Pos

Backup Data Microsoft 365 Bisnis dengan Arupa Backup 365

Backup data microsoft 365Backup Data Microsoft 365 Bisnis dengan Arupa Backup 365

Saat bekerja, bencana maupun kesalahan memang tidak dapat dihindari. Baik itu human error, bencana alam, atau ancaman siber, kerap kali datang di waktu yang tak terduga dan mengganggu keberlangsungan bisnis. Apalagi jika beberapa masalah tadi mengancam data bisnis Anda di Microsoft 365, hal ini tentu akan menghambat tidak hanya operasional perusahaan, tetapi juga layanan bisnis dan konsumen.

Maka dari itu, mengimplementasikan solusi pencadangan data sangat penting untuk dilakukan oleh perusahaan, terutama bagi bisnis yang menggunakan sistem dan layanan kolaboratif seperti Microsoft 365. Hal ini dilakukan mengingat layanan ini memiliki Model Tanggung Jawab Bersama (Shared Responsibility Model) antara Microsoft sebagai penyedia layanan dan pelanggan sebagai pengguna layanan. Lalu, apa artinya ini?

backup data microsoft 365

Seperti diagram di atas, Rhipe mendefinisikan Microsoft sebagai penyedia layanan, bertanggung jawab pada infrastruktur dan menjaga agar layanannya dapat berjalan dengan baik. Di samping infrastruktur, penyedia layanan tersebut pun hanya melakukan replikasi data dan bukan mencadangkan data, menjaga keamanan infrastruktur, serta kerahasiaan data sesuai dengan standar sertifikasi internasional.

Sementara itu, pelanggan sebagai pemilik didefinisikan bertanggung jawab dalam melakukan akses dan kontrol pada data mereka seperti: pencadangan data, penyimpanan data, keamanan data dari ancaman siber, serta kerahasiaan data sesuai standar dari masing-masing pelanggan. Itulah sebabnya strategi pencadangan data menjadi hal yang perlu dipersiapkan oleh pelanggan itu sendiri.

Namun, Anda tidak perlu khawatir karena solusi seperti Arupa Backup 365 (AB365) bisa menjadi pilihan untuk mengatasi tantangan ini. Dengan memanfaatkan teknologi dari Veeam Backup Microsoft 365, AB365 mampu menghadirkan pengalaman pencadangan data yang lebih cepat dan sederhana. Berbagai keuntungan juga dapat dirasakan oleh bisnis karena solusi yang satu ini. Penasaran apa saja? Simak selengkapnya berikut ini:

1. Jaminan SLA 99.9%

backup data microsoft 365

(Sumber: Maksim Labkouski dari Getty Images)

Kehilangan data di berbagai layanan Microsoft 365 memang bisa berdampak buruk. Apalagi bila file yang hilang memuat data penting seperti hasil penjualan, database klien, hingga rencana besar perusahaan. Ancaman ini pastinya akan menggoyahkan kelangsungan bisnis bila terjadi.

Tapi Anda tidak perlu khawatir apabila data di layanan tersebut hilang karena bencana maupun human error, sebab AB365 siap mencadangkan data penting Anda dengan jaminan uptime 99,9%. Tak hanya itu, Anda juga bisa menjadwalkan pencadangan data secara rutin per-hari, per-minggu, maupun per-bulan sesuai kebutuhan bisnis Anda. Sehingga, ini akan meminimalisir kehilangan data hingga yang terbaru.

2. Kemudahan Tanpa Batas

backup data microsoft 365

(Sumber: Natali_Mis dari Getty Images)

Saat mengimplementasikan strategi pencadangan data, ada baiknya bagi perusahaan untuk melakukan proses setup dan konfigurasi backup. Sebab dengan dua hal mendasar ini, Anda mampu mengoperasikan pencadangan data secara optimal.

AB365 menawarkan kemudahan proses tersebut untuk layanan Microsoft 365. Tidak perlu lagi waktu berjam-jam bahkan hingga seharian penuh untuk mengkonfigurasikannya, cukup dengan waktu singkat, solusi tersebut siap Anda gunakan.

3. Aman dan Bersertifikasi

(Sumber: Urupong dari Getty Images Pro)

Apabila Anda berencana mengimplementasikan strategi pencadangan data, usahakan agar Anda menentukan solusinya dengan melihat lokasi data center. Sebab dengan menggunakan data center lokal, data bisnis maupun perusahaan akan terjaga dengan aman bersama penyedia layanan cloud.

AB365 menggunakan infrastruktur data center Zettagrid Indonesia yang berlokasi di Jakarta dan Cibitung serta telah dilengkapi dengan sertifikasi ISO9001, ISO27001, dan PCI DSS. Sehingga ini akan melengkapi keamanan data maupun perusahaan yang tersimpan oleh infrastruktur cloud Zettagrid Indonesia.

4. Infrastruktur yang High Availability

(Sumber: monsitj dari Getty Images Pro)

Di samping keamanannya, solusi backup ini juga memiliki data center yang berlokasi di Indonesia serta berkonsep High Availability dan Redundant Power. Dengan demikian ini akan meminimalisir risiko downtime. Tak hanya itu, tim dan layanan support pun siap sedia melayani Anda selama 24 jam dalam seminggu. Sehingga ini akan membantu apabila bisnis Anda membutuhkan bantuan support untuk backup data Microsoft 365.

Ingin tahu lebih lanjut tentang A365 sebagai #SolusiYangPasti? Anda bisa mulai membaca produk selengkapnya di sini. Jika Anda memiliki pertanyaan terkait solusi kami, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

 

Hindari Kehilangan Data Office 365 Dengan Strategi Ini

kehilangan dataHindari Kehilangan Data Office 365 Dengan Strategi Ini

Data Office 365 yang hilang dan rusak memang bisa menjadi bencana bagi bisnis. Apalagi jika bisnis tidak memiliki salinan data yang hilang, keberlangsungan bisnis pasti menjadi kekhawatiran utama bagi pengusaha. Lalu, bagaimana caranya agar bisnis bisa meminimalisir risiko kehilangan data Office 365?

Pada artikel sebelumnya, Anda telah diperlihatkan beberapa penyebab kehilangan data di Office 365. Mulai dari serangan malware atau ransomware, human error, hingga overwritten data, ketiganya sangat berpeluang untuk merusak dan menghapus data bisnis. Coba bayangkan, apa yang terjadi jika data bisnis, penjualan, hingga internal manajemen Anda hilang karena ketiga insiden tersebut? Pastinya akan sangat merepotkan bagi organisasi. Bahkan Skykick menyebutkan kehilangan data di Office 365 bisa meraup kerugian hingga $ 3.957 US Dollar.

Oleh sebab itu, strategi pun perlu dipersiapkan agar bisnis bisa meminimalisir risiko kehilangan data dan aset yang dimiliki oleh organisasi. Di bawah ini, Skykick telah merangkum cara agar bisnis bisa melalui kehilangan data Office 365 tanpa memicu tantangan lain. Berikut ulasannya:

1. Pertimbangkan regulasi perlindungan data Office 365

kehilangan data

(Sumber: jirsak from Getty Images)

Berbicara tentang perlindungan data Office 365, sebenarnya ada beberapa solusi yang dirancang untuk melindungi dan memulihkan data untuk cloud Software as a Service (SaaS) satu ini. Masing-masing didesain untuk tujuan tertentu dan sebagai hasilnya, satu atau lebih solusi tersebut membutuhkan perlindungan data yang lengkap dan persyaratan pemulihan data bisnis.

Untuk itu, ada dua hal yang perlu dipertimbangkan oleh bisnis untuk meminimalisir potensi kehilangan data di Office 365:

  • Sistem perlindungan data: Di sini bisnis bisa mulai dengan mengevaluasi data apa yang ingin dilindungi, perlukah legal atau syarat compliance untuk melindungi data, hingga solusi seperti Business Continuity dan Disaster Recovery (BCDR). Hal ini dilakukan agar untuk menentukan solusi yang tepat dalam meminimalisir risiko kehilangan data.
  • Kecepatan dan resensi pemulihan data: Pada langkah ini, bisnis harus menentukan seberapa lama toleransi kehilangan data (Recovery Point Objective, RPO) dan seberapa cepat data dapat dikembalikan (Recovery Time Objective, RTO). Pada umumnya, pertimbangan RTO dan RPO bergantung kepada sektor bisnis yang dijalankan. Contohnya, untuk institusi finansial, perlu kemampuan untuk mengembalikan data hingga yang terbaru.

2. Tentukan solusi perlindungan data yang sesuai

(Sumber: Natali_Mis from Getty Images Pro)

Setelah mempertimbangkan dan mengevaluasi sistem perlindungan data, bisnis bisa mulai memilih solusi untuk melindungi data Office 365. Beberapa solusi yang mungkin bisa dipertimbangkan oleh bisnis, di antaranya Backup, Archiving, hingga Business Continuity dan Disaster Recovery (BCDR).

Sayangnya, meski memiliki fungsi yang sama, ketiga solusi tersebut menawarkan sistem yang berbeda. Jika BCDR menawarkan Ongoing backup untuk data di seluruh sistem dan archiving menyediakan lokasi terpisah untuk menyimpan maupun mengamankan data, maka Backup memberikan sistem pengembalian data secara berkala dan otomatis tergantung kebutuhan resources. Maka dari itu, bisnis perlu menentukan apa yang sesuai untuk data, terutama Office 365.

3. Persiapkan strategi backup

(Sumber: 5432action from Getty Images)

Pada langkah kedua, bisnis tentu telah mempertimbangkan solusi terbaik sesuai dengan kebutuhannya. Maka bisa dipastikan jika bisnis mengalami kerusakan atau kehilangan data Office 365, merancang strategi Backup adalah opsi terbaik untuk meminimalisir risiko yang terjadi setelah insiden.

Strategi Backup untuk Office 365 bisa bisnis lakukan dengan mulai mengevaluasi data dan layanan Office 365 apa saja yang ingin dibackup, berapa lama waktu yang dibutuhkan bisnis untuk mengembalikan data, hingga seberapa sering bisnis ingin membackup data (apakah backup dijadwal secara harian, mingguan, atau bulanan?). Sehingga jika terjadi insiden pada layanan Office 365, strategi satu ini bisa tereksekusi dengan baik.

Itulah beberapa hal yang bisa dipersiapkan oleh bisnis dalam meminimalisir risiko kehilangan data Office 365. Dengan mempersiapkan #SolusiYangPasti, bisnis tetap bisa menyelamatkan kelangsungannya. Tapi, apa sih #SolusiYangPasti untuk data Office 365? Nantikan kami di topik selanjutnya ya!

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang solusi cloud kami, hubungi kami di sini atau ke sales@arupa.id.

Bagaimana Cara Memilih Layanan DRaaS?

memilih layanan DRBagaimana Cara Memilih Layanan DRaaS?

Dalam mengembangkan bisnis, situasi bencana seperti sekarang merupakan salah satu ancaman umum yang harus dihadapi. Tak hanya itu, bahkan keberadaan bencana alam kerap kali membawa risiko tersendiri bagi para pengusaha. Mulai dari terhentinya operasional bisnis, rusaknya infrastruktur gedung, hingga hilangnya data-data penting perusahaan. Dengan melihat fenomena ini, solusi pun dibutuhkan demi menyelamatkan bisnis dari risiko bencana. Salah satunya adalah dengan menggunakan Disaster Recovery as a Service (DRaaS).

DRaaS sering kali menjadi infrastruktur pilihan bagi bisnis untuk menghindari terjadinya risiko bencana maupun Downtime. Dengan sistem yang secara khusus dibangun untuk menempatkan aplikasi, data, hingga backup data perusahaan, bisnis bisa tetap menjalankan operasionalnya dengan baik meski kedua kendala tadi menyerang. Bagi Anda yang berencana untuk memanfaatkan layanan DRaaS, berbagai hal tentunya harus dipertimbangkan oleh Anda sebelum menentukan layanan pilihan.

Berikut telah kami paparkan lima hal yang perlu bisnis perhatikan ketika memilih layanan DRaaS. Simak selengkapnya di bawah ini:

1. Performa layanan DRaaS

Saat memilih layanan DRaaS, Anda pastinya ingin layanan dapat berjalan semaksimal mungkin. Untuk itu, mengetahui dampak minimum terhadap aplikasi yang berada di Data Center primer sangat penting untuk dilakukan. Penyedia layanan DRaaS pun harus menjamin bahwa software yang digunakan untuk melindungi aplikasi pada Data Center primer memiliki dampak gangguan yang minim. Oleh karenanya, scenario uji coba DR harus dilakukan agar ekspektasi Anda bisa sesuai dengan layanan yang diberikan oleh penyedia.

2. Jaminan konsistensi dari penyedia layanan

Saat memilih layanan DR, Anda harus bisa memastikan jika penyedia layanan DR mampu memberi jaminan atas konsistensi data ketika terjadinya bencana. Biasanya konsistensi data ini mencakup aplikasi, transaksi, hingga poin-in-time (konsistensi pada waktu tertentu).

3. Recovery Point Objective (RPO)

Sistem RPO menjadi hal penting yang perlu diperhatikan dalam memilih layanan DRaaS. Pada umumya, sistem ini akan mengatur berapa lama waktu yang bisa ditoleransi dalam kehilangan data ketika terjadinya bencana. Jika RPO terjadi selama 15 menit, maka data yang akan direplikasi dari Data Center primer ke Data Center sekunder adalah setiap 15 menit.

Perlu diketahui, sistem RPO ini turut dipengaruhi oleh 2 hal, yaitu besar perubahan data (delta data) dan besarnya bandwidth untuk replikasi. Jadi bisa dikatakan untuk mencapai RPO dengan jangka waktu 15 menit, organisasi membutuhkan sekitar 4 Mbps (Mega bits per second) untuk 300 MB (Mega Bytes) delta data.

4. Recovery Time Objective (RTO)

Pada sistem ini akan diatur berapa lama Data Center sekunder bisa beroperasi setelah Data Center primer terjadi bencana. Oleh karenanya, sistem ini pun ikut menjadi pertimbangan agar Anda dapat mengetahui jeda waktu yang dibutuhkan ketika kendala terjadi.

5. Lokasi

Selain keempat poin di atas, lokasi Data Center sekunder pun menjadi salah satu aspek penting dalam pemilihan layanan DR. Ini dilakukan mengingat jarak penyimpanan antara Data Center primer dan sekunder harus mencapai radius minimal 30 km untuk sistem terbaik. Tak hanya itu, jarak lokasi penyimpanan ini juga akan mempengaruhi biaya WAN dan latency. Oleh sebab itu, untuk memaksimalkan kinerja DR, ada baiknya pemilihan lokasi yang tepat perlu dilakukan.

Sebagai penyedia layanan infrastruktur cloud lokal, Zettagrid Indonesia menawarkan layanan Disaster Recovery as a Service (DRaaS) untuk mendukung keberlangsungan bisnis Anda. Dengan dua lokasi Data Center yang bertempat di Jakarta dan Cibitung serta telah bersertifikasi Tier IV, data Anda akan aman terjaga pada infrastruktur cloud Zettagrid. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai layanan cloud kami, Anda dapat menghubungi kami di sini atau melalui sales@zettagrid.id.

3 Technology Trends That Will Drive 2021

technology trends 20213 Technology Trends That Will Drive 2021

 

As pandemic spread in 2020, it has brought us to the uncertain situation and unpredictable years. Although it happened, most of you definitely will remember it as the year where the connection with family, friends, and even works is crucial to be maintained.

Fortunately, technology is here to make us stay connected with others in this pandemic. With technology, people, and even business is easier to enabling collaboration with each other. But, what kind of technology that made us going as we migrated to working at home? And how technology will go in 2021?

In this article, we’ve compiled predictions from The Drum about three technology trends that will drive 2021. Read them below for further:

1. Blockchain

It’s taken a long time for blockchain to shift center stage, but as people increasingly trust algorithms, which it’s based, it’s time has come. Decentralized finance will continue to grow over the next few years because of the increased demand for online financial products, but it will need to continually address the balance between decentralization, security, and scalability.

2. Customer Learning Experience

Attracting and educating customers on the benefits of specific products and features has required a digital-first approach, with e-commerce solutions integrating video, webchat, and even augmented reality. For complex products that require training, including consumer electronics, automotive, and software, companies are investing in Learning Management Systems (LMS).

These LMS solutions allow businesses to create custom-branded courseware, training programs, documentation, and video guides to deliver complete digital learning experiences. And with big data and analytics, companies can implement in-depth tracking of customers on their learning journeys to rapidly gain insights and improve their offerings.

3. Cloud based-tech

With the rise in e-commerce, The Drum is seeing cloud-based platforms pushed and their full potential through 2021 and beyond. Cloud-native technology will continue to power digital transformation: by the end of 2021, 60% of companies will leverage containers on public cloud platforms and 25% of developers will leverage serverless, according to predictions from ForresterNow Predictions 2021: Cloud Computing report.

Zettagrid Indonesia is an IaaS cloud provider that committed to help you to grow your business in this digital transformation era. With automation that we offer, we simplify your cloud experience. We also help you to reduce your IT cost as we have fixed monthly subscription and avoid you from bill-shock.

If you are interested in trying our products, please contact us here.

 

Keuntungan Cloud Computing Bagi Sektor Publik

Sektor publikKeuntungan Cloud Computing Bagi Sektor Publik

Revolusi industri 4.0 telah di depan mata. Lalu, bagaimana organisasi sektor publik mengatasi tantangan tersebut?

Selain menjadi tantangan bagi berbagai sektor industri, perkembangan industri 4.0 juga dirasa memberi hal yang baru bagi sektor publik. Bagaimana tidak, di era disrupsi ini pemerintah dituntut untuk cepat dalam mengidentifikasi kebutuhan dan merespon perubahan yang terjadi.

Tak hanya itu saja, organisasi sektor publik juga diharapkan dapat mewujudkan tata kelola pemerintah yang bersih, efektif, transparan, dan akuntabel serta pelayanan publik yang berkualitas dan terpercaya di era digital ini. Oleh karena itu, Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) pun diselenggarakan untuk menjawab tantangan tersebut.

Sebagaimana disebutkan dalam Perpres No 95 Tahun 2018, SPBE memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk memberikan layanan kepada instansi pemerintah, aparatur sipil negara, para pelaku bisnis, masyarakat, serta organisasi sektor publik lainnya. Pada sistem ini, berbagai arsitektur teknologi pun digunakan sebagai pendukung. Termasuk salah satunya adalah Cloud Computing.

Memiliki potensi untuk memainkan peran utama dalam menyediakan solusi yang efisien, Cloud Computing dipercaya mampu meningkatkan kinerja pemerintah dalam memberikan layanan seperti yang tertuang dalam SPBE. Selain itu, Cloud juga memiliki keuntungan yang bisa ditawarkan kepada organisasi sektor publik di era digital ini. Simak di antaranya berikut ini:

1. Kemudahan

Cloud Computing tersedia 24/7 untuk mendukung aplikasi maupun informasi secara online. Dengan demikian, publik dengan ketersediaan jaringan internet dapat mengakses sistem dan data kapan saja dan di mana saja. Tak hanya itu, Cloud Computing juga didukung dengan sistem Backup dan data recovery yang dapat menjamin keamanan dan pengembangan aplikasi secara profesional, serta mencegah terjadinya kehilangan data. Sehingga, organisasi tidak perlu cemas ketika terjadi human error yang dapat menyebabkan data menghilang.

2. Skalabilitas

Cloud dapat menawarkan skalabilitas sesuai dengan kebutuhan sektor publik yang fluktuatif. Organisasi dapat meningkatkan atau mengurangi skala penggunaan cloud sesuai dengan kebutuhan sistem dan data. Tak hanya itu, organisasi juga bisa mengubah skalabilitas selama proses penggunaan cloud berlangsung tanpa perlu menghawatirkan terjadi gangguan.

3. Otomatisasi

Teknologi otomatisasi mempermudah penggunaan cloud. Teknologi Cloud Computing dapat dikembangkan dan beradaptasi dengan sistem yang tersedia. Selain itu, apabila dibutuhkan migrasi aplikasi ke infrastruktur cloud lain, organisasi tidak perlu menginstall ulang aplikasi tersebut. Oleh karenanya, cloud memiliki interoperabilitas ke berbagai sistem dan aplikasi

4. Membayar Sesuai Penggunaan

Menggunakan layanan cloud sama dengan mengefisiensikan dan meminimalisir biaya pemeliharaan server IT. Pengguna tidak perlu lagi terperangkap dalam pembelanjaan untuk kebutuhan hardware dan server. Sebab dengan menggunakan layanan cloud, pengguna akan dikenakan sistem pay-as-you-go atau pembayaran sesuai dengan penggunaan. Sehingga, pengeluaran belanja modal (CapEx) IT dapat digantikan dengan biaya operasional (OpEx) yang dapat diprediksikan.

Jika Anda tertarik mengetahui lebih jauh mengenai solusi cloud untuk organisasi sektor publik, Anda bisa membacanya di sini atau menghubungi kami di sales@zettagrid.id.

 

Manfaat VDC yang High Availability

VDC yang High AvailabilityManfaat VDC yang High Availability

Saat Anda tengah bekerja, data dan sistem tentu menjadi penunjang utama bagi keberhasilan pekerjaan dan organisasi Anda. Namun, apakah pernah terjadi kepada Anda: saat data dan sistem tengah digunakan untuk keperluan bekerja, perusahaan justru mengalami kendala mati listrik, server ataupun jaringan?

Data-data yang Anda kerjakan mungkin masih bisa terselamatkan jika Data Center anda sudah menerapkan High Availability. Namun, berapakah investasi untuk membuat High Availability pada Data Center? Tentunya akan sangat mahal.

Data Center harus High Availability

Membangun on-premise Data Center dengan memperhatikan High Availability di sisi power supply, jaringan, dan sistem didalamnya tentu sudah menjadi keharusan untuk operasional yang baik dan membutuhkan budget IT yang besar. Misalkan, dibutuhkan budget sebesar N untuk membuat Data Center, maka dengan hitungan kasar setidaknya kita butuh 2N untuk membuat Data Center yang High Availability.

Solusi Virtual Data Center

Mengelola Data Center fisik dengan menambah konsep High Availability tentu akan sangat merepotkan dari sisi kebutuhan sumber daya dan biaya. Anggaran organisasi tentu akan menjadi masalah jika hanya berkutat pada kendala teknis yang sama. Untuk itu, solusi pun diperlukan demi mengatasi hal tersebut. Seperti salah satunya dengan menggunakan Virtual Data Center (VDC).

Menurut hostnic.id, VDC merupakan sebuah teknologi komputasi berbasis cloud yang digunakan untuk menyimpan data secara aman dan dapat dibuat lebih dari satu Virtual Machine (VM). Dari segi infrastruktur, VDC sudah menerapkan High Availability. Dengan konsep ini, organisasi dapat merasakan tiga manfaat utama yang bisa diberikan VDC. Manfaat tersebut di antaranya:

1. Memitigasi Risiko Downtime

Dipercaya atau tidak, server organisasi yang mengalami risiko downtime bisa berpengaruh terhadap reputasi bisnis di mata pelanggan. Hal ini dapat terjadi mengingat di masa kini pelanggan lebih banyak bergantung kepada sistem online seperti aplikasi pelanggan maupun layanan website. Jika server mengalami downtime, kedua sistem tersebut pun tentu akan ikut mengalami kendala yang sama.

Untuk itu, VDC yang High Availability hadir untuk mengatasi hal tersebut. Dengan menggunakan layanan VDC, organisasi bisa meminimalisir terjadinya risiko downtime pada server. Sehingga, produktivitas bisnis dan kepercayaan pelanggan bisa tetap terjaga.

2. Menjaga Anggaran Organisasi

Saat memutuskan untuk beralih ke VDC yang High Availability, pembiayaan CapEx pun akan bergeser dengan investasi OpEx yang lebih dinamis. Hal ini tentu menjadi sebuah keuntungan bagi pengusaha, mengingat akses ke lingkungan infrastruktur tidak lagi memerlukan biaya pembelian atau pemeliharaan perangkat keras.

Selain itu, mengadopsi VDC juga sama dengan memanfaatkan cloud economics. Ini dapat diartikan perusahaan dari sektor manapun bisa menurunkan angka anggaran IT dan mengalokasikan modalnya untuk kepentingan bisnis yang lain.

3. Meningkatkan Skalabilitas

VDC menawarkan skalabilitas yang dapat dirasakan oleh organisasi. Dengan demikian perusahaan dapat lebih fleksibel dalam memenuhi kebutuhan bisnisnya. Misalnya, bisnis organisasi Anda saat ini tengah berkembang dan membutuhkan sistem IT yang sesuai dengan peningkatan kebutuhan bisnis. Lingkungan Virtual Data Center bisa mengatasi hal tersebut dengan menyesuaikan kapasitas penyimpanan sesuai kebutuhan organisasi.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai layanan Virtual Data Center, Anda bisa menghubungi kami di sini atau melalui tim kami ke sales@zettagrid.id.

How To Easily Monitoring Your Cloud Infrastructure from The Cloud

cloudHow To Easily Monitoring Your Cloud Infrastructure from The Cloud

[FREE EVENT]

The pandemic situation that happen along 2020 brought enterprises to be more digital and flexible including its working system. Many tech provider now creating solutions for better infrastructure, including monitoring them.

Find the answer on Zettagrid e-TechDay Vol.06: How To Easily Monitoring Your Infrastructure From The Cloud.

Event Details:

Thursday, 10 December 2020

10.00-12.00 WIB

Zoom Meetings

Speaker: Ahmad Saroni as Presales at PT. Daya Cipta Mandiri Solusi

 

Join us and get a chance to bring MAP Shopping Voucher and Zettagrid exclusive merchandise.

Solusi Menjaga Peluang Bisnis ATI Business Group

ATI Business GroupSolusi Menjaga Peluang Bisnis ATI Business Group

Tantangan Bisnis

Sebagai perusahaan Business Process Outsourcing (BPO) yang bergerak di bidang penerbangan dan industri travel, fasilitas IT menjadi salah satu aspek penting yang harus dimiliki, termasuk ATI Business Group. Sistem penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM), fare filing, reservasi, pemesanan tiket, hingga jasa keuangan yang merupakan fokus perusahaan, menjadikan fasilitas tersebut sebagai pemain utama dalam menggerakkan roda bisnis. Secara umum, hal ini telah menjadi tugas tim untuk dapat memelihara dan meningkatkan infrastruktur maupun server. Namun, ketika bisnis harus berkembang, kebutuhan fasilitas tersebut juga ikut mengalami peningkatan.

“Sejak dirintis sepuluh tahun yang lalu, ATI Business Group telah memiliki fokus terhadap sistem IT bisnis perusahaan. Mulai dari infrastruktur hingga pemeliharaan server, semua dilakukan oleh tim support kami. Hal tersebut sangat menantang bagi kami. Terlebih, ketika perusahaan mulai berkembang, pemeliharaan dan peningkatan kebutuhan sistem IT justru membuat proses bisnis terhambat,” ucap Ryan Fadilla sebagai Business IT Development Leader di ATI Business Group.

Kebutuhan sistem IT dengan mengandalkan infrastruktur on-premise tidak lagi menjadi solusi tepat bagi ATI Business Group. Pemeliharaan sistem yang tidak efisien dan biaya yang besar menjadi penyebab yang memberatkan bisnis ketika tengah berkembang. Hal ini pun menjadi tantangan bagi perusahaan untuk terus meningkatkan proses bisnisnya.

“Karena masalah pemeliharaan sistem dan energi seperti listrik dan sumber daya manusia (SDM), hingga pengeluaran biaya yang tidak sedikit, membuat perusahaan tidak bisa lagi menggunakan infrastruktur on-premise untuk kebutuhan bisnis. Terlalu banyak ketergantungan dari sistem tersebut justru akan menjadi tantangan bagi perusahaan ketika kebutuhan bisnis meningkat.”

Berangkat dari tantangan tersebut, pilihan pun dibuat oleh perusahaan untuk memenuhi kebutuhan fasilitas IT secara efisien dan maksimal. Ketika Cloud Computing tengah berkembang di Indonesia, ATI Business Group pun melihatnya sebagai peluang yang dapat membantu bisnis terus berjalan ketika tantangan IT menyerang kembali.

Meski demikian, perusahaan tidak bisa langsung menentukan penyedia layanan yang tepat untuk bisnisnya. Diberlakukannya kebijakan dalam menggunakan data center lokal menjadi pertimbangan utama yang harus diperhatikan oleh bisnis tersebut. Selain itu, kebutuhan pelanggan akan pusat data di dalam negeri pun turut menjadi alasan bisnis dalam menentukan penyedia layanan Cloud Computing.

Sebelumnya, kami memang mencari penyedia layanan Cloud Computing sebagai solusi bisnis. Meski saat itu ada banyak penyedia layanan cloud yang tengah berkembang di Indonesia, ATI Business Group tidak dapat menentukan solusi begitu saja. Adanya kebijakan dari salah satu klien mereka yang mengharuskan bisnis dalam memilih data center lokal adalah alasan utamanya. Sehingga kami pun perlu mengikuti aturan tersebut, mengingat banyak pula klien kami yang bertempat di Indonesia”, jelas Ryan kembali.

Solusi Zettagrid Indonesia

Setelah menimbang solusi yang tepat untuk sistem IT bisnisnya, ATI Business Group memutuskan untuk menggunakan layanan Zettagrid Indonesia sebagai solusi cloud infrastruktur pada 2018 lalu. Menurutnya, pemilihan solusi ini turut dilatar belakangi oleh tiga hal: Zettagrid Indonesia telah memberikan pemahaman yang cukup jelas terkait biaya, jangka waktu penggunaan, hingga tim support yang membantu kapanpun saat dibutuhkan.

“Jika dengan penyedia lain kami perlu melakukan satu tahun kontrak dengan biaya yang telah ditentukan, di Zettagrid Indonesia justru tidak seperti itu. Sebaliknya, Zettagrid memberikan ATI Business Group jaminan SLA, tim support yang siap membantu, dan biaya yang sesuai dengan penggunaan atau sistem pay-as-you-go,

Tak hanya itu, Ryan mengatakan Zettagrid Indonesia turut membantu dalam proses integrasi dari sistem on-premise ke cloud secara keseluruhan. Jika saat itu ATI Business Group tidak memiliki kapasitas untuk men-deploy aplikasi, Zettagrid Indonesia hadir untuk memudahkan hal tersebut. Mulai dari mengonfigurasi Virtual Machine, menentukan skalabilitas, hingga memigrasikan data ke cloud.

“ATI Business Group memang memiliki tim untuk mengatasi masalah kebutuhan IT, namun tidak berarti tim kami memiliki kapabilitas untuk men-deploy aplikasi. Untungnya, tim support Zettagrid dengan senang hati membantu kami. Sehingga, masalah pun dapat dengan cepat teratasi,”

Kepercayaan Klien Tetap Terjaga

Jika dibandingkan dengan sistem on-premise, ATI Business Group mengakui adanya pertimbangan penuh akan biaya yang dikeluarkan ketika beralih memanfaatkan layanan cloud. Namun, hal ini tidak pula menghalangi pilihan perusahaan tersebut. Ketidakpastian akan kebutuhan dan pemeliharaan sistem operasional menjadi penyebabnya. Sehingga, ketika suatu masalah operasional ditemukan saat menggunakan on-premise, hal ini akan berdampak pada penurunan kepercayaan klien.

Sebagai bisnis yang memiliki relasi dengan berbagai maskapai penerbangan, kepercayaan adalah nomor satu bagi ATI Business Group. Jika sistem bisnis mengalami downtime hingga menyebabkan sistem aplikasi dan produk terhambat, hal ini tentu akan mengurangi kepercayaan klien kepada bisnis. Ryan mengakui, kehadiran layanan Zettagrid Indonesia telah menjawab tantangan tersebut. Dengan membantu bisnis tetap berjalan selama 24/7, Zettagrid Indonesia hadir menjadi solusi ATI Business Group dalam menciptakan accessor rate klien yang tinggi.

“Zettagrid Indonesia memudahkan kami dalam mempertahankan tingkat kepercayaan klien. Dengan menyediakan layanan cloud yang dapat menjalankan bisnis selama 24/7 dan tim support yang siap sedia membantu, perusahaan akhirnya dapat menciptakan accessor rate klien yang tinggi,” ungkap Ryan.

Keuntungan yang Dirasakan Setelah Menggunakan Layanan Zettagrid Indonesia

Ryan mengungkapkan setidaknya ada empat keuntungan yang dirasakan ketika ATI Business Group beralih menggunakan layanan cloud dari Zettagrid Indonesia. Beberapa di antaranya:

  • Service Level Agreement (SLA) 99.9%

Tidak hanya menjaga Service Level Agreement dalam memberikan layanan bantuan terhadap pelanggan, Ryan mengungkapkan Zettagrid Indonesia juga memiliki jaminan terhadap kebutuhan data center yang telah bersertifikasi tier IV dengan SLA uptime 99.9%, sehingga dapat diandalkan.

  • Transparansi Biaya

Dengan hadirnya layanan pay-as-you-go di Zettagrid Indonesia, ATI Business Group dapat memonitor penggunaan cloud-nya secara mandiri. Dengan demikian, biaya yang akan dikenakan pun bisa diprediksi dan diketahui secara pasti oleh perusahaan.

  • Skalabilitas

Dengan menggunakan layanan cloud dari Zettagrid, ATI Business Group dapat menentukan, serta menaikkan atau mengurangi skala penggunaan cloud secara mandiri sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

  • Tim Support yang Siap Membantu Selama 24/7

Saat terjadi masalah terkait infrastruktur IT, ATI Business Group tentu membutuhkan bantuan yang dapat mengatasi hal tersebut. Ryan mengungkapkan, sejak beralih menggunakan cloud, tim support Zettagrid Indonesia hadir menjadi solusi bagi perusahaan dalam mengatasi masalah teknis selama 24×7. Sehingga, bisnis dapat tetap berjalan dengan lancar walaupun dalam masa-masa krusial tersebut.

Cegah Risiko Cyber Crime Dengan Veeam Backup

cyber crimeCegah Risiko Cyber Crime Dengan Veeam Backup

Pandemi COVID-19 yang telah berlangsung hampir sepanjang tahun telah memunculkan peningkatan Cyber Crime. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyebutkan setidaknya terdapat 189.937.542 juta upaya Cyber Crime di Indonesia sejak Januari hingga Agustus 2020 lalu. Jika dibandingkan dengan tahun lalu, angka ini mengalami kenaikan lebih dari empat kali lipat.

Tak hanya itu saja, bahkan baru-baru ini kantor Pemerintah Delaware County di Pennysylvania, Amerika Serikat telah terserang kasus ransomware berjenis DoppelPaymer. Dikutip dari cyberthreat.id, pemerintah setempat pun harus membayar tebusan dengan Bitcoin senilai 500.000 US Dollar atau setara dengan Rp. 7.06.000.000.000 untuk dapat menerima decryptor.

Melihat hal ini, tentu ancaman serangan cyber seperti malware hingga ransomware pun patut jadi perhatian bagi bisnis. Bagaimana tidak? Ancaman ini bahkan mampu membawa risiko yang serius bagi pengusaha. Mulai dari data bisnis yang terinfeksi virus, data bisnis yang hilang, hingga besaran biaya yang harus dikeluarkan untuk menebus si pelaku. Untuk itu, solusi pun dibutuhkan oleh para pengusaha demi menyelamatkan bisnis dari serangan Cyber Crime. Termasuk salah satunya adalah dengan menggunakan Veaam Backup dari Zettagrid Indonesia.

Veeam Backup dari Zettagrid Indonesia bisa menjadi andalan untuk melindungi data perusahaan. Selain berguna untuk mencegah kehilangan data akibat human error, solusi ini juga dapat melindungi bisnis anda dari serangan Cyber Crime seperti di atas. Tidak sekadar itu, Veeam Backup dari Zettagrid Indonesia juga menawarkan beberapa kelebihan bagi bisnis anda. Mari simak di bawah ini:

1. Mengembalikan data dengan mudah

Ketika data terhapus maupun terinfeksi malware, pengusaha tentunya harus mencari cara untuk bisa mengembalikan data tersebut. Veeam Backup dari Zettagrid Indonesia bisa mengatasinya dengan mudah. Melalui beberapa langkah mudah, bisnis bisa mengembalikan data yang hilang atau terinfeksi kembali ke tempat semula atau dibuatkan salinannya. Sehingga, layanan bisnis pun bisa segera kembali berjalan dengan normal.

2. Offsite Backup dengan High-availability Infrastructure

Selain menyimpan hasil backup di lokal, memiliki Offsite Backup atau penyimpanan hasil backup di luar data center utama juga sangat dianjurkan. Offsite backup sangat berguna apabila infrastruktur backup lokal mengalami kendala. Kendala tersebut bisa berupa kesalahan pengguna, serangan Cyber Crime, hingga insiden kehilangan data lainnya. Namun Anda tidak perlu cemas, karena solusi Offsite Backup dari Zettagrid Indonesia didukung oleh sistem high availability yang dapat diandalkan. Sehingga anda akan dapat tenang mengetahui data Anda terlindungi dan akan dapat diakses setiap saat Anda butuhkan.

3. Pay-as-you-go

Layaknya berlangganan cloud, layanan Veeam Backup juga memberlakukan sistem pay-as-you-go kepada pengguna. Pengguna hanya perlu membayar layanan ini sesuai dengan jumlah mesin (server, Personal Computer, laptop, atau Virtual Machine) yang perlu dilindungi dan besar penyimpanan yang dibutuhkan tanpa perlu melakukan kontrak. Sehingga biaya yang dikeluarkan dapat menjadi lebih efisien tanpa perlu biaya investasi awal yang besar.

Itulah tiga keuntungan yang bisa Anda dapatkan ketika menggunakan Veeam Backup dari Zettagrid Indonesia sebagai solusi bisnis dalam perlindungan data. Jika Anda tertarik dengan Veeam Backup, Anda bisa melihat produk selengkapnya di sini. Apabila, Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, Anda bisa menghubungi kami di sini atau mengirimkan email ke sales@zettagrid.id.

 

The Importance of Low RTO and RPO in DRaaS

RTO and RPOThe Importance of Low RTO and RPO in Disaster Recovery as a Service (DRaaS)

If you have read our article about RTO and RPO, you might have known by now why it is important to have a minimum RTO and/or RPO. But if you don’t, here’s a recap on RTO and RPO:

RTO is defined as the time duration and service level within which a business process must be restored after a disruptive event to avoid a catastrophic failure of the business. Meanwhile, RPO is defined as the time interval that might pass during a disruption before the quantity of data lost exceeds the maximum allowable tolerance or threshold.

With that in mind, you can see that RTO and RPO will vary between business organizations. Each business has their own requirement that will dictate their RTO/RPO numbers. But here we would like to discuss why it is important to achieve low RTO/RPO. Not only that, In an online workshop “Zettagrid eCloudTalk vol. 05: Exclusive Disaster Recovery Q&A on Zettagrid”, Wayne Heath as a Pre-Sales Architect of Zettagrid Australia explained that low RPO and RTO is very much achievable and affordable for business anywhere with DRaaS offering from Zettagrid.

So let us begin with the importance of low RTO/RPO for business:

  1. Minimal to almost 0 data loss

As you might’ve expected, low RPO means fewer data loss. So if your business relies heavily on data, you will want to go for the lowest RPO possible. That being said, sometimes it is not always feasible to aim for zero data loss, budget limiting. But with the advent of DRaaS (Disaster Recovery as a Service), that is now possible. So when shopping for a DRaaS solution, try to find a service that has the lowest RPO possible.

  1. Avoid loss to revenue

So with data loss being taken care of with low RPO, now you must aim to restore your system as soon as possible. Every minute that goes by while your business is down waiting for the IT system to recover is a loss in revenue. That means low RTO equals less revenue loss. Getting a system, software, hardware, and restoring all those components will take days. Back in the old days, the only thing to achieve low RTO is to have a backup data center running somewhere, getting ready to take over when the primary data center is down. The cost of that can be exorbitant. However, by using a DRaaS solution with low RTO, the recovery will take significantly less time than it spends on the recovery data center with the fraction cost of having a backup data center. Therefore, enterprises can get a lower cost and minimize financial loss from downtime.

  1. Minimize interruption of critical processes and safeguard business operations

Each company definitely has critical processes that are always active and vital for business continuity. Although the disaster occurs, businesses still have to maintain the process. Therefore, DRaaS with low RTO is needed to preserve the process and minimize the interruptions when disaster happens. Hence, business operations can still run even in emergency time.

  1. Preserve business reputation

Customer trust is the number one aspect in running a business. Even with the disaster strikes, that trust has to be maintained at all costs. That’s why aiming for low RTO is important. Low RTO means there is minimum or no perceivable disruption of business operation to your customer. So trust can be maintained and the business can avoid a bad reputation.

If you want to find out more about this session you can watch the online talk show again on our Youtube account here. And if you are interested in our Disaster Recovery as a Service solution to support your business continuity, you can contact us at sales@zettagrid.id or click here. SecondSite Service by Zettagrid can help your business achieve the lowest RTO and RPO in the industry without breaking the bank.