala, antara lain:

  • Fleksibilitas dan Skalabilitas: Tambah atau kurangi sumber daya sesuai kebutuhan bisnis.
  • Penghematan Biaya: Tidak perlu investasi awal untuk hardware atau pemeliharaan.
  • Waktu Implementasi Cepat: Peluncuran sistem baru bisa dilakukan dalam hitungan menit.
  • High Availability dan Disaster Recovery: Infrastruktur disiapkan untuk menghadapi kegagalan sistem.
  • Akses Global atau Lokal: Bisa pilih lokasi data center, baik global maupun domestik.

Bagaimana Memilih Penyedia IaaS di Indonesia?

Memilih penyedia IaaS yang tepat sangat penting, terutama untuk memastikan data tetap aman, biaya tetap terkendali, dan sistem berjalan optimal. Beberapa hal yang patut dipertimbangkan:

1. Lokasi Data Center

Pastikan data Anda disimpan di Indonesia untuk memenuhi regulasi privasi dan mengurangi latensi.

2. Kompatibilitas Teknologi

Penyedia IaaS yang baik seharusnya mendukung berbagai platform virtualisasi umum seperti VMware vSphere, serta memungkinkan integrasi dengan alat orkestrasi seperti Terraform dan Ansible.

3. Ketersediaan API dan Otomatisasi

Infrastruktur modern membutuhkan pendekatan otomatis. Cari penyedia yang mendukung pengelolaan infrastruktur melalui API terbuka dan dokumentasi yang jelas.

4. Dukungan Pengembangan Cloud-Native

Jika Anda mengembangkan aplikasi modern, dukungan terhadap Docker dan Kubernetes akan menjadi nilai tambah yang signifikan.

5. Tim Dukungan Lokal

Memiliki akses ke tim teknis lokal dalam bahasa Indonesia bisa sangat membantu, terutama saat terjadi kendala teknis atau saat membutuhkan konsultasi migrasi.

Solusi IaaS Lokal yang Siap Mendukung Pertumbuhan Bisnis

Di Indonesia, salah satu penyedia IaaS yang sudah dikenal luas adalah Zettagrid Indonesia. Dengan pendekatan berbasis VMware yang stabil dan teruji, layanan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan perusahaan yang mencari solusi infrastruktur TI yang tangguh dan mudah diintegrasikan.

Beberapa fitur yang ditawarkan antara lain:

  • Infrastruktur virtual yang kompatibel dengan lingkungan enterprise seperti vSphere
  • Lokasi data center di Jakarta dan Cibitung, mendukung kepatuhan regulasi dan kebutuhan latency rendah
  • Proses migrasi sistem yang didampingi, dengan pendekatan minim downtime
  • Integrasi dengan berbagai alat modern seperti Terraform, Ansible, Kubernetes, dan Docker
  • Tim dukungan teknis lokal, tersedia 24/7 dengan komunikasi dalam Bahasa Indonesia
  • Penagihan dalam mata uang Rupiah, tanpa fluktuasi nilai tukar asing

Bagi perusahaan yang tengah menjalani transformasi digital—baik dari sisi modernisasi aplikasi, efisiensi operasional, maupun strategi multicloud—solusi seperti ini bisa menjadi fondasi yang kuat dan terjangkau, dengan keunggulan lokal yang tidak selalu dimiliki oleh penyedia global.

Ingin tahu bagaimana IaaS bisa membantu efisiensi TI di perusahaan Anda?
Konsultasikan kebutuhan Anda dengan tim teknis Zettagrid Indonesia — gratis dan tanpa komitmen. Hubungi kami sekarang!

Cara Membangun & Memilih Penyedia Infrastruktur IT yang Berkualitas

membangun dan mengelola infrastruktur it

Untuk menjaga keberlanjutan sekaligus keberhasilan dalam bisnis di era digital, tentunya pemilihan infrastruktur teknologi informasi atau infrastruktur IT yang berkualitas menjadi salah satu faktor utama. Mengapa hal ini menjadi sebuah kunci utama dan tidak boleh terlewatkan? 

Bagi sebuah perusahaan, organisasi, bahkan individu sekalipun yang bergerak dalam bidang teknologi yang kompleks, memilih serta membangun infrastruktur IT yang tepat menjadi sebuah perbedaan besar dalam efisiensi operasional, bahkan bisa menunjang keamanan data dan keseluruhan kinerja sistem. Namun, bagaimana cara memilih serta membangun infrastruktur yang berkualitas dan tepat? Dalam artikel ini, Anda akan mengetahui bagaimana cara memilih serta membangun infrastruktur yang berkualitas bagi sebuah perusahaan.

Cara Membangun Infrastruktur IT yang Berkualitas

1. Analisis Kebutuhan

Cara membangun infrastruktur yang pertama adalah dengan melakukan analisis tentang kebutuhan infrastruktur IT perusahaan Anda, contohnya dengan mempertimbangkan pertumbuhan perusahaan di masa yang akan datang, pengguna yang diharapkan, jenis layanan yang diberikan, serta persyaratan keamanan perusahaan.

2. Pilih Infrastruktur IT berbasis Cloud

Coba untuk mempertimbangkan memilih infrastruktur IT berbasis cloud computing karena lebih fleksibel dengan biaya yang efisien, Anda juga hanya perlu memilih penyedia layanan cloud yang terpercaya untuk mendapatkan keunggulan infrastruktur terbaik bagi perusahaan. 

3. Keamanan Data

Dalam membangun infrastruktur yang berkualitas dan terpercaya, Anda juga perlu membangun prioritas keamanan data, pastikan penyedia infrastruktur yang Anda pilih memiliki sistem keamanan data yang canggih, termasuk enkripsi data, firewall, dan juga memiliki akses terbatas. Selain itu, keamanan data sistem infrastruktur juga perlu memiliki sistem deteksi ancaman jika terjadi ransomware.

4. Memiliki Skalabilitas yang Tinggi

Infrastruktur yang canggih dan juga unggul umumnya bisa dengan mudah ditingkatkan sesuai kebutuhan perusahaan. Maka dari itu, pastikan penyedia infrastruktur Anda dapat menyediakan ruang untuk pertumbuhan perusahaan atau bisnis tanpa adanya gangguan layanan dari infrastruktur yang digunakan.

5. Memiliki Dukungan Teknis

Anda juga perlu memastikan bahwa penyedia infrastruktur IT menawarkan dukungan teknis yang responsif dan dapat diandalkan, untuk itu Anda perlu memiliki akses ke tim ahli yang bisa membantu Anda mengatasi masalah teknis dengan cepat dan efisien.

Cara Memilih Penyedia Infrastruktur yang Berkualitas

Setelah mengetahui cara membangun infrastruktur yang berkualitas dan bagus bagi perusahaan, Anda juga perlu memilih penyedia infrastruktur IT yang terpercaya dan berkualitas. Untuk memilih infrastruktur IT yang berkualitas dan terpercaya, berikut adalah tips yang perlu Anda terapkan!

1. Reputasi dan Pengalaman

Sebelum memilih penyedia layanan infrastruktur IT mana yang akan Anda gunakan, lakukan riset mendalam terhadap penyedia infrastruktur yang berbeda, periksa reputasi dan pengalaman mereka dalam menyediakan layanan infrastruktur IT. Anda juga bisa melihat ulasan pelanggan untuk mendapatkan referensi.

2. Ketersediaan Layanan

Setelah mengetahui mana penyedia infrastruktur yang terpercaya, langkah selanjutnya adalah pastikan penyedia infrastruktur IT memiliki tingkat ketersediaan layanan yang tinggi, jangan memilih penyedia infrastruktur IT yang memiliki downtime yang berlebih dan pastikan penyedia tersebut menawarkan service level agreement (SLA) untuk garansi tingkat ketersediaan yang baik.

3. Keamanan dan Kepatuhan

Anda perlu mengecek dan bertanya ulang terkait kebijakan keamanan dan kepatuhan penyedia infrastruktur IT, pastikan penyedia memenuhi standar keamanan industri dan aturan perundang-undangan yang sudah berlaku di Indonesia.

4. Skalabilitas

Sama seperti membangun infrastruktur IT, saat memilih penyedia infrastruktur IT juga Anda perlu memastikan bahwa penyedia memiliki kapasitas yang dapat mendukung pertumbuhan bisnis Anda.

5. Harga dan Biaya

Dalam memilih penyedia infrastruktur IT, Anda perlu mempertimbngkan harga dan biaya infrastruktur dengan teliti. Bandingkan harga di antara beberapa penyedia, tetapi jangan terpaku pada biaya yang murah, karena Anda juga perlu melihat bagaimana kualitas serta ketersediaan dari penyedia infrastruktur IT.

6. Kompatibilitas dan Integrasi

Pastikan infrastruktur yang ditawarkan oleh penyedia juga dapat bekerja dengan teknologi yang perusahaan Anda gunakan. Kompatibilitas dan kemampuan untuk mengintegrasikan solusi dengan sistem yang ada adalah faktor penting dalam keberhasilan implementasi infrastruktur IT.

Pilihan untuk membangun dan memilih penyedia infrastruktur IT yang berkualitas merupakan langkah yang cukup krusial bagi kesuksesan bisnis Anda, tetapi hal ini adalah investasi jangka panjang yang akan mempengaruhi kinerja operasional dan keamanan data Anda. Jika, Anda tidak ingin membuang waktu dan energi untuk membangun infrastruktur IT secara mandiri, Anda bisa langsung menyerahkannya ke penyedia infrastruktur IT yang terpercaya seperti Zettagrid Indonesia, sebagai salah satu layanan cloud service lokal, Zettagrid dapat membantu Anda dalam memenuhi kebutuhan IT perusahaan seperti backup, penyedia data center, replication, dan kebutuhan IT lainnya. 

Zettagrid Indonesia yang memiliki aturan kepatuhan ISO 27001, ISO 9001, dan PCI DSS yang dapat melindungi data dan informasi bisnis dengan aman, sehingga Anda tidak perlu khawatir ada kebocoran data lagi. Anda bisa menghubungi sales@zettagrid.id untuk informasi lebih lanjut mengenai solusi IT.

Apa Itu Cloud Computing, Contoh Layanan, Cara Kerjanya

Apa Itu Cloud Computing, Contoh Layanan, Cara Kerjanya

Di era digital yang berkembang pesat, cloud computing atau komputasi awan telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, baik di ranah pribadi maupun profesional. Apa itu cloud computing? Cloud computing adalah konsep pengolahan data berbasis internet yang memungkinkan pengguna mengakses aplikasi, data, serta sumber daya komputasi dari berbagai perangkat yang terhubung ke jaringan internet. Teknologi ini telah mengubah cara individu dan perusahaan mengelola serta menyimpan informasi, menjadikannya solusi efisien dan fleksibel di era digital.

Dengan meningkatnya ketergantungan pada teknologi digital, mengenal cloud computing menjadi penting, khususnya bagi bisnis yang ingin meningkatkan efisiensi dan mengurangi biaya operasional. Komputasi awan memungkinkan pengguna memanfaatkan sumber daya komputasi yang tersedia di internet tanpa harus mengelola infrastruktur fisik yang rumit. Artikel ini membahas lebih dalam tentang cloud computing, contoh layanan yang ditawarkan, cara kerjanya, serta manfaatnya bagi pengguna.

Apa Itu Cloud Computing?

Pengertian cloud computing secara umum merujuk pada pengiriman layanan komputasi, termasuk server, penyimpanan, database, jaringan, perangkat lunak, dan analitik, melalui internet (“cloud”). Dengan kata lain, teknologi ini memungkinkan pengguna untuk menyimpan dan mengakses data secara online tanpa harus memiliki infrastruktur fisik seperti server atau pusat data sendiri.

Apa yang dimaksud dengan cloud computing? Cloud computing adalah model layanan teknologi informasi (TI) yang memberikan akses fleksibel dan on-demand ke sumber daya komputasi tanpa harus membeli dan mengelola perangkat keras sendiri. Dengan sistem ini, bisnis dan individu dapat menikmati manfaat dari berbagai layanan komputasi tanpa harus memikirkan pemeliharaan atau peningkatan perangkat keras.

Teknologi cloud computing memanfaatkan pusat data yang dikelola oleh penyedia layanan cloud untuk menyimpan dan mengelola data pengguna. Data ini dapat diakses kapan saja dan di mana saja melalui koneksi internet, menjadikan cloud computing sebagai solusi yang efisien untuk mendukung berbagai aktivitas digital.

Cloud computing menyediakan beberapa model layanan seperti Infrastructure as a Service (IaaS), Platform as a Service (PaaS), dan Software as a Service (SaaS). Masing-masing model ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan yang berbeda, mulai dari menyediakan infrastruktur komputasi dasar hingga menyediakan platform dan aplikasi perangkat lunak siap pakai. Fleksibilitas ini menjadikan cloud computing sangat populer karena kemampuannya untuk mengurangi biaya dan memberikan kemudahan bagi penggunanya.

Contoh Layanan Cloud Computing

Cloud computing menawarkan berbagai layanan yang memungkinkan penggunanya mengakses sumber daya komputasi sesuai kebutuhan mereka. Berikut adalah tiga kategori utama layanan cloud computing:

  • Software as a Service (SaaS): SaaS adalah model di mana aplikasi perangkat lunak disediakan melalui internet dan dikelola oleh penyedia layanan cloud. Pengguna tidak perlu mengunduh atau menginstal perangkat lunak di perangkat mereka, melainkan dapat mengaksesnya melalui browser web. Dengan model ini, pengguna dapat mengakses berbagai aplikasi, seperti perangkat lunak manajemen proyek, pengolah kata, dan alat kolaborasi online, tanpa memerlukan instalasi lokal.
  • Platform as a Service (PaaS): PaaS adalah layanan yang menyediakan platform komputasi yang memungkinkan pengembang untuk membuat, menguji, dan mengelola aplikasi mereka tanpa perlu mengkhawatirkan infrastruktur di bawahnya. Layanan ini menyediakan lingkungan pengembangan yang mendukung pembuatan aplikasi berbasis cloud, memungkinkan pengembang untuk fokus pada kode dan fungsionalitas aplikasi tanpa perlu menangani pengaturan server atau perangkat keras.
  • Infrastructure as a Service (IaaS): IaaS adalah layanan yang menyediakan akses ke infrastruktur komputasi seperti server, penyimpanan, dan jaringan. Pengguna dapat menyewa mesin virtual, ruang penyimpanan, serta sumber daya jaringan untuk menjalankan aplikasi mereka. Dengan IaaS, bisnis dapat membangun infrastruktur TI yang sesuai dengan kebutuhan tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk membeli dan mengelola perangkat keras sendiri.

Cara Kerja Cloud Computing

Cloud computing bekerja melalui jaringan internet di mana data dan aplikasi pengguna disimpan di pusat data yang dikelola oleh penyedia layanan cloud. Pusat data ini terdiri dari perangkat keras seperti server, penyimpanan, dan jaringan yang diakses oleh pengguna melalui internet. Pengguna tidak perlu memiliki atau mengelola perangkat keras tersebut karena seluruh infrastruktur disediakan oleh penyedia layanan.

Cara kerja cloud computing sangat sederhana dan efektif. Pengguna dapat mengirimkan permintaan untuk mengakses data atau aplikasi mereka di cloud, yang diteruskan melalui internet ke pusat data. Di pusat data, sumber daya yang dibutuhkan dialokasikan sesuai permintaan pengguna, dan mereka dapat mengakses aplikasi atau data dari berbagai perangkat, seperti laptop, tablet, atau ponsel pintar.

Cloud computing juga dilengkapi dengan mekanisme redundansi dan failover yang memastikan ketersediaan dan keandalan layanan. Redundansi mengacu pada penyimpanan data di beberapa lokasi yang berbeda untuk memastikan data tetap aman meskipun ada kegagalan server. Failover adalah mekanisme yang memastikan bahwa layanan tetap berjalan meskipun terjadi kegagalan pada salah satu komponen sistem.

Cara Kerja Cloud Computing

Cloud computing bekerja melalui jaringan internet, yang menghubungkan perangkat pengguna dengan pusat data penyedia layanan cloud. Berikut adalah tahapan utama bagaimana cloud computing beroperasi:

  1. Pengguna Mengakses Layanan Cloud:
    • Pengguna dapat mengakses layanan cloud melalui aplikasi berbasis web atau API yang disediakan oleh penyedia layanan.
  2. Penyimpanan Data di Pusat Data Cloud:
    • Data pengguna disimpan dalam pusat data yang memiliki sistem keamanan tinggi dan teknologi redundansi untuk memastikan keamanan serta ketersediaan data.
  3. Pemrosesan di Cloud:
    • Alih-alih menggunakan daya komputasi lokal, cloud computing memungkinkan pemrosesan data dilakukan pada infrastruktur yang lebih besar dan lebih kuat milik penyedia layanan cloud.
  4. Distribusi Data dan Aplikasi:
    • Setelah data diproses, hasilnya dikirim kembali ke pengguna melalui internet, memungkinkan akses cepat dan efisien.

Salah satu keunggulan utama dari cara kerja cloud computing adalah skalabilitasnya, di mana pengguna dapat meningkatkan atau menurunkan kapasitas layanan mereka sesuai kebutuhan tanpa harus melakukan investasi besar pada perangkat keras.

Manfaat Cloud Computing

Cloud computing menawarkan berbagai manfaat yang menjadikannya pilihan yang populer bagi bisnis maupun individu. Berikut beberapa manfaat utama yang diperoleh dengan menggunakan layanan cloud computing:

  1. Pengurangan Biaya Operasional: Salah satu manfaat terbesar dari cloud computing adalah pengurangan biaya. Bisnis tidak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk membeli perangkat keras dan lisensi perangkat lunak. Sebaliknya, mereka dapat menyewa sumber daya komputasi sesuai kebutuhan, yang berarti hanya membayar untuk kapasitas yang mereka gunakan.
  2. Skalabilitas: Cloud computing memungkinkan bisnis untuk dengan mudah menambah atau mengurangi kapasitas komputasi sesuai kebutuhan mereka. Jika suatu bisnis membutuhkan lebih banyak sumber daya selama periode puncak, mereka dapat dengan cepat menambah kapasitas tanpa harus mengubah infrastruktur fisik. Begitu pula sebaliknya, mereka dapat mengurangi kapasitas ketika kebutuhan menurun.
  3. Aksesibilitas: Dengan cloud computing, pengguna dapat mengakses data dan aplikasi mereka dari mana saja, selama mereka terhubung ke internet. Hal ini sangat berguna untuk situasi kerja jarak jauh atau ketika tim bekerja dari berbagai lokasi yang berbeda. Cloud computing memudahkan kolaborasi dan memungkinkan karyawan untuk tetap produktif, di mana pun mereka berada.
  4. Keamanan: Penyedia layanan cloud biasanya memiliki sistem keamanan canggih yang melindungi data pengguna dari ancaman siber seperti peretasan atau kehilangan data. Selain itu, banyak layanan cloud menawarkan backup otomatis dan pemulihan data, yang membantu menghindari kehilangan data penting.
  5. Peningkatan Produktivitas: Dengan cloud computing, bisnis dapat mempercepat proses pengembangan aplikasi dan penyebaran layanan baru. Misalnya, tim pengembang dapat bekerja secara kolaboratif dalam lingkungan yang terintegrasi untuk mengembangkan aplikasi, menguji, dan meluncurkannya dengan cepat tanpa menunggu pengadaan perangkat keras baru.

Jenis-jenis Layanan Cloud Computing

Layanan cloud computing dapat dibagi ke dalam beberapa kategori, tergantung pada siapa yang menggunakan layanan tersebut dan bagaimana layanan tersebut disediakan:

  1. Public Cloud: Public cloud adalah layanan cloud di mana infrastruktur komputasi disediakan oleh pihak ketiga dan dapat diakses oleh banyak pengguna. Pengguna public cloud dapat menyewa sumber daya komputasi seperti penyimpanan dan server yang diakses melalui internet. Public cloud memberikan fleksibilitas bagi bisnis kecil hingga besar karena memungkinkan mereka menggunakan sumber daya tanpa harus memelihara infrastruktur sendiri.
  2. Private Cloud: Private cloud adalah layanan cloud yang disediakan untuk satu organisasi atau perusahaan saja. Private cloud menawarkan tingkat kontrol dan keamanan yang lebih tinggi, karena seluruh infrastruktur dioperasikan secara eksklusif untuk organisasi tersebut. Meskipun lebih mahal dibandingkan public cloud, private cloud cocok untuk bisnis yang membutuhkan tingkat keamanan dan privasi yang lebih besar.
  3. Hybrid Cloud: Hybrid cloud menggabungkan elemen-elemen dari public cloud dan private cloud, memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan keduanya. Dalam model ini, perusahaan dapat menggunakan public cloud untuk aplikasi yang tidak sensitif dan private cloud untuk aplikasi yang memerlukan keamanan lebih tinggi. Pendekatan ini memberikan fleksibilitas dan efisiensi biaya yang lebih besar.

Cloud computing telah mengubah cara bisnis dan individu berinteraksi dengan teknologi. Dengan berbagai model layanan seperti SaaS, PaaS, dan IaaS, cloud computing memungkinkan pengguna untuk mengakses sumber daya komputasi dari berbagai perangkat dan lokasi tanpa perlu mengelola infrastruktur fisik. Teknologi ini tidak hanya mengurangi biaya, tetapi juga meningkatkan fleksibilitas, skalabilitas, dan keamanan, menjadikannya pilihan ideal bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif di era digital.

Manfaat yang ditawarkan oleh cloud computing menjadikannya solusi yang semakin diminati oleh berbagai kalangan, mulai dari bisnis kecil hingga perusahaan besar. Dengan kemajuan teknologi yang terus berkembang, semakin banyak individu dan bisnis yang mengenal dan beralih ke solusi berbasis cloud untuk meningkatkan produktivitas serta efisiensi operasional mereka.

Zettagrid Indonesia sebagai salah satu layanan cloud service lokal, dapat membantu Anda menghadapi serangan kejahatan yang ada di dunia maya dan kebutuhan IT lainnya yang perusahaan butuhkan. Jika Anda berniat untuk menggunakan solusi maupun kebutuhan IT lainnya dari kami, segera lakukan konsultasi dengan tim kami melalui sales@zettagrid.id atau hubungi ke sini.

Peran Infrastructure as a Service (IaaS) Pada Kelancaran Bisnis

Peran IaaS pada Kelancaran Bisnis

Peran Infrastructure as a Service (IaaS) Pada Kelancaran Bisnis

Wabah COVID-19 membuat para pengusaha harus mencari strategi untuk menjalankan bisnis mereka. Namun, di era kecanggihan teknologi sekarang ini, pengusaha tidak perlu khawatir berkat kehadiran teknologi. Bahkan jika tepat dalam memanfaatkannya, bisnis yang kita jalankan akan berjalan dengan lancar dan dapat berkembang lebih lagi.

Tentunya untuk dapat mengembangkan sebuah bisnis memerlukan suatu cara agar dapat membantu serta memperlancar goals tersebut. Yakni kita bisa memanfaatkan cloud computing, kecanggihan teknologi komputer yang satu ini telah banyak digunakan perusahaan besar maupun perusahaan yang baru ingin mengembangkan bisnis mereka.

Salah satu layanan cloud computing yang bisa membantu memperlancar bisnis kita adalah IaaS atau Infrastructure as a Service. Definisi Infrastructure as a Service itu sendiri adalah layanan cloud computing yang berbentuk satu perangkat hardware komputer berupa virtualisasi.

Layanan IaaS ini dikelola dengan memanfaatkan jaringan internet, dan pada umumnya di dalamnya terdapat Bandwidth, IP Address, Load Balancer, koneksi internet, serta sistem pengaman seperti firewall dalam ruang lingkup satu perangkat layanan IaaS. Dengan menggunakan IaaS kita bisa membuat serta menguji aplikasi untuk bisnis sesuai dengan apa yang dibutuhkan dan inginkan.

Ada banyak kelebihan lainnya yang bisa kita rasakan apabila memanfaatkan Infrastructure as a Service pada perusahaan. Berikut ini adalah beberapa kelebihan dari Infrastructure as a Service:

  • Keamanan data perusahaan dapat terjamin dari kehilangan atau kebocoran yang bisa memicu kekacauan kapanpun ancaman itu terjadi. Karena pengguna sendiri yang akan mengelolanya. Pihak penyedia layanan cloud infrastruktur tidak akan memiliki akses ke sistem yang dikelola.
  • Membuat Anda lebih fokus dalam mengelola bisnis tanpa perlu mengkhawatirkan persoalan sistem perangkat IaaS. Karena server fisik, storage, networking dikelola langsung oleh penyedia layanan IaaS.
  • Menghemat biaya operasional, sehingga bisa dimanfaatkan untuk biaya kebutuhan perusahaan lainnya.
  • Layanan IaaS memiliki kapabilitas untuk di scale up dan scale down, menjadikannya lebih fleksibel disaat kita ingin meningkatkan maupun mengurangi kapasitas tersebut.

Sebenarnya Bagaimana Cara Kerja Infrastructure as a Service?

Cara kerja IaaS sama seperti saat kita menjalankan server komputer, kita bisa mengakses serta menyimpan data dalam sebuah server melalui dashboard maupun Application Programming Interface (API). Kemudian dari penggunaan layanan IaaS kita memiliki kontrol penuh atas infrastruktur milik perusahaan kita.

Sehingga kita bisa menginstal, melakukan konfigurasi, dan mengelola aplikasi yang ingin kita gunakan. Selain itu, penyimpanan atau backup data yang dikelola sendiri dapat kita akses kapan dan dimanapun dibutuhkan, selama masih terhubung dengan jaringan internet.

Kemudian, jika kita membutuhkan networking yang lebih bagus atau storage yang kapasitasnya lebih besar lagi bisa dilakukan scale up dan scale down. Kita dapat langsung menghubungi penyedia layanan IaaS untuk mengupgradenya atau Anda juga dapat melakukan upgrade sendiri melalui platform IaaS pilihan Anda. Tentunya dengan ketentuan dari masing-masing penyedia layanan IaaS tersebut.

Oleh karena itu, waktu yang tepat sebuah perusahaan untuk bisa menggunakan layanan IaaS ini dapat dilakukan saat penilaian kesiapan karyawan dan kondisi finansial perusahaan yang sudah stabil. Karena untuk dapat menerapkan IaaS, selain butuh biaya kita harus memiliki pengetahuan dan skill tentang IT, seperti dalam mengelola operating system, networking serta memiliki pengalaman tentang VMware. Sebagai salah satu cloud provider yang ada di Indonesia, Zettagrid menyediakan solusi cloud computing yang Anda butuhkan. Terutama dalam layanan Infrastructure as a Service (IaaS). Dan tidak perlu diragukan lagi jaminan kualitasnya, karena kami telah memiliki sertifikasi mulai dari ISO 270001, ISO 9001, PCI DSS, VMware, Zerto, Veeam dan PSE Kominfo Republik Indonesia. untuk mengetahui informasi lebih lengkap lagi silahkan hubungi kami melalui email ke sales@zettagrid.id

Choosing The Best Disaster Recovery Solution For Your Business

disaster recovery solution

Choosing The Best Disaster Recovery Solution For Your Business

The growth of technology has brought positive impact while also give several risks for digital business. To keep business continuity, enterprise should have plan, one of them is implementing Disaster Recovery for their cloud infrastructure. From all DR solutions that offer their capabilities, which one is suitable to your business needs?

Find the answer on “Zettagrid e-Techday: Choosing The Best Disaster Recovery Solution For Your Business” and meet our cloud expert Aditya Irawan as Senior Cloud Consultant Zettagrid Indonesia.

Event Details

Day: Thursday, 25 November 2021
Time: 02.00 – 04.00 PM
Link to register: bit.ly/etechdaydrzg
Live from Zoom Meeting

Join us and get FREE e-Certificate, special promo, and get a chance to win shopping vouchers.

Keunggulan Object Storage Untuk Backup Data

object storage untuk backup

Keunggulan Object Storage Untuk Backup Data

Saat mengembangkan bisnis, sistem dan data memang menjadi aspek paling vital bagi perusahaan. Dengan memiliki keduanya, perusahaan dapat menentukan atau memutuskan arah bisnis yang sesuai untuk dikembangkan. Itulah sebabnya, memiliki infrastruktur penyimpanan data yang aman sangat kritikal bagi bisnis. Selain untuk menjaga sistem dan data bisnis tetap berjalan, infrastruktur tersebut juga berperan penting untuk menjaga kelangsungan bisnis.

Namun, memiliki infrastruktur penyimpanan data saja tidaklah cukup bila tidak diimbangi oleh strategi perlindungan data. Tanpa strategi tersebut, ancaman kehilangan data seperti Human Error dan serangan siber pastinya akan membayangi bisnis Anda. Maka, untuk menjaga data Anda agar tetap aman, strategi perlindungan data pun perlu diciptakan oleh bisnis. Salah satunya dengan memanfaatkan Object Storage untuk membackup data.

Bila Anda pernah membaca artikel kami sebelumnya, Object Storage menjadi salah satu medium yang dapat memenuhi strategi perlindungan data bisnis Anda. Dengan mereplikasi data Anda dan menyimpannya di Data Center lain, bisnis tidak hanya dapat menyimpan data dan aset pentingnya secara aman, tetapi juga dapat lebih mudah mencadangkan data kapan saja secara otomatis.

Lalu, apa saja sih keunggulan Object Storage untuk backup data?

1. Lebih Efisien

object storage untuk backup

(Source: monsitj from Getty Images Pro)

Ketika mengelola data dalam jumlah besar menggunakan solusi backup lokal, pastinya pemeliharaan secara berkala diperlukan bagi infrastruktur IT Anda agar data dapat terintegrasi dengan baik. Namun, hal ini bukanlah pilihan yang tepat mengingat pemeliharaan infrastruktur hardware yang kompleks membutuhkan investasi serta waktu yang tidak sedikit.

Oleh sebab itu, menggunakan Object Storage bisa menjadi solusi untuk pencadangan data Anda. Dengan menggunakan jasa penyedia layanan cloud, Anda tidak perlu lagi melakukan pemeliharaan infrastruktur secara berkala. Mengingat penyedia layanan cloud akan melakukan hal tersebut untuk Anda. Sehingga, hal tersebut akan jauh lebih efisien dari segi waktu, sumber daya, dan alokasi anggaran bisnis.

2. Kapasitas penyimpanan yang scalable

object storage untuk backup

(Source: monsitj from Getty Images Pro)

Beberapa solusi backup memang memiliki aplikasi pencadangan yang baik untuk mengumpulkan, menyimpan, dan mengelola data secara cepat dan andal. Sayangnya, sebagian besar hardware yang digunakan lagi-lagi tidak dapat mengikuti pertumbuhan data yang kian meningkat. Sehingga, bisnis pun mengalami kompleksitas dan biaya tinggi untuk memenuhi kebutuhan kapasitas pencadangan tersebut.

Namun, jangan khawatir! Object Storage bisa menjadi salah satu solusi untuk permasalahan tersebut, mengingat teknologi ini didesain khusus untuk menyimpan dan mengelola data dengan kapasitas bilangan petabyte. Jadi, Anda tidak perlu cemas lagi ketika harus menskalakan kapasitas backup bisnis, sebab Object Storage dapat memenuhi kebutuhan tersebut dengan lebih cepat dan sederhana.

3. Backup data jauh lebih fleksibel

object storage untuk backup

(Source: D3Damon from Getty Images Signature)

Saat menggunakan solusi backup tradisional, mungkin Anda merasa kesulitan untuk mengatur jumlah data maupun waktu backup yang tepat. Namun, jika Anda memilih solusi Object Storage untuk membackup data, hal tersebut tentunya tidak lagi ditemui oleh perusahaan.

Sama seperti cloud backup lainnya, Object Storage dapat digunakan untuk backup data Anda kapanpun Anda inginkan. Jika Anda telah menjadwalkan solusi backup data secara harian atau mingguan maupun bulanan, Object Storage akan mereplikasi data Anda dengan lebih cepat dan mudah.

Sebagai penyedia layanan cloud Infrastructure as a Service (IaaS), Zettagrid Indonesia turut menghadirkan solusi backup untuk kebutuhan bisnis Anda, Arupa Object Storage. Dirancang khusus dengan sistem yang High Availability, kapasitas penyimpanan hingga bilangan petabyte, dan kompatibel untuk solusi backup data seperti NAS atau lainnya, Arupa Object Storage siap membantu Anda untuk memenuhi strategi perlindungan data kapanpun dan di manapun.

Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut terkait solusi cloud, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

Signs That Your Enterprise Cloud Solutions is Over-Engineered

cloud solutions

Signs That Your Enterprise Cloud Solutions is Over-Engineered

As technology developed by the day, many enterprises now implement workload solutions to digitize and fastening their organizations. With agility and automation, technology is now believed to be one of the indicators to boost and efficiently the operations of organizations. No wonder, why Indonesia Government itself has pushed many businesses for digital transformation by using technology, including enterprise cloud solutions.

According to apprenda.com, enterprise cloud solutions is a term that may refer to a cloud service platform such as Software as a Service (SaaS), Platform as a Service (PaaS), or Infrastructure as a Service (IaaS). It provides all of the resources needed to perform the required business functions in an integrated manner, within the framework of the cloud architecture that delivers the solution.

Although there are so many cloud service providers that we can see, does not mean we can decide to implement one without considering it. Many providers offer over-engineered enterprise cloud solutions that complex and inefficient, so it increased costs, risks, or complexities of the system that can result in its failure. That’s why business needs to look for the signs of which enterprise cloud solutions that over-engineered, before deciding to implement one.

No worries, in the article below we have compiled the signs of over-engineered enterprise cloud solutions. Curious to know it further? Read them here:

1. Has no single source of truth for enterprise data

You may think cloud migration will provide the business with the ability to centralize data within a single go-to database (physical or abstract) and store important data such as customer, sales, or inventory. But in fact, there are still many cloud services with no centralized coordination around common database services, which will lead to many different types of databases during the move to cloud.

Therefore, before deciding to move to one of the enterprise cloud solutions, business needs to double-check on its deployment. So, it will prevent business to the complex deployment and increased cost also risk.

2. The cloud costs more than the status quo

Although it’s common to spend more on cloud solutions than on its starting point, business must also factor in its many advantages to the business. a good rule of thumb for an acceptable cost increase would perhaps 10% to 15% more than its starting point. However, many businesses still have end states that are 30% to 50% more costly, with no clear business benefits to justify the extra costs.

Therefore, business needs to keep a close eye on centralized efficiency and cost optimization in its enterprise cloud solution. Over-engineering happens when business adds too many unnecessary features. These features drive up the costs without a counterbalancing ROI.

3. Has no centralized command and control

The core problem for most enterprises is a lack of centralized planning. When it comes to common services, operations, or security, too many choices and a lack of governance quickly lead to a mess.

For example, a public cloud is added to a multi-cloud deployment because a single development team said they needed a specific database that runs on a specific cloud. The addition happened without examining the cost, ops, and complexity of managing a public cloud that provides one service to one team. Therefore, the coordination between development and migration teams is needed for a fully optimized meta-architecture for an enterprise cloud solution.


If you have any questions related to our cloud solutions, you can contact us here or through sales@zettagrid.id.

 

Strategi Backup 3-2-1 Untuk Perlindungan Data

strategi backup 3-2-1Strategi Backup 3-2-1 Untuk Perlindungan Data

Di era digital seperti sekarang ini, kebutuhan mem-backup data bukan lagi hal yang baru untuk dilakukan oleh organisasi. Seiring dengan data yang kian bertambah setiap harinya, strategi perlindungan data seperti Backup pun semakin diminati dan diimplementasikan oleh berbagai bisnis untuk mengantisipasi terjadinya kehilangan data. Salah satu contohnya adalah strategi Backup 3-2-1.

Secara praktik, strategi Backup 3-2-1 bertujuan untuk menyalin dan menyimpan data di beberapa medium yang berbeda. Dengan cara tersebut, bisnis diharapkan bisa menyelamatkan datanya apabila terjadi human error ataupun bencana alam yang dapat berdampak pada kehilangan data. Kemudian, bagaimana cara untuk mulai mengimplementasikan strategi satu ini?

Mengenal Strategi Backup 3-2-1

Menurut backblaze.com, strategi Backup 3-2-1 berarti memiliki setidaknya tiga salinan dari total data Anda, dengan dua di antaranya ditempatkan secara lokal tetapi pada media yang berbeda, sedangkan satu salinan data di tempatkan di offsite. Sebagai contoh, mari kita coba menggunakan “data penjualan bisnis” Anda sebagai skenario strategi pencadangan data ini.

Dalam komputer pribadi Anda, tersimpan data penjualan bisnis yang sering diperbarui setiap minggunya. Data yang tersimpan tersebut merupakan data pertama yang perlu di-Backup di medium berbeda. Untuk mengakalinya, Anda menggunakan external Hard-Drive untuk menyimpan salinan kedua dari data penjualan bisnis Anda. Tak tanggung-tanggung, Anda juga menggunakan solusi Backup seperti Cloud Backup sebagai offsite untuk menyimpan salinan ketiga dari data penjualan bisnis Anda. Dengan demikian, salinan data ketiga yang terletak di offsite tersebut akan disimpan di data center.

Mengapa dua disimpan di lokal dan satu di Offsite?

Apapun perangkat yang Anda miliki, on-site Backup merupakan cara paling cepat dan mudah untuk mengakses data ketika sesuatu terjadi pada perangkat Anda. Jadi ketika laptop atau komputer Anda mengalami kerusakan, Anda masih memiliki external hard drive untuk mendapatkan kembali data Anda.

Meskipun memiliki on-site Backup seperti contoh di atas merupakan awal yang baik, tetapi memiliki offsite Backup adalah komponen kunci dalam strategi Backup 3-2-1. Cadangan di on-site memang mudah diatur, namun sayangnya salinan data Anda tersebut rentan mengalami kehilangan jika terjadi pencurian, banjir, kebakaran, dan kejadian tidak terduga lainnya.

Apakah solusi Cloud merupakan medium yang sempurna?

Sesuai dengan kemampuannya yang fleksibel, cloud bisa menjadi pendekatan paling mumpuni untuk memulai strategi Backup 3-2-1. Dengan mereplikasi data Anda dan menyimpannya di data center lain, Anda bisa mendapatkan ketenangan dan dengan mudah mencadangkan data Anda kapan saja secara otomatis.

Dengan Arupa Object Storage Anda dapat menyimpan data backup hingga bilangan petabyte dengan lebih fleksibel di offsite sehingga memenuhi kebutuhan Backup 3-2-1 Anda. Jika Anda sekarang sudah menggunakan NAS ataupun solusi pencadangan data di perusahaan Anda, kami dapat membantu Anda untuk mencapai strategi Backup 3-2-1.


Zettagrid Indonesia merupakan penyedia layanan Cloud Computing Indonesia yang menyediakan solusi IaaS seperti Virtual Data Center (VDC), Virtual Private Server (VPS), Backup as a Service (BaaS), Disaster Recovery as a Service (DRaaS), dan Object Storage as a Service (OSaaS). Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang solusi cloud kami, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

Tertarik untuk mengenal solusi Object Storage? Baca produk kami selengkapnya di sini.

 

How to Protect Education Institution Data From Ransomware Attack?

protect education institution

How to Protect Education Institution Data From Ransomware Attack

In this modern era, internet has a vital role to ease our needs. Whether it is for entertainment, healthcare, business, and even education, these can be accessed now from anywhere and anytime as long as it is connected to the internet. However, regardless of its flexibility and advancement, doesn’t mean internet is a safe place to surf and access data. Cyber threat like ransomware also can be found by user. Therefore, a prevention is needed to avoid its risk, especially for education institution.

According to Veeam, education institution is an attractive target for ransomware attacks. Students, teachers, and institute records are the lifeblood of any educational institute. The stakes are incredibly high for education institutes and organizations to adequately protect and secure their systems. Aside from the obvious financial implications of failing to protect data, it can also cause irreparable and immeasurable damage to an institution’s brand.

Therefore, it is becoming increasingly important for educational institutes to mitigate risk against ransomware attacks. The first crucial step is by identifying where ransomware attacks come from and what solution to decrease the chances of attacks breaking through.

Identify potential ransomware access for education institutions

protect education institution

(Source: peshkov from Getty Images)

Hackers can breach an institution’s data from anywhere, anytime, and on any device. Therefore, IT department needs to be prepared for what to protect in avoiding cyber attacks. One of the major ways is to identify hacker’s access to the institution’s system, such as Remote Desktop Protocol (RDP) and email.

RDP and email are the common systems that are often used by the institution. Connected by the internet network and offering flexible tools, both solutions can simplify user’s experience in collaborating with others. However, these workloads have a vulnerability to be attacked by ransomware.

Although its RDP has special IP addresses, redirecting RDP ports, complex passwords, and more, ransomware still can infect the system through its internet-connected. Not only that, but ransomware can also get through the system by phishing emails. That’s why before the risk is getting bigger, data protection is needed for education institutions.

The solution in Avoiding the Risk of Ransomware Attack

protect education institution

(Source: sefa ozel from Getty Images Pro)

Ransomware can bring education institutions not only to corrupt data and infected IT systems, but also it will bring them to data loss. To avoid this risk, become familiar to restore scenarios is important for Education institutions. So, it can give the organization familiarity with the process, a reasonable expectation of how much time is involved, and most importantly, confidence that the process will work.

Not only that but a recovery solution is also needed to meet the data protection strategy. With the flexible and reliable solution to recover data that lost or corrupted, education institution can avoid the risk of data loss that could impact to its continuity.

Determine a Reliable Backup Solution

(Source: Altayb from Getty Images Signature)

Implement reliable backup solution like Veeam Backup can help Education institution against data loss. By implementing its strategy for organizations’ IT systems, education institution can protect its continuity from unexpected loss. Not only that but Veeam Backup is also known for being the simple and flexible solution. This is a key set of attributes for organizations looking at strengthening their data management strategy.

Zettagrid Indonesia is a Cloud Service Provider in Indonesia that provides Infrastructure as a Service (IaaS) such as VMware Virtual Data Center, VMware Virtual Server, Veeam Backup, and so on. If you have any questions related to our solution, you can reach us here or through sales@zettagrid.id.