Posts

Mengapa Virtual Data Center Menguntungkan Bisnis?

data center bisnis

Mengapa Virtual Data Center Menguntungkan Bisnis?

Di era modern ini, virtualisasi dan agilitas menjadi indikator utama dalam memajukan bisnis. Dengan memanfaatkan keduanya, bisnis tidak hanya mampu berkompetisi secara digital, tapi kelangsungannya pun dapat berkembang secara optimal dalam jangka panjang. Oleh karena itu, solusi teknologi pun kian diminati oleh berbagai organisasi. Selain karena memanfaatkan virtualisasi, hal tersebut juga turut mempengaruhi agilitas bisnis.

Salah satu teknologi yang banyak dimanfaatkan oleh bisnis adalah Virtual Data Center. Pada artikel sebelumnya, Virtual Data Center disebut juga sebagai kumpulan dari kapasitas cloud (vCPU, RAM, HDD, dan satu atau lebih IP Public). Dengan kumpulan kapasitas tersebut, Anda dapat membuat virtual mesin dengan konfigurasi yang dibutuhkan dari template public catalog OS yang sudah terpasang atau menginstal OS dari image ISO Anda sendiri.

Selain itu, kapasitas Virtual Data Center (lokal network, NAT, Firewall, Load Balancer, VPN/Metro Ethernet, dan lainnya) serta pengelompokkan virtual mesin ke dalam cluster (vApp) juga dapat disesuaikan tergantung fungsi dan kebutuhan aplikasi bisnis. Dengan demikian, ini akan mendukung virtualisasi dan agilitas bisnis dalam mengembangkan produk, sistem, maupun menyimpan datanya.

Lalu, apa saja yang bisa bisnis rasakan dari Virtual Data Center?

Manfaat Virtual Data Center Bagi Bisnis

1. Manajamen biaya yang mudah dikelola

data center bisnis

(Source: zolak from Getty Images)

Secara umum, membangun data center on-premise memerlukan investasi keuangan yang besar dan berkelanjutan dalam membangun dan memelihara fasilitas, melatih karyawan, akuisisi hardware, dan biaya overhead. Namun hal tersebut tidak berlaku apabila bisnis memanfaatkan Virtual Data Center. Sebab komponen cloud-nya dipelihara dan dioperasikan oleh Penyedia Layanan Cloud, sehingga anggaran IT dapat dikelola secara efektif.

Tak hanya itu, layanan Virtual Data Center juga menyediakan sistem pay-as-you-go atau bayar sesuai penggunaan. Dengan model pembayaran ini, Anda dapat memprediksi pengeluaran operasional Anda dengan lebih akurat dan efektif.

2. Meningkatkan skalabilitas dengan cepat dan mudah

data center bisnis

(Source: monsitj from Getty Images Pro)

Saat melakukan pemeliharaan maupun peningkatan kapasitas data center on-premise, penyediaan server baru bisa memakan waktu mulai dari mingguan, hingga bulanan. Bahkan, menginstall Operating System (OS) dan server atau hardware pun memakan waktu hingga berjam-jam. Akibatnya, operasional pun membutuhkan waktu yang panjang agar bisnis bisa mengoperasikan sistem dan datanya secara optimal.

Dengan Virtual Data Center, Anda lagi-lagi tidak perlu melalui proses yang panjang tersebut. Dengan memvirtualisasikan data center bisnis, Anda dapat menyiapkan server bisnis dengan cepat sesuai template yang telah dikonfigurasikan sebelumnya. Tak hanya itu, penambahan kapasitasnya pun tidak lagi memerlukan pembelian hardware. Dengan demikian, bisnis pun dapat lebih efisien dan efektif untuk menambah kapasitas IT sesuai kebutuhannya.

3. Mempersiapkan bisnis dari risiko downtime

data center bisnis

(Source: AnnuchaCheechang from Getty Images)

Saat menggunakan data center on-premise, berbagai kendala yang mengganggu operasional sistem tentu berisiko menyebabkan bisnis mengalami downtime. Tak heran, banyak organisasi yang memanfaatkan data center on-premise, juga menggunakan daya listrik tambahan untuk memitigasi terjadinya downtime pada infrastruktur tersebut. Meski demikian, memanfaatkan daya listrik tambahan juga membutuhkan manajemen dan anggaran IT yang tak sedikit. Terlebih bila downtime yang dialami selalu rutin terjadi, anggaran pun pastinya akan membengkak seiring waktu.

Menggunakan Virtual Data Center yang High Availability bisa menjadi solusi untuk memitigasi bisnis dari risiko downtime. Dengan mengalihkan traffic pada server yang terkendala ke server lainnya, organisasi tidak perlu khawatir akan terhentinya operasional dan layanan bisnis. Dengan demikian produktivitas bisnis dan kepercayaan pelanggan dapat tetap terjaga.

4. Meningkatkan ketersediaan akses data

data center bisnis

(Source: ktsimage from Getty Images)

Pada dasarnya, Virtual Data Center yang High Availability dibangun pada suatu infrastruktur yang menjamin ketersediaan listriknya, pendingin ruangan, serta perangkat keras seperti storage, server, dan jaringan yang redundant. Beberapa hal tersebut diperlukan agar sistem cloud dapat bekerja secara optimal selama 24/7. Dengan demikian, ketersediaan akses ke sistem dan data bisnis pun dapat dimiliki oleh bisnis secara fleksibel.

Zettagrid Indonesia berkomitmen untuk menyederhanakan dunia IT yang kompleks dengan platform otomatis. Oleh karena itu, kami membangun lingkungan manajemen yang efisien dengan Virtual data Center VMware’s vCloud, di mana memungkinkan Anda mendapat solusi cloud yang aman dan scalable hingga kapasitas berapapun.  

Cari tahu informasi Virtual Data Center lebih lanjut di sini.

Bila Anda memiliki pertanyaan atau ingin berkonsultasi tentang solusi cloud, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id

3 Kiat Melindungi Data Bisnis dari Risiko Bencana

melindungi data bisnis

3 Kiat Melindungi Data Bisnis dari Risiko Bencana

Mungkin pepatah “Sedia payung sebelum hujan” sudah banyak Anda dengar di mana-mana. Baik untuk mempersiapkan kebutuhan maupun kegiatan sehari-hari, pepatah tersebut sering disematkan agar kita lebih bersiap menghadapi risiko kedepannya. Begitu pula ketika Anda membangun bisnis, pepatah ini bisa jadi acuan agar bisnis bersiap menghadapi ancaman yang potensial, termasuk salah satunya bencana.

Baru-baru ini, kebakaran telah terjadi di Kantor Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dilansir dari kompas.com, kebakaran bermula ketika kantor BPOM sedang ada perbaikan panel listrik di lorong F timur dan F barat. Meskipun kebakaran terjadi karena arus aliran pendek, namun CNN menyebut satu ruangan yang memuat arsip dan standardisasi napza rusak oleh kobaran api. Akibatnya, BPOM pun mengalami kerugian hingga Rp. 600 juta.

Kasus di atas mungkin bisa menjadi gambaran bagi organisasi untuk menghadapi bencana. Dengan mempersiapkan strategi keamanan data dan pemulihan bencana yang baik, bisnis bisa meminimalisir risiko atau kerugian yang mungkin terjadi.

Artikel ini akan memberikan Anda tips mempersiapkan pemulihan bencana yang baik untuk sistem IT bisnis. Penasaran seperti apa? Simak selengkapnya di bawah ini:

1. Menjaga tata kelola yang baik sesuai anjuran pemerintah

melindungi data bisnis

(Source: cyano66 from Getty Images Pro)

Tips pertama untuk melindungi data bisnis dari potensi bencana adalah dengan menjaga tata kelola yang baik sesuai anjuran pemerintah. Ini berarti organisasi dapat menyesuaikan regulasi infrastruktur IT-nya sesuai peraturan pemerintah yang ada. 

Bila menyangkut tentang perlindungan data dari bencana, bisnis bisa melihat ketentuan hukum Indonesia PP Nomor 71 tahun 2019, yang mewajibkan organisasi memiliki Disaster Recovery Center di Indonesia. Dengan mengimplementasikan peraturan tersebut, organisasi memiliki komitmen atas tata kelola yang baik atau good governance

2. Persiapkan solusi Disaster Recovery

melindungi data bisnis

(Source: Umnat Seebuaphans)

Bencana memang tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Bisa jadi ketika bisnis sedang berkembang pesat, bencana datang dan mengganggu sistem IT dan menyebabkan downtime hingga hilangnya data. Oleh sebab itu, solusi pun diperlukan agar bisnis bisa mempersiapkan risiko bencana yang mungkin terjadi.

Memiliki solusi Disaster Recovery berbasis cloud bisa menjadi pilihan untuk melindungi sistem IT dan data bisnis Anda. Kemampuannya yang bisa meningkatkan penyimpanan sistem dan data, memudahkan bisnis untuk memiliki akses terhadap sistem dan datanya ketika bencana terjadi. Oleh sebab itu, Anda tidak perlu lagi khawatir ketika potensi dan risiko bencana melanda bisnis Anda.

 3. Persiapkan strategi untuk hadapi potensi downtime ketika bencana terjadi

melindungi data bisnis

(Source: ilkercelik from Getty Images Pro)

Ketika bencana terjadi dan menghambat sistem IT, ini bisa menimbulkan downtime untuk organisasi. Akibatnya, tidak hanya sistem IT yang akan terkendala, tapi layanan dan operasional bisnis pun bisa terhenti karena bencana. Apabila bisnis tidak mampu mengatasi kendala downtime, tentu ini bisa mengakibatkan kerugian secara finansial.

Itulah mengapa, solusi Disaster Recovery sangat penting untuk dimiliki bisnis. Selain mempersiapkan bisnis dari potensi bencana, Disaster Recovery juga memudahkan bisnis untuk memiliki ketersediaan akses ke sistem dan datanya. Sehingga ketika bisnis dihadapkan oleh potensi downtime akibat bencana maupun hardware failure, Disaster Recovery bisa memulihkan Virtual Machine (VM) sesuai dengan skenario failover bisnis. Dengan demikian, bisnis bisa meminimalisir risiko dan kerugian yang mungkin terjadi.

Itulah beberapa tips yang bisa Anda ikuti untuk melindungi data bisnis dari risiko bencana. Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang solusi Disaster Recovery, Anda bisa menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.   

 

Mengapa Vulnerability Assessment Penting untuk Keamanan Siber?

vulnerability assessment penting

Mengapa Vulnerability Assessment Penting untuk Keamanan Siber?

Di era digital seperti sekarang, keamanan siber sangat penting untuk diutamakan oleh berbagai organisasi. Selain karena untuk memenuhi regulasi kepatuhan data perusahaan, strategi keamanan siber juga penting untuk melindungi data dari ancaman peretasan sistem hingga serangan hacker. Oleh karena itu, organisasi perlu memikirkan ulang fitur keamanan yang bisa digunakan untuk melindungi sistem IT-nya. Salah satunya dengan menggunakan Vulnerability Assessment.

Menurut searchsecurity.techtarget.com, Vulnerability Assessment merupakan proses identifikasi risiko dan kerentanan pada sistem, jaringan komputer, aplikasi, atau bagian lain yang ada di ekosistem IT. Fitur ini berfungsi untuk membantu bisnis menunjukan kelemahan di sistem IT seperti coding bugs, security holes, dan lainnya. Dengan demikian, organisasi dapat dengan cepat menambal kelemahan paling berisiko tersebut sebelum hacker mengeksploitasinya.

Lalu, apa yang bisa didapat organisasi ketika menggunakan Vulnerability Assessment?

vulnerability assessment penting

(Source: ninitta from Getty Images)

Secara garis besar, terdapat beberapa alasan mengapa Vulnerability Assessment penting untuk digunakan oleh organisasi. Beberapa di antaranya, ialah:

  • Organisasi dapat mengidentifikasi ancaman atau kelemahan keamanan sistem sejak awal sebelum pelanggaran terjadi.
  • Organisasi dapat dengan mudah memahami kerentanan berdasarkan prioritas, urgensi, serta dampak yang dapat ditimbulkan.
  • Melindungi pelanggaran data dan akses tidak sah lainnya.
  • Membantu perusahaan untuk terhindar dari denda atau tuntutan hukum jika terjadi pelanggaran data. 

Hal rentan apa saja yang bisa diungkap oleh Vulnerability Assessment?

vulnerability assessment penting

(Source: Wpadington from Getty Images)

Selain menginformasikan adanya kesalahan konfigurasi pada sistem IT, Vulnerability Assessment juga penting untuk mengungkap berbagai masalah yang terjadi pada sistem hardware maupun software. Beberapa di antaranya, ialah:

  • Kata sandi default pada perangkat tertentu
  • Perangkat yang menjalankan layanan yang tidak perlu
  • Layanan web yang mengandung unknown vulnerabilities
  • Layanan yang tidak seharusnya dijalankan di beberapa perangkat
  • Aplikasi berbahaya, seperti aplikasi peer-to-peer
  • Aplikasi pihak ketiga

Selain itu, banyak Vulnerability Assessment juga penting untuk mengawasi tanda-tanda hacker berdasarkan perilaku komputer. Dengan mengetahui hal tersebut, ini dapat membantu organisasi meminimalisir terjadinya peretasan data.

7 kiat membangun Vulnerability Assessment yang efektif

1. Mengidentifikasi dan memahami proses bisnis

Langkah pertama membangun Vulnerability Assessment yang efektif, dimulai dengan berfokus pada proses yang paling kritis dan sensitif. Dalam hal ini organisasi bisa mulai dengan regulasi kepatuhan penyimpanan data, privasi pelanggan, dan posisi kompetitif manajemen. Latihan ini akan membutuhkan upaya kolaboratif antara tim IT dan unit bisnis lainnya agar Anda bisa memahami proses kerja bisnis.

2. Identifikasi aplikasi dan data yang mendukung proses bisnis

Beri peringkat untuk setiap proses dan aktivitas bisnis, lalu tandai aplikasi dan data yang bergantung pada proses tersebut. Misalnya, satu departemen mungkin benar-benar membutuhkan akses email untuk melakukan pekerjaan mereka, sedangkan departemen lain tidak begitu membutuhkan email untuk aktivitas kerjanya.

3. Identifikasi setiap sumber data yang tersimpan

Untuk membangun keamanan siber yang efektif dengan Vulnerability Assessment, Anda tidak boleh lupa untuk memperhitungkan perangkat seluler dan PC Desktop. Hal ini dilakukan karena perangkat keduanya memiliki kemungkinan besar berisi data organisasi paling terbaru dan sensitif.

Tak hanya itu, Anda juga perlu mengidentifikasi pengguna perangkat tersebut untuk mengakses dan berbagi aplikasi serta data perusahaan. Dengan demikian, Anda dapat memahami bagaimana data dibagikan di antara pengguna tersebut. 

4. Ketahui jenis hardware yang digunakan untuk aplikasi dan data 

Mengurangi lapisan infrastruktur bisa menjadi cara untuk mengetahui server mana yang menjalankan aplikasi penting. Selain itu, Anda juga perlu mengidentifikasi perangkat penyimpanan data yang menampung data sensitif dari aplikasi yang digunakan tersebut. Sehingga, Anda bisa menentukan akses mana yang perlu diidentifikasi oleh Vulnerability Assessment.

5. Petakan infrastruktur jaringan yang menghubungkan perangkat 

Untuk membangun Vulnerability Assessment yang efektif, organisasi perlu memetakan infrastruktur jaringan yang menghubungkan perangkat. Anda bisa mulai dengan memahami router dan perangkat jaringan yang digunakan hardware untuk menghasilkan kinerja Vulnerability Assessment yang cepat dan aman. 

6. Identifikasi sistem keamanan pada infrastruktur Anda

Fitur keamanan seperti kebijakan sistem, firewall, intrusion detection, dan Virtual Private Networks kerap kali digunakan untuk melindungi sistem IT dan data organisasi. Bila Anda menggunakan salah satunya, maka sangat penting bagi Anda untuk memahami kemampuan fitur tersebut dan kerentanan yang ditangani secara langsung. Dengan demikian, ini akan membantu Anda dalam membangun Vulnerability Assessment yang efektif.

7. Jalankan Vulnerability Scan

Setelah tim Anda berhasil memahami dan memetakan aplikasi, data, serta infrastruktur dan perlindungan jaringan, maka selanjutnya tim IT perlu menentukan kapan waktu yang tepat untuk menjalankan Vulnerability Scan.

Itulah beberapa cara yang bisa Anda jalankan untuk mencapai Vulnerability Assessment yang efektif. Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang Vulnerability Assessment untuk memperkuat keamanan siber organisasi, Anda bisa menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

5 Serangan Siber Yang Perlu Bisnis Waspadai

serangan siber

5 Serangan Siber Yang Perlu Bisnis Waspadai

Saat mengembangkan bisnis, Anda pastinya telah memprediksi segala jenis ancaman dan potensinya terhadap keberlangsungan perusahaan. Mulai dari bencana alam, human error, hingga serangan siber, ketiganya memiliki potensi bahaya terhadap operasional bisnis. Terutama bila dikaitkan dengan kehilangan data perusahaan.

Di masa pandemi COVID-19 seperti sekarang, serangan siber menjadi ancaman paling tinggi untuk berbagai organisasi. Seiring banyaknya pengguna yang bekerja dan belajar dari rumah secara daring, pelaku serangan siber pun semakin gencar untuk melancarkan aksinya. Bahkan Cisco Umbrella pun melaporkan setidaknya terjadi peningkatan sebesar 40% serangan siber pada pandemi tahun lalu.

Melihat kasus ini, tentunya bisnis tidak hanya harus melindungi datanya. Mengenal segala jenis serangan siber juga perlu dilakukan agar strategi perlindungan data dapat dieksekusi tim IT dengan maksimal. Lalu jenis serangan siber apa saja yang perlu diwaspadai bisnis?

1. The Corporate Spies

serangan siber

(Source: South_agency from Getty Images Signature)

Banyak perusahaan melanggengkan jenis serangan siber The Corporate Spies untuk menyusup atau meretas sistem IT para pesaingnya. Dengan menggunakan peretas untuk melakukan spionase pada para pesaing bisnis, perusahaan bisa mencuri data penting pesaingnya seperti rencana bisnis, hak paten, data keuangan, kontrak, dan lainnya. Salah satu contoh kasus yang bisa diambil dari serangan siber satu ini adalah Compulife – NAAIP. 

Pada tahun 2020, Compulife Software, Inc. menuduh pesaingnya melakukan spionase untuk meretas dan mencuri data miliknya. Bukti juga menegaskan bahwa NAAIP menyewa seorang peretas untuk spionase perusahaan. Meski pengadilan kelas bawah memutuskan bahwa spionase tersebut tidak terhitung  sebagai kejahatan, Pengadilan Sirkuit justru tidak setuju dengan putusan tersebut dan memvonis NAAIP bersalah.

2. Nation-State Hackers

serangan siber

(Source: Wpadington from Getty Images)

Menurut Search Security, jenis serangan siber satu ini sering digunakan oleh pemerintah untuk meretas sistem maupun melakukan tindakan kejahatan terhadap rivalnya. Pernyataan tersebut dapat didasari ketika melihat serangan Solarwinds yang menyebabkan pelanggaran jaringan besar-besaran, hingga memungkinkan peretas untuk membocorkan ribuan data organisasi secara global, termasuk data pemerintah Amerika Serikat.  Lalu, bagaimana ini bisa terjadi?

Pada serangan siber tersebut, peretas memasang malware mereka ke SolarWinds, sebuah perusahaan yang memproduksi platform pemantauan kinerja IT yang disebut Orion. Perlu diketahui, ribuan perusahaan di seluruh dunia menggunakan perangkat lunak yang diproduksi oleh SolarWinds tersebut. Karena telah disusupi oleh malware, semua perangkat lunak dari pelanggan SolarWinds akhirnya tercemar pada bulan Maret hingga Juni 2020.

AS meyakini bila peristiwa tersebut terjadi karena ulah rusia. Tapi itu tidak sepenuhnya benar, ada juga kelompok peretas yang diduga memiliki hubungan dengan pemerintah Korea Utara dan Iran. 

3.  Script-Kiddies

serangan siber

(Source: kaptnali from Getty Images)

Meskipun dianggap amatir karena banyak meretas demi kesenangan, tapi Anda tidak boleh menganggap remeh serangan siber jenis Script-Kiddies. Serangan jenis satu ini cukup dikenal setelah memaksa ratusan website offline pada Jumat 2016 lalu. Bahkan, para ahli juga mempercayai bahwa Script-Kiddies sering membantu penjahat serius melalui penyelidikan sembrono dan kompromi sistem mereka.

Maka dari itu, Anda perlu berhati-hati agar bisnis dapat terlindungi dari serangan siber satu ini. Tapi, bagaimana caranya agar sistem IT terhindar dari serangan Script-Kiddies? Berikut tipsnya:

  • Perbarui perangkat lunak keamanan Anda secara teratur.
  • Lacak lalu lintas situs Anda secara teratur.
  • Jangan gunakan kata sandi yang lemah.

4. Cryptojackers

(Source: stevanovicigor from Getty Images Pro)

Cryptojackers merupakan jenis serangan siber yang mencuri daya komputasi dan sumber daya pengguna untuk meraup cryptocurrency. Dilansir MUO, McAfee pernah mengalami peningkatan 4000 persen dalam malware penambangan kripto pada 2019 lalu. Yang paling menakutkan, peretas beralih dari mengkompromikan PC pengguna individu dan perangkat seluler hingga menyusup ke situs web populer dan menyebarkan malware ke siapapun yang mengunjunginya.

Melihat kasus tersebut, Anda tentu perlu berhati-hati dalam melindungi data dan perangkat perusahaan. Maka dari itu, untuk meminimalisir potensi serangan cryptojackers, Anda bisa mengikuti tips berikut:

  • Selalu waspada terhadap perubahan perilaku perangkat Anda.
  • Gunakan selalu plugin, aplikasi, dan add on yang Anda kenal dan terpercaya.
  • Sebelum mengunduh aplikasi apapun, pastikan itu ditinjau dengan baik, diperbarui secara berkala, dan memiliki unduhan yang cukup.

5. Ransomware Sewaan

(Source: Zephyr18 from Getty Images Pro)

Banyak kelompok peretas terkenal di seluruh dunia menyediakan ransomware untuk disewakan. Kelompok-kelompok tersebut biasanya mengikuti model Ransomware as a Service (RaaS), di mana mereka menyewakan ransomware seperti pengembang perangkat lunak menyewakan produk Software as a Service (SaaS).

Salah satu yang cukup populer dari kasus ini adalah grup ransomware Darkside. Peretas tersebut menyerang Colonial Pipeline, sistem pipa minyak Amerika yang membawa bahan bakar jet dan bensin di sekitar AS. Akibat dari serangan siber tersebut, seluruh manajemen mengalami kerugian lebih dari $15 miliar.

Sebagai pengusaha, Anda pasti tidak ingin bisnis tertimpa ransomware seperti di atas bukan? Maka dari itu, strategi perlindungan data sangat penting untuk dimiliki oleh perusahaan, sehingga risiko kehilangan data bisa diminimalisir semaksimal mungkin. Lalu, bagaimana caranya agar bisnis mencapai strategi perlindungan data yang efektif untuk menghindari serangan siber? Ketahui tips selengkapnya dengan mengunjungi artikel ini.

Zettagrid Indonesia merupakan salah satu penyedia layanan cloud di Indonesia yang menyediakan Infrastructure as a Service (IaaS) seperti Virtual Data Center (VDC), Virtual Private Server (VPS), Backup as a Service (BaaS), Disaster Recovery as a Service (DRaaS), dan lainnya. Bila Anda memiliki pertanyaan tentang solusi atau keamanan cloud, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

4 Benefits of AI in Cloud Computing

AI in cloud

4 Benefits of AI in Cloud Computing

 In this modern era, digital technology like Artificial Intelligence (AI) has become one of the solutions to boost the development of various industries. With its capability to automate business or even its operations, AI is believed to be the technology that increases company productivity. Therefore, it is not a surprise anymore to see the market of AI in the oil and gas industry predicted to reach US 3,81 Billion Dollars, with a CAGR of 10,96% for 2020-2025.

However, developing AI systems requires large data sets. If the organization only relies on the local premise, AI deployment will result in a big investment and inefficiency considering the On-Premise will need maintenance. That’s why before AI development is going further, organizations need to look for an efficient solution. One of them is by implementing Cloud Computing.

The combination of AI and Cloud Computing results in an extensive network capable of holding massive volumes of data, while continuously learning and improving. Hence, both assist in the automation of routine activities within IT infrastructure and result in IT efficiency.

Not only that but developing AI in Cloud Computing also has benefits for the organization. All of them can be seen below here:

1. Automate the workflow

AI in cloud

(Source: Wright Studio from Shutterstock)

Running IT resources and business operations at the same time can be overwhelming for some organizations. Even if it’s also implemented AI, a business can find it difficult to manage its workflow and IT efficiency. But no worries, as long as Cloud Computing can be used for AI, the organization can pass the challenge and achieve maximum productivity.

AI can automate complex and repetitive tasks to boost productivity and perform data analysis without any human intervention. So, when the organization develops AI in Cloud Computing, the IT team can focus on strategic operations while AI performs regular tasks. Hence, the organization can be more efficient, strategic, and insight-driven.

2. Maintain organizations data management

(Source: Alexander Supertramp from Shutterstock)

Besides increasing efficiency and flexibility, developing AI in Cloud Computing would also play a significant role in processing, managing, and structuring data.

By using cloud for AI, organization can boost marketing, customer care, and supply chain data management with more reliable real-time data. AI tools streamline how data is ingested, modified, and managed. For example, organization can deploy AI tools into Zettagrid Indonesia cloud to get real-time personalization, detect cyber threats, and maintenance scenarios.

3. Deeper Insights

AI in cloud

(Source: NicoElNino from Shutterstock)

Developing AI in Cloud Computing can identify patterns and trends in vast data sets. It uses historical data and compares it to the most recent data, which provides IT teams with well-informed, data-backed intelligence.

On top of that, using cloud computing for AI tools can also perform data analysis fast so organizations can rapidly and efficiently address customer queries and issues. The observations and valuable advice gained from AI capabilities result in quicker and more accurate results. Therefore, the cloud is efficient for business continuity.

4. Lowering costs

AI in cloud

(Source: Palto from Shutterstock)

A big advantage of Cloud Computing is that it eliminates costs related to on-site data centers, such as hardware and maintenance. Those upfront costs can be prohibitive with AI projects, but in the cloud enterprises can instantly access these tools for a monthly fee making research and development-related costs more manageable. Additionally, AI in cloud can gain insights from the data and analyze it without human intervention. That’s why, it is more efficient not only in cost but also in human resources.


Zettagrid Indonesia is a Cloud Service Provider in Indonesia that provides Infrastructure as a Service (IaaS) such as VMware Virtual Data Center, VMware Virtual Server, Veeam Backup, and so on. If you have any questions related to our cloud solutions for AI, you can reach us here or through sales@zettagrid.id.

 

Zettagrid Indonesia Raih DELL Technologies Best Solution CSP Partner Awards

Zettagrid solution partner

Zettagrid Indonesia Raih DELL Technologies Best Solution CSP Partner Awards

16 Juni 2021 menjadi salah satu hari sukses bagi Zettagrid Indonesia. Komitmen Zettagrid Indonesia untuk memberdayakan pelanggan dalam memenuhi kebutuhan IT, menorehkan perusahaan pada acara DELL Technologies Partner Business Conference Award yang diselenggarakan oleh DELL Technologies secara daring melalui online conference.

Dilansir dari delltechnologies.com, DELL Technologies Partner Business Conference Award merupakan acara tahunan untuk para mitra DELL Technologies. Melalui program ini, DELL Technologies berupaya untuk merayakan kesuksesan dan menanti peluang besama para mitra di masa depan.

Sebagai mitra DELL Technologies, Zettagrid Indonesia merasa terhormat untuk menjadi salah satu partisipan sekaligus nominasi acara dalam salah satu kategori yang diusung. Tak hanya itu, Zettagrid juga turut berbangga atas pemberian penghargaan “Best Solution Cloud Service Provider (CSP) Partner of FY21” oleh DELL Technologies pada acara tersebut.

Bagi perusahaan, penghargaan ini tidak hanya merupakan pengakuan atas kinerja positif Zettagrid Indonesia dalam meningkatkan pertumbuhan bisnis DELL Technologies di tahun 2021. Tetapi, ini juga menjadi peluang bagi Zettagrid untuk terus tumbuh bersama DELL Technologies dalam membangun Industri Teknologi yang lebih maju di Indonesia.

Read more

Drive Business Innovation With The Cloud

drive business with cloudDrive Business Innovation With The Cloud

Many businesses currently rely on the cloud solely to save money or add simple mobility, but these organizations are hardly scratching the surface of the cloud’s true capabilities. Cloud Computing offers countless opportunities to drive business innovation, and it’s time for the business world to take advantage of this.

Zettagrid Indonesia with Dell Technologies invites you to hear what Pajak.io and PT. IndoSterling Aset Manajemen said about how cloud computing could drive its business innovation and their experiences also tips to maximize the usage of cloud computing. Meet Arif Darmawan as ISV and CSP Lead Dell Technologies, Jefriansyah Hertikawan as CTO & Co Founder of Pajak.io, also Supriadi as IT Coordinantor PT. IndoSterling Aset Manajemen on Zettagrid e-CloudTalk vol.06: Drive Business Innovation With The Cloud”:

 

Event Details:
Date: Thursday, 24 June 2021
Time: 02.00 – 04.00 PM
Where: Zoom Meetings

 

Event Agenda:

  • Building a Better Cloud Begins with Better Infrastructure – Arif Darmawan, ISV & CSP Lead DELL Technologies Indonesia.
  • Sharing experiences and live talkshow with guest speakers

Register now and get chance to win FOLDABLE BIKE and SMARTWATCHES also get a chance to win shopping vouchers at the end of the event.

What To Prevent In Migrating To Cloud? 

migrating to cloudWhat To Prevent In Migrating To Cloud? 

In expanding business systems, enterprise often look for the best asset for integration. Technology such as Cloud Service Provider can be an option for business integration systems. Not only because it’s affordable, but it also can be allocated and changed in minutes. Even enterprises technology elites are spending dollars on the Public Cloud these days. Thus, it can be a good idea for a business long-term investment.

However, implementing cloud infrastructure can’t be defined as a solution to fix existing problems, such as data mess, application issues, inadequate security, or frequent outages due to a lack of operational disciplines and tools. Once business migrates these issues, it will end up with less-than-optimal systems in the cloud. Moreover, it can get worse if the IT department still be on the learning curve of using the Public Cloud. So, it will be increasing risk and cost without improving any of its systems.

Therefore, business needs to know what mistakes in migrating to the cloud. No worries, below here we have compiled three things that needed to avoid in cloud migration. Read them below here:

1. Migrating all business data to the cloud

migrating to cloud

(Source: jirsak from Getty Images)

In developing a business, having multiple sources is important for storing enterprise data. But if you don’t look at this side, then you just make a big mistake for business continuity.

Having a massive number of redundant databases and no one knows where all the data is, can be fatal for the business. Moreover, if the business decided to migrate all data – including the complex one – to the cloud, it will not improve everything except for causing a new problem. Therefore, consider and segmented what to store and integrated into the cloud is important to do. Thus, business investment in cloud infrastructure can be effective and beneficial.

2. Forget to secure the data

migrating to cloud

(Source: stevanovicigor from Getty Images)

Migrating certain data to cloud infrastructure must include proper security practices from the organization. Even, a change is needed once the data move. But, if your organization does no comply with this practice, then you just caused a new problem for cloud migration.

As migrating encrypted data to the cloud, the organization certainly thinks if the assets are normally well-locked down. Little did they know, it is easy to inadvertently create vulnerabilities in the cloud since customers are responsible for setting many security controls around their apps and data. That’s why securing the data by encrypting them is important for the organization before it is being moved to the cloud.

3.  Assuming that all cloud environments are the same

(Source: Denis Isakov from Getty Images Pro)

Once business decided to migrate their system to cloud, they can’t assume that all cloud environments are the same. Every cloud provider designs their cloud differently, specializing in different functions and capabilities for their deployment.

That’s why in migrating to cloud, business should never blindly do it from one cloud to another before becoming familiar with its new environment. Otherwise, the migration process will be a problem while organization needs to struggle to reconfigure data to fit the new environment.

Zettagrid Indonesia is a Cloud Service Provider in Indonesia that provides Infrastructure as a Service (IaaS) such as VMware Virtual Data Center, VMware Virtual Server, Veeam Backup, and so on. If you have any questions related to the effective backup strategy or cloud solutions, you can reach us here or through sales@zettagrid.id.

 

Try This 4 Steps To The Effective Backup Strategy

effective backup strategyTry This 4 Steps To The Effective Backup Strategy

In managing a business, enterprises certainly think that data is the key to its success. Along with the record of data that is collected and increasing by the day, enterprise can optimize and grow their business in a better way. That’s why the availability of data must be kept and protected to prevent its loss.

Building a backup strategy can be one of the options that give enterprise peace of mind. By having the copy of data or its backup, enterprise don’t have to worry more if threats like human errors, overwritten data, and even ransomware strike business systems.

Additionally, backing up business data will also let the business get back up and running after its end-point protection software got breached. In this case, ransomware even required an effective backup strategy to defeat. Therefore, having a very current backup of everything located off-site with effective security can help to defeat ransomware easier.

This article has listed four steps to help enterprise build effective backup strategy. Read them below here:

1. Create Multiple Copies

effective backup strategy

(Source: alengo from Getty Images Signature)

When we talk about data backup, business needs to create multiple copies in multiple areas. In this case, enterprise can implement the 3-2-1 rule for backup to protect its data. But, what is the 3-2-1 rule?

The 3-2-1 rule was stated by US photographer Peter Krogh while writing a book about digital asset management. Here’s the recap:

  • Three: Three copies of business data should be maintained. One is the original or production copy, then the two are the backup copies. All copies contain the same data from the same point in time. This method aims to save at least one copy of data once the others fail or disappear.
  • Two: Two copies of business data exist on media that are separate from one another, even if those are in the same geographic location. For example, one copy on a server, and the other would be on an external hard disk.
  • One: One data copy exists in an offsite location. This could be in another office, data center, or in the cloud.

2. Implement Your Backup on Public Cloud

effective backup strategy

(Source: model-la from Getty Images)

As the previous point before, physical storage is not enough to protect business data from threats. Therefore modern alternatives are needed by enterprises for optimizing the data protection strategy. One of them is by implementing backup on Public Cloud Service Provider.

Numerous Cloud Service Providers offer Backup-as-a-Service (BaaS) for business. That way, a business can be able to protect its data by provision and run its backup from Public Cloud infrastructure. Furthermore, the BaaS is even simpler than other software, because there are no operating systems or hardware to configure by the business.

3. Engage Services that Focus on Data Safety

(Source: jirsak from Getty Images)

The cloud has become a fantastic aid to companies looking to quickly and easily implement a reliable backup strategy. Prices are low, standards are open, not proprietary, on-site hardware is also low or even nonexistent, and your data can be accessed or fully restored from practically anywhere. That’s why its services are beneficial for business. 

However, using a cloud service provider for the effective backup strategy also includes a Service Level Agreements (SLA), which details what security measures are being used and how it is enforced. That’s why business needs to identify what security features that provider can offer based on its SLA. 

Not only that but security certifications like ISO27001, ISO9001, and PCI DSS are also needed to be considered in looking for a provider. That way, business would know that the provider has a guarantee in securing its client’s data.

4. Automate Your Backups

effective backup strategy

(Source: 5432action from Getty Images)

Backing up data manually every time there’s a concern can be troublesome for business. Especially, when business doesn’t acknowledge how to set automatic constant data backup. It would be a problem not only for the business operation but also for its services when disaster occurred.

That’s why setting and scheduling automatic backups on a constant and recurring basis is needed. So, business don’t have to worry more if disaster occurs, because this backup strategy has been prepared to replicate business data regularly.  


Zettagrid Indonesia is a Cloud Service Provider in Indonesia that provides Infrastructure as a Service (IaaS) such as VMware Virtual Data Center, VMware Virtual Server, Veeam Backup, and so on. If you have any questions related to the effective backup strategy or cloud solutions, you can reach us here or through sales@zettagrid.id.

3 Tips to Successful Hybrid Cloud Management

successful hybrid cloud

3 Tips to Successful Hybrid Cloud Management

In this modern era, data becomes one of the critical assets that can drive business. The velocity at which it is being generated and the volume of data collected by the business are increasing and accelerating by the day. Even, IDC’s research estimates that 463 exabytes of data will be generated every day by 2025. With this volume, can you imagine how big the challenge can be for storing a company’s data?

Traditional storage is not enough to store the growing volume of data since maintenance and hardware investment are often needed to optimize its capacity. That’s why a solution is needed by enterprise in managing the system and data flexibly in store. One of them is by implementing a successful Hybrid Cloud strategy.

However, planning and preparing for data management in the Hybrid Cloud only is not enough. Some key aspects also have to keep operating to achieve the maximum data management in Hybrid Cloud. In this article, we have compiled three things to successful Hybrid Cloud management. Curious to know how? Check them below here:

1. Identify How it Works

(Source: katemangostar from Freepik)

Once you know Hybrid Cloud can be a solution to your data management, you need to understand how it works. This not only includes finding good tools, but it also involves strategies.

The first step is to understand what you need to manage are:

  • Verifying the applications involved and what they do
  • Gaining visibility into the way users interact with the applications
  • Understanding the criticality of the workloads to the business
  • Identifying who owns the workloads
  • Confirming where workloads run 

2. Monitor the Hybrid Cloud Security Provider

(Source: rvlsoft from Getty Images)

In simplifying data management in Hybrid Cloud environment, business also needs to understand the requirements for security and governance. Hybrid Cloud security needs to be a focus from the start, and mechanisms like identity and access management (IAM) make it simpler by giving business ways to assign the identities to servers, people, devices, and data. Thus, it would be easy to manage the access. Not only that but the security also requires encryption for all information, both when it’s at rest and when it’s in use.

Additionally, Service Level Agreements (SLA) also need to be considered as part of the successful Hybrid Cloud management. SLAs are contracted promising specific levels of service to the end-user, with penalties if those levels aren’t met. Knowing those promises is an essential part of making sure the hybrid cloud manager meets expectations.

3. Determine Tools to Support Hybrid Cloud

(Source: Natali_Miz from Getty Images)

The additional key to effective data management is by choosing from the many hybrid cloud management tools. This can be concluded either as a solution or a consolidated hybrid cloud management platform.

The tools to support a successful Hybrid Cloud also cover many areas, such as performance management, resource management, security management, and network management. The capabilities to look for in these types of solutions can be:

  • Having a unified view of all the cloud environments, including what applications and services are running.
  • Providing alerts and actionable data to help streamline workloads.
  • Delivering seamless service to end-users.

Those are some tips that you can implement to build successful Hybrid Cloud management. If you have any questions related to Hybrid Cloud solutions, you can contact us here.


Zettagrid Indonesia is a Cloud Service Provider in Indonesia that provides Infrastructure as a Service (IaaS) such as VMware Virtual Data Center, VMware Virtual Server, Veeam Backup, and so on. If you have any questions related to our solution, you can reach us here or through sales@zettagrid.id.