Posts

Mengapa Backup Data NAS Lebih Baik di Cloud?

backup data NAS

Mengapa Backup Data NAS Lebih Baik di Cloud?

Menjaga data agar tetap aman bukan hal yang mudah bagi beberapa perusahaan. Terkadang, ancaman kehilangan dapat terjadi dan risiko pun tidak dapat terhindari. Akibatnya, penyimpanan dalam jumlah lebih sering kali disiapkan oleh perusahaan untuk memenuhi kapasitas data yang kian meningkat. Salah satunya dengan memanfaatkan Network Attached Storage (NAS).

Seperti dilansir pada artikel sebelumnya, penggunaan NAS sudah tidak lagi asing di mata perusahaan, baik Usaha Kecil Menengah (UKM) maupun perusahaan besar. Selain dimanfaatkan untuk menyimpan dan melakukan backup file, NAS juga dapat dialih fungsikan untuk banyak hal, misalnya sebagai file server, virtualisasi, web-server, video surveillance, sinkronisasi data, dan banyak lagi.

Karena banyaknya fungsi dan pemanfaatan NAS tersebut, banyak pelaku usaha tidak hanya memanfaatkan satu NAS saja. Satu hardisk hingga NAS lebih pun diinvestasikan untuk memenuhi kapasitas pertumbuhan datanya. Padahal jika Anda pikirkan, hal ini tentu lebih tidak efisien dan ancaman kehilangan data seperti kerusakan sistem, human error, serangan siber, hingga pencurian hardisk atau NAS, masih tidak terlepas dari penggunaan tersebut.

Lantas, apa solusi yang tepat untuk lindungi data di NAS?

Cloud untuk Lindungi Data di NAS

Memanfaatkan solusi Cloud Backup bisa menjadi pilihan bagi perusahaan yang ingin melindungi datanya di NAS. Dengan menyalin data di lokasi off-site, perusahaan pun tidak perlu lagi khawatir akan risiko yang mungkin terjadi ketika data hilang.

Memiliki kemampuan mencadangkan data yang bisa dijadwalkan baik per-hari, per-minggu, hingga per-bulan, Cloud Backup dikenal sebagai solusi yang lebih fleksibel jika dibandingkan dengan solusi backup tradisional lainnya. Perusahaan juga tidak perlu lagi berinvestasi hardware untuk memenuhi pertumbuhan data, karena penyimpanan Cloud Backup dapat diskalabilitaskan sesuai dengan kapasitas data yang dimiliki oleh perusahaan.

Manfaat Cloud Backup untuk Data NAS

1. Melindungi data dari kerusakan penyimpanan fisik

Seperti yang dikatakan sebelumnya, mencadangkan data di cloud berarti Anda menyimpan salinan data di lokasi off-site. Alhasil, data yang dicadangkan tetap akan terlindungi ketika terjadi kerusakan fisik pada penyimpanan utama, NAS, atau pada sistem IT perusahaan.

2. Aman dari ancaman bencana alam

Begitu pula ketika perusahaan Anda dilanda bencana alam seperti banjir, gempa bumi, dan kebakaran. Meskipun sistem IT perusahaan mengalami kerusakan akibat kendala tersebut, data yang dicadangkan ke cloud tetap terlindungi tanpa terjadi kerusakan atau corruption. Bahkan, perusahaan masih bisa memulihkan datanya dari cloud untuk mengganti data yang rusak atau yang hilang.  

3. Terhindar dari ancaman Human Error

Meskipun sudah sering terjadi, namun ancaman human error seperti menghapus data secara tidak sengaja masih tidak dapat dihindari, baik di penyimpanan lokal utama atau di NAS. Akibatnya, aset data menghilang dan berbagai risiko pun dapat ditemui oleh perusahaan.

Namun, Anda tidak perlu khawatir akan ancaman ini ketika mencadangkan data ke cloud. Karena dengan cloud, data yang dicadangkan akan terlindungi dari ancaman apapun, sekalipun penghapusan data secara tidak sengaja.

4. Pengguna masih dapat mengakses data yang sudah dicadangkan lama

Mencari data yang sudah disimpan lama seperti berhari-hari, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun lalu memang mewalahkan. Apalagi jika data yang disimpan tertimbun dengan data lainnya, atau corrupt akibat penyimpanan data fisik mengalami kerusakan, pastinya pencarian data sudah pasti terkendala.

Berbeda halnya bila Anda memanfaatkan Cloud Backup. Dengan solusi satu ini, data yang dibackup sudah pasti terlindungi dari kerusakan hardware dan bencana. Selain itu, kapasitas penyimpanannya yang fleksibel dan bisa diskalabilitaskan memudahkan perusahaan untuk memenuhi kapasitas penyimpannya. Sehingga, data yang sudah dibackup sejak lama seperti beberapa hari, bulan, maupun tahun lalu masih dapat diakses pengguna.

5.  Alokasi anggaran lebih efisien

Bila Anda memanfaatkan penyimpanan atau solusi backup lokal seperti hardisk atau NAS, investasi hardware sudah pasti diperlukan oleh perusahaan. Terlebih, bila penyimpanan backup lokal sudah tidak lagi memenuhi kapasitas jumlah data, Capital Expenses tentu akan dikeluarkan perusahaan untuk pembelian hardware lebih seperti hardisk atau NAS. 

Berbanding terbalik jika perusahaan memanfaatkan Cloud Backup. Dengan solusi satu ini, alokasi anggaran perusahaan dapat dijalankan secara efisien mengingat perusahaan hanya perlu membayar biaya langganan cloud tanpa disertai investasi hardware apapun.

Memanfaatkan Arupa Object Storage

Cloud Backup seperti Arupa Object Storage bisa menjadi solusi untuk perusahaan yang ingin melindungi data NAS dari ancaman kehilangan. Kompatibel dengan S3 Protocol yang dapat digunakan dengan berbagai aplikasi, Arupa Object Storage dapat menjadi solusi untuk berbagai keperluan perusahaan. Salah satu contohnya ialah untuk backup data NAS.

Zettagrid Indonesia merupakan penyedia layanan cloud lokal Infrastructure as a Service (IaaS) berupa Virtual Data Center (VDC), Virtual Server, Backup as a Service (BaaS), Disaster Recovery as a Service (DRaaS), dan lain-lain. Jika Anda memiliki pertanyaan mengenai solusi cloud, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

Integrate Your NAS Backup with The Cloud

How to Integrate NAS Backup to the Cloud

Integrate Your NAS Backup with The Cloud

Penggunaan Network Attached Storage (NAS) telah menjadi pilihan bagi banyak perusahaan seperti solusi NAS yang dikeluarkan oleh Synology dan QNAP. Namun, seiring dengan tingginya pertumbuhan  jumlah data yang disimpan dalam NAS, maka risiko kehilangan data pun semakin besar, misalnya jika terjadi kerusakan pada perangkat, kehilangan data akibat human error, virus atau malware, maupun bencana yang tak terduga. Untuk itu, anda memerlukan proteksi yang lebih baik, salah satunya dengan melakukan backup untuk NAS anda ke cloud.

Temukan caranya di webinar “Arupa Expert Talks: Integrate Your NAS Backup with The Cloud”.

Hari/Tanggal: Kamis, 16 Desember 2021

Pukul: 14.00 – 16.00 WIB

Di Zoom

Link registrasi: bit.ly/arupaexperttalks1

Narasumber: Ferriyanto Suryanto – Direktur Exalogi

Moderator: Bobby Sidharta – Project Manager Arupa Cloud Nusantara

Daftar sekarang dan dapatkan e-certificate gratis dan kesempatan untuk memenangkan shopping voucher ratusan ribu rupiah.

 

 

What Need to Look For in Choosing Disaster Recovery?

choosing disaster recovery

What Need to Look For in Choosing Disaster Recovery?

As business evolves, utilizing Disaster Recovery is an important aspect for business systems and data to stay protected. By placing the safety backup plan on a secondary data center, enterprise can secure its business continuity out of the risk of downtime and data loss. Therefore, Disaster Recovery can be a solution for enterprise to minimize the loss of revenue, reputation, and all business data.

However, finding the right Disaster Recovery requires more technical level and the management experts to systematically meet those critical objectives. Moreover, not all Disaster Recovery capabilities are created equal. So, if your business needs to find Disaster Recovery solution, try not to focus on one cloud provider solution. Here are the tips to find the Disaster Recovery that your business needs:

1. Look for the reliability 

In requirement of choosing the best Disaster Recovery solution, a service which is highly reliable is supposed to be the important aspect that business looking for. This can be said as the failover service is going to take 24 hours before it starts to work.

Therefore, business needs to check that the cloud provider offers the high reliable Disaster Recovery. So, if your business experiencing downtime, the solution will be activated and begin to process your systems and applications.

2. Check the Flexibility

In this digital era, many businesses have turned to multi-cloud to optimize their IT environment. By adopting multi-cloud, IT departments not only can efficient their IT infrastructure, but also minimize the potential of hardware investment. That’s why this cloud model is often used for a solution for the company.

Disaster Recovery-optimized cloud is one of the popular drivers for multi cloud portfolios. But again, in looking for this solution, business needs to consider the cloud service provider who will work with you to customize the solution availability SLA. Thus, business will meet the flexibility in its IT infrastructure.  

3. Consider The ROI

 We all know, Disaster Recovery solution is a premium service and will cost more than backup and recovery services.

But still, calculate the cost of the service against business losses from a disaster event for true Return of Investment (ROI). According to enterprisestorageforum.com, when a mission- or business-critical application must be continuously available, Disaster Recovery solution will keep it up and running. This protects the organization from major financial hits, should a critical application be unavailable for hours or days.

4. Security Concerns

Besides reliability and flexibility, the security feature also has to be one of the concern for business in choosing Disaster Recovery solution. To counter these concerns, business needs to look for a cloud service provider which enables secure Disaster Recovery replication, failover, and failback.

Not only that, but business also need to determine if the offsite data center that the provider offers is physically and digitally secure, and that they have the certifications to prove it. The providers should also be in compliance with regulations like HIPAA to ensure the security for business.

Those are tips that business need to look for in choosing Disaster Recovery. If you need a further information about how to choose the exact Disaster Recovery solution for your business, you can join us on “Zettagrid e-Techday: Choosing The Best Disaster Recovery Solution For Your Business” on Thursday, 25 November 2021.

If you have any questions related to cloud solution, you can contact us here or at sales@zettagrid.id.

Object Storage Mencegah Risiko Ransomware, Bagaimana Caranya?

mencegah risiko ransomwareObject Storage Mencegah Risiko Ransomware, Bagaimana Caranya?

Pernah terbayang jika bisnis Anda diserang ransomware? Pastinya ini akan membuat perusahaan ketar-ketir mengingat akses ke sistem dan data bisnis tiba-tiba terenkripsi. Apalagi jika data tersebut berhubungan langsung dengan operasional dan layanan pelanggan, bisa-bisa kedua sistem ikut terhenti hingga  berdampak kepada kerugian serta turunnya reputasi perusahaan.

Dari pada menunggu itu terjadi, alangkah baiknya bisnis mempersiapkan solusi yang tepat untuk mencegah risiko ransomware. Memanfaatkan Object Storage untuk menyimpan data backup bisa menjadi pilihan untuk perusahaan, apabila telah memiliki aplikasi atau solusi backup untuk mencadangkan data.

Dengan menempatkan data backup di Object Storage, bisnis tidak hanya dapat meminimalisir kehilangan data akibat human error, tetapi juga mencegah risiko ransomware yang dapat terjadi kapan saja.

Baca juga: Cara Menentukan Object Storage untuk Bisnis Anda

Lalu, mengapa bisnis perlu menggunakan Object Storage untuk melindungi data dari ransomware?

mencegah risiko ransomware

(Sumber: glegorly dari Getty Images Signature)

Teknologi saat ini telah cukup berkembang, begitu pula kemampuan para penggunanya. Terkadang, berkembangnya kemampuan ini sering dijadikan segelintir orang untuk berbuat jahat. Salah satunya saja pelaku serangan siber ransomware.

Di masa kini, kasus pelaku ransomware tidak hanya menargetkan sistem dan data utama bisnis saja, tetapi data backup pun ikut diincar. Mereka tahu, dengan menargetkan  data backup selain data produksi ini, akan memungkinkan mereka untuk menginfeksi dan melumpuhkan sistem secara keseluruhan. Ketika data backup bisnis mulai disusupi, pelaku memiliki lebih banyak ruang dan pengaruh untuk memaksa korban membayar tebusan.

Memanfaatkan Object Storage dengan fitur Object Lock bisa menjadi pilihan untuk bisnis dalam melindungi data backupnya. Dengan fitur satu ini, data backup yang telah tersimpan di Object Storage tidak mudah diubah atau dihapus hingga waktu tertentu oleh berbagai pihak. Sekalipun oleh tim departemen IT Anda.

Baca juga: Keunggulan Object Storage untuk Backup Data

Apa itu Object Lock pada Object Storage?

Menurut Backblaze.com, Object Lock merupakan fitur perlindungan untuk data backup di Object Storage yang bertujuan untuk mencegah perubahan maupun penghapusan file oleh pihak manapun. Untuk menggunakan fitur pada Object Storage satu ini, bisnis harus memiliki aplikasi backup tertentu yang kompatibel dengan S3 Browser, seperti salah satunya Veeam Backup. Jadi, jika bisnis Anda memiliki aplikasi backup tersebut, bisnis dapat mengaktifkan Object Lock dan menentukan lama waktu suatu object yang harus dikunci pada Object Storage.

Object Lock memungkinkan Anda untuk menyimpan Object menggunakan penulisan apapun. Artinya setelah ditulis, data tidak dapat diubah atau dihapus untuk jangka waktu tertentu. Tidak perlu khawatir akan adanya manipulasi, penyalinan, enkripsi, perubahan, atau penghapusan file selama waktu tersebut, karena Object Lock mampu mencegah siapapun untuk melakukan beberapa hal tadi, termasuk pemilik file hingga pelaku serangan ransomware.

Perlukah menggunakan Object Lock pada Object Storage untuk mencegah risiko ransomware?

Menggunakan Object Lock untuk melindungi data dan file Anda, berarti tidak seorang pun dapat mengedit, mengenkripsi, dan menghapus keduanya. Itulah mengapa, memanfaatkan fitur ini sangat penting untuk meminimalisir risiko serangan ransomware, mengingat data yang tersimpan tidak bisa disentuh oleh pihak manapun, termasuk pemilik data dan pelaku ransomware. Dengan demikian, fitur satu ini memberikan perlindungan yang sangat efektif terhadap risiko ransomware.

Arupa Object Storage dilengkapi fitur Object Lock untuk mencegah risiko ransomware

Arupa Object Storage (AOS) menyediakan fitur Object Lock untuk membantu Anda melindungi data backup dari serangan ransomware. Kompatibel dengan S3 Browser, ini memudahkan bisnis yang telah memiliki solusi backup dengan kompatibilitas yang sama untuk menyimpan data backup-nya di AOS. Sehingga, Anda dapat dengan mudah menciptakan data backup yang “immutable” atau tidak dapat diubah, dan mencegah risiko ransomware.

Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang Arupa Object Storage atau solusi cloud lainnya, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

 

Backup dan Disaster Recovery, Apa Bedanya?

backup dan disaster recovery

Backup dan Disaster Recovery, Apa Bedanya?

Backup dan Disaster Recovery menjadi dua teknologi yang populer di sektor bisnis maupun institusi publik saat ini. Berkat kemampuannya untuk mecadangkan sistem dan data organisasi, risiko kehilangan data dapat diminimalisir bisnis semaksimal mungkin. Itu sebabnya, Backup dan Disaster Recovery kerap dijadikan solusi dan strategi oleh organisasi untuk melindungi kelangsungannya dari ancaman kehilangan data.

Namun demikian, kedua solusi ini memiliki cara kerja dan konsep  yang berbeda, lho, dalam memulihkan sistem dan data organisasi. Bahkan, Backup dan Disaster Recovery merupakan dua teknologi yang terpisah secara praktik dan fungsi spesifiknya. Lalu, apa sih yang membedakan keduanya? Simak selengkapnya di bawah ini:

Pengertian Backup

backup dan disaster recovery

(Sumber: Andranik Hakobyan dari Getty Images)

Di era digital seperti saat ini, backup data sudah banyak dilakukan oleh organisasi dari berbagai sektor. Dengan melakukannya secara rutin, organisasi dapat mencadangkan dan menyimpan datanya di penyimpanan data sekunder.

Secara istilah, backup merupakan kemampuan untuk menyalin atau mencadangkan data asli ke medium penyimpanan yang berbeda. Cadangan data ini sering dijadikan strategi oleh organisasi maupun individu untuk menjaga datanya dari ancaman kehilangan seperti human error, ransomware, maupun hardware failure.

Pada berbagai kasus, membackup data bisa dilakukan dengan menggunakan solusi cloud backup dari penyedia layanan cloud. Dengan menggunakan solusi ini, bisnis bisa menyalin dan menyimpan datanya di solusi off-site dengan lebih fleksibel, efisien, dan dalam jangka waktu yang lama.

Baca juga: Kenali 5 Keuntungan Dalam Menggunakan Cloud Backup 

Lalu, bagaimana jika sewaktu-waktu data menghilang, bisakah organisasi mendapatkan datanya kembali?

Bisnis tentu bisa mendapatkan datanya kembali, apabila rutin membackup datanya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Jadi, jika bisnis Anda memanfaatkan cloud dan telah menentukan serta mengkonfigurasikan jadwal backup baik harian, mingguan, maupun bulanan, bisnis bisa mendapatkan salinan datanya kembali ketika mengalami masalah kehilangan data.

Pengertian Disaster Recovery

backup dan disaster recovery

(Sumber: rcphotostock)

Saat menjalankan bisnis, kita tidak dapat memprediksi kapan dan bagaimana suatu bencana dapat terjadi. Baik itu bencana alam seperti gempa bumi, banjir, atau bencana buatan seperti kebakaran. Apabila bisnis tidak siap dalam menghadapi masalah ini, tentu kelangsungan bisnis dapat terancam, mulai dari mengalami downtime, terhentinya operasional dan layanan bisnis, hingga hilangnya data.

Oleh sebab itu, solusi pemulihan data sangat diperlukan bisnis untuk menghadapi masalah ini. Salah satu teknologi yang bisa dimanfaatkan bisnis ialah Disaster Recovery.

Secara praktik, Disaster Recovery adalah sebuah konsep yang menempatkan perangkat IT, sistem, aplikasi, hingga data cadangan di data center sekunder.  Sistem ini dirancang khusus dengan tujuan agar bisnis bisa memulihkan sistem dan datanya, apabila bencana alam dan kegagalan operasional sistem dialami oleh bisnis.

Beberapa organisasi terkadang memahami Disaster Recovery secara keliru dan menganggap bahwa teknologi ini sama dengan backup. Padahal, keduanya memiliki cara kerja yang berbeda dalam memulihkan sistem dan data organisasi. Bila pada cloud backup, bisnis membackup sistem dan datanya ke cloud untuk melindungi bisnis dari kehilangan data akibat human error dan ransomware. Pada Disaster Recovery, justru bisnis menempatkan sistem, aplikasi, hingga data cadangannya di data center sekunder.

Jadi, ketika bisnis mengalami bencana alam atau downtime akibat kegagalan hardware, bisnis bisa memulihkan operasional IT-nya dengan mengaktifkan scenario failover. Dengan demikian, data center sekunder segera aktif untuk menyediakan data yang telah disalin dari data center primer kepada Anda. Di sisi lain, begitu data center sekunder aktif, yang primer pun segera melakukan pemulihan agar dapat digunakan kembali setelah bencana berhasil diatasi.

Baca juga: 5 Langkah Implementasi Disaster Recovery Saat Terjadi Bencana

Kesimpulan

Memanfaatkan cloud backup dan Disaster Recovery memang sangat diperlukan oleh bisnis untuk menjaga resource sistem dan datanya agar tetap tersedia. Namun, mengetahui kebutuhan secara spesifik juga penting untuk dilakukan bisnis untuk menentukan solusi yang tepat, mengingat Backup dan Disaster Recovery adalah dua solusi dengan sistem kerja yang berbeda.

Zettagrid Indonesia merupakan penyedia layanan cloud Indonesia menyediakan cloud Infrastructure as a Services (IaaS) berupa Virtual Data Center (VDC), Virtual Server, Backup as a Services (BaaS), Disaster Recovery as a Services (DRaaS), dan lainnya. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut tentang solusi cloud, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

Apa Solusi Cloud yang Tepat Untuk Manajemen IT Bisnis?

cloud untuk bisnis

Apa Solusi Cloud yang Tepat Untuk Manajemen IT Bisnis?

Menjaga perkembangan bisnis tidak semudah yang dibayangkan. Pikirkan saja, saat bisnis berkembang pasti ada sistem internal perusahaan lain yang juga ikut meningkat. Contohnya, sistem aplikasi, manajemen data, hingga infrastruktur IT lainnya. Bila permintaan infrastruktur IT ini terus meningkat, kapasitas tambahan pasti diperlukan. Apalagi jika bisnis masih menggunakan sistem IT tradisional, investasi lain untuk pemeliharaan dan penambahan server tentu akan dilakukan bisnis untuk menunjang infrastruktur IT.

Oleh karena itu, solusi lain pun diperlukan demi mempertahankan perkembangan bisnis dan menekan anggaran manajemen IT. Salah satunya dengan menggunakan solusi teknologi seperti Cloud Computing.

Pengertian Cloud Computing

cloud untuk bisnis

(Sumber: Denis Isakov dari Getty Images Pro)

Secara sederhana, cloud dalam istilah teknologi merupakan pengelompokkan banyak server di dunia internet yang mempunyai lokasi di banyak tempat. Namun, secara harfiah Cloud Computing berarti Komputasi Awan dengan ‘Awan’ yang merupakan metafora dari pengembangan infrastruktur berbasis internet. Jadi dalam kata lain, Cloud Computing adalah komputerisasi sebuah teknologi dan layanan yang berbasis internet seperti penggunaan aplikasi, penyimpanan file, database, dan sebagainya.

Cloud Computing memiliki berbagai manfaat yang dapat ditawarkan kepada bisnis, di antaranya:

  • Cloud mampu meningkatkan skalabilitas perusahaan.
  • Kapasitas penyimpanannya lebih fleksibel.
  • Pelanggan tidak perlu melakukan pemeliharaan dan peningkatan hardware.
  • Manajemen data bisnis lebih terstruktur dan dikelola dengan aman.
  • Lebih efisien karena pelanggan tidak lagi perlu membeli hardware.
  • Memiliki fitur backup dan restore.

Lalu,  apa saja jenis cloud computing?

Jenis Cloud Computing untuk Bisnis

1. Private Cloud

cloud untuk bisnis

(Sumber: user225590051k dari Freepik)

Secara umum Cloud Computing terbagi ke dalam dua bagian, yaitu Private Cloud dan Public Cloud. Private Cloud merupakan salah satu jenis cloud yang memiliki kemampuan scalability dan self service, namun arsitekturnya bersifat pribadi dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan single organization.

Tak hanya itu, Private Cloud juga merupakan single-tenant environment yang berarti bahwa organisasi yang menggunakan layanan tersebut tidak berbagi resource dengan organisasi lainnya. Cloud deployment satu ini bisa saja memiliki resource dan infrastruktur yang sudah ada di Data Center bisnis tersebut atau pada infrastruktur yang disediakan oleh penyedia layanan cloud. Pada beberapa kasus, single-tenant environment  diaktifkan dengan memanfaatkan virtualization software. Namun pada kasus lainnya, Private Cloud dan resource disediakan hanya untuk satu pengguna.

2. Public Cloud

cloud untuk bisnis

(Sumber: akephoto88755 dari Freepik)

Sementara Public Cloud merupakan kumpulan server fisik yang di-hosting di Data Center, di mana masing-masing server dirancang untuk menjalankan satu fungsi. Misalnya, satu node didedikasikan untuk menyediakan penyimpanan ke cloud, sementara node lainnya menangani komputasi, atau fungsi lainnya.

Kata Public Cloud dapat diartikan bahwa banyak pengguna yang berbagi platform cloud yang sama. Namun, masing-masing pengguna memiliki Virtual Machine (VM) dan setiap VM dipisahkan secara logical, sehingga tidak membahayakan atau bersinggungan dengan konfigurasi pengguna lain.

Public Cloud menjadi salah satu cloud deployment yang dapat dipertimbangkan oleh bisnis saat ini, mengingat sistem cloud satu ini dianggap bisa menjawab hampir seluruh permasalahan IT, seperti dari pengguna individu, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), bisnis Startup, hingga perusahaan berkembang yang memiliki kemampuan untuk meningkatkan kinerja infrastruktur IT mereka.

Di lain hal, Public Cloud memiliki pendekatan yang berbeda dengan detail di antaranya:

  • Semua sistem dan aplikasi yang dikelola masuk ke dalam satu Unified Pool Resource. Ini berarti, ada beberapa server yang saling terintegrasi untuk membagi workload setiap server. Sehingga, ketika terjadi failure di salah satu server tersebut, aplikasi yang dihost akan tetap berjalan normal. Hal ini terjadi mengingat semua resource saling terintegrasi di antara beberapa server.
  • Di sisi lain, setiap Guest OS (pengguna) pada Public Cloud juga mendapatkan resource komputasi yang dialokasikan secara khusus. Jadi, ketika server mengalami traffic yang tinggi di salah satu Guest OS, maka tidak akan berdampak kepada Guest OS lainnya.

Apakah Zettagrid Indonesia menyediakan Private Cloud dan Public Cloud?

Sebagai salah satu penyedia layanan Cloud Infrastructure as a Service (IaaS), Zettagrid Indonesia menyediakan Private Cloud dan Public Cloud untuk membantu manajemen infrastruktur IT bisnis. Adapun beberapa penggunaan Private Cloud dan Public dari Zettagrid Indonesia, ialah sebagai berikut:

1. Contoh Kasus Penggunaan Private Cloud

  • Mengamankan data bisnis

Dalam suatu organisasi, memang data seperti berkas karyawan, email, sistem customer relationship, berbagai desain produk, proposal, dan lainnya, menjadi aset berharga yang harus dijaga oleh bisnis. Dari pada harus menghadapi tantangan keamanan berbagai informasi tersebut, bisnis dapat menyimpan dan mengelola datanya di Data Center kelas dunia dengan sistem Private Cloud yang terintegrasi infrastruktur VMware.

  •  Efisiensi manajemen IT

Saat menggunakan sistem IT tradisional, bisnis pasti lebih banyak melakukan pemeliharaan dan peningkatan server, adminitrasi SAN, hingga kehilangan focus untuk mengalokasikan waktu untuk mengelola layanan IT bisnis. Namun ketika Anda menggunakan Private Cloud Zettagrid, Anda tidak perlu lagi melakukan hal tersebut, karena cloud kami lebih fleksibel dan scalable.

  • Kebijakan BYOD

Menerapkan sistem Bring Your Own Device (BYOD) memang dapat meningkatkan efisiensi bisnis, tetapi di sisi lain sistem ini juga dapat memebebankan manajemen infrastruktur IT bisnis apabila workload dan sistem kolaboratif bisnis dihost di sistem tradisional. Namun, semua bisa diatasi dengan membangun Private Cloud untuk mengurangi waktu penerapan layanan baru dan meningkatkan kecepatan akses aplikasi.

2. Contoh Kasus Penggunaan Private Cloud

  • Hosting aplikasi

Mulai dari blog, website perusahaan, ecommerce, hingga server game, tentu memiliki lingkungan hosting yang kompleks bagi bisnis. Bila kapasitas server meningkat karenanya, bisnis pasti akan melakukan peningkatan dan pemeliharaan server secara berkala. Hal ini tentu tidak efisien untuk manajemen IT bisnis. Oleh karena itu, solusi seperti Public Cloud bisa menjadi pilihan bisnis untuk kebutuhan tersebut.

Dengan menempatkan aplikasi pada lingkungan yang fleksibel dan scalable, hosting aplikasi tidak lagi membutuhkan sumber daya lebih untuk pemeliharaan dan peningkatan server bisnis.

  •  Hosting SaaS

Apakah bisnis Anda mengembangkan aplikasi Software as a Service (SaaS) atau layanan yang perlu dihost di lingkungan dengan visibilitas dan kontrol tingkat tinggi? Jika ya, tentu Public Cloud bisa menjadi solusi manajemen IT bisnis Anda tersebut. Dengan menawarkan akses langsung ke rangkaian sistem seperti VMware, Public Cloud memungkinkan Anda mengakses SaaS dengan manajemen tingkat tertinggi.

Itulah beberapa hal tentang solusi cloud untuk manajemen IT bisnis yang perlu diketahui. Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai solusi cloud Zettagrid, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

 

VMware vSAN untuk Virtualisasi Data Center

virtualisasi data center

VMware vSAN untuk Virtualisasi Data Center

Virtualisasi data center sangat umum untuk dimanfaatkan oleh berbagai bisnis di masa kini. Banyaknya perusahaan yang kian menyadari urgensi akan kebutuhan server penyimpanan data secara digital, menjadikan virtualisasi sebagai solusi bisnis mengingat sistem ini lebih efisien, fleksibel, dan ekonomis untuk alokasi anggaran IT. Tak heran, kini banyak penyedia layanan yang menyediakan solusi Virtual Data Center (VDC) untuk bisnis di masa remote working seperti sekarang.

Namun, memanfaatkan virtualisasi data center ternyata juga bisa mendatangkan tantangan terkait skalabilitas dan kompleksitas operasional. Bila bisnis saja tidak bisa menanganinya, tentu ini akan menjadi masalah bagi manajemen infrastruktur IT Anda. Oleh sebab itu, menggunakan arsitektur cloud yang baik sangat penting untuk mengelola sistem virtual infrastruktur IT Anda. Sehingga, bisnis pun masih dapat mencapai fleksibilitas dan skalabilitas infrastruktur IT sesuai harapan. Salah satunya, dengan memanfaatkan VMware vSAN.

Apa itu VMware vSAN?

virtualisasi data center

(Sumber: VMware)

Salah satu cara untuk memahami vSAN adalah dengan membandingkannya dengan hyperconvergence. Bila melihat sistem IT tradisional, Anda pasti tahu bila arsitekturnya menggunakan komponen terpisah untuk komputasi (CPU dan RAM), penyimpanan dan jaringan. Hal ini kontras dengan hyperconvergence yang mengonsolidasikan komputasi, penyimpanan, dan jaringan ke dalam arsitektur tunggal yang efisien dan dikelola melalui perangkat lunak.

Demikian pula dengan vSAN, yang menggabungkan semua kapasitas penyimpanan yang tidak digunakan ke dalam lingkungan virtual yang Anda kelola. Anda bisa menginstall vSAN di masing-masing virtual machine (VM) atau memasukkannya ke dalam firmware penyimpanan di penyedia layanan. Seperti infrastruktur hyperconverged (HCI), vSAN juga berjalan di server x86. Dengan demikian, vSAN dapat mengurangi kebutuhan infrastruktur IT perusahaan seperti hardware penyimpanan.

Kenapa bisnis perlu mempertimbangkan vSAN?

VMware vSAN memudahkan infrastruktur IT Anda untuk beralih ke sistem cloud hybrid. Dengan infrastruktur dan operasi yang konsisten di seluruh cloud, tim IT dapat mempercepat operasi dan inovasi bisnis Anda. Selain itu, vSAN juga mengintegrasikan VMware Tanzu untuk menyediakan platform penyimpanan tunggal untuk VM dan kontainer. Terintegrasi penuh dengan VMware vSphere dan VMware Cloud Foundation, vSAN dapat memberikan model operasional cloud untuk virtualisasi data center bisnis Anda.

Bila bisnis Anda memanfaatkan Object Storage, vSAN juga mengintegrasikan arsitektur layanan tersebut untuk mendukung aplikasi apapun. Dengan demikian, vSAN dapat memberikan bisnis manfaat berikut terkait penggunaan Object Storage:

  • Lebih mudah menerapkan, mengoperasikan, dan mengelola manajemen IT Anda. Hal ini karena vSAN terintegrasi vSphere dan VMware vCenter.
  • Mendapat dukungan untuk teknologi penyimpanan terbaru, termasuk server semua-NVMe dan vSAN melalui RDMA untuk aplikasi yang sangat penting.
  • Memperluas infrastruktur VMware hyper converged (HCI) secara berbeda ke penyimpanan eksternal melalui VMware vSphere Virtual Volumes.

Tak hanya Object Storage, bisnis juga dapat memanfaatkan VMware vSAN untuk beberapa penggunaan, seperti:

1. Menjalankan sistem mixed workloads

Mengerahkan banyak anggaran dan waktu seringkali dilakukan oleh beberapa bisnis demi mempertahankan berbagai workload di perusahaannya. Alasannya tentu ialah karena hardware khusus yang dimanfaatkan infrastruktur IT tradisional diaplikasikan pada berbagai lingkungan yang mahal dan kompleks untuk pemeliharaan.

Padahal, VMware vSAN dapat menjadi solusi untuk mengatasi masalah manajemen workload tersebut. Dengan mengkonsolidasikan mixed workload seperti aplikasi penting bisnis dan infrastruktur desktop virtual (VDI) ke dalam satu klaster lingkungan HCI, vSAN dapat membantu perusahaan mengefisienkan manajemen dan overhead operasional selama pengembangan dan pemeliharaan workload

2. Pengembangan Remote Office

Dengan memanfaatkan VMware vSAN untuk virtualisasi data center, perusahaan dapat memanfaatkan sistem kerja kolaboratif untuk menurunkan total cost of ownership (TCO) pada sistem remote office. Selain itu, menerapkan vSAN pada dua atau lebih host fisik melalui server x86 standar industri juga dapat membantu perusahaan menghindari investasi hardware yang mahal. Lalu, bagaimana penerapannya dengan sistem remote working?

Tenang! Administrator IT maupun manajemen tidak perlu menginvestasikan alat terpisah untuk penerapan remote working. Dengan kata lain, bisnis dapat dengan mudah mengontrol layanan penting seperti HA, performance, dan konsumsi kapasitas dari vSphere yang terpusat dan ramah pengguna.

3. Disaster Recovery

Tidak memiliki solusi Disaster Recovery bisa membuat bisnis rentan terhadap kerugian yang ditimbulkan setelah bencana. Sekalipun, Anda menggunakan sistem fisik serupa di lokasi pemulihan dan produksi untuk mendukung pemulihan data dan failure pada aplikasi setelah bencana, proses ini tetap akan memakan biaya yang tidak sedikit.

Memanfaatkan sistem virtual dapat meminimalisir penggunaan hardware dari aplikasi dan infrastruktur IT di lokasi Disaster Recovery dan produksi. Meski demikian, Anda tetap masih membutuhkan manajemen penyimpanan untuk menangani file VM.

Menggunakan VMware vSAN dapat memanfaatkan jalur input/output yang dioptimalkan di hypervisor ESXi untuk menyederhanakan manajemen situs, terutama untuk situs yang memiliki sedikit atau tanpa akses administrator IT seperti lokasi Disaster Recovery. Dengan demikian, virtualisasi data center untuk kebutuhan Disaster Recovery jauh lebih efisien bila dibandingkan dengan penggunaan hardware fisik.

Itulah beberapa hal mengenai VMware vSAN untuk kebutuhan virtualisasi data center. Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai kebutuhan cloud, Anda dapat mengkonsultasikannya bersama kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

 

Cara Cloudflare Tingkatkan Performa Aplikasi Bisnis

Cloudflare aplikasi bisnis

Cara Cloudflare Tingkatkan Performa Aplikasi Bisnis

Berkembangnya era digital seperti sekarang, telah menjadikan aplikasi sebagai teknologi yang umum digunakan oleh berbagai bisnis. Dengan mengimplementasikan sistem digital tersebut, bisnis kini lebih mudah untuk memberikan informasi, inovasi, maupun layanan kepada publik maupun konsumen.

Namun demikian, tak sedikit pula bisnis yang awam tentang keamanan dan peningkatan performa aplikasi. Padahal dalam pengimplementasiannya, sistem keamanan sangat dibutuhkan untuk meminimalisir serangan siber seperti Distributed Denial of Service (DDoS) pada aplikasi bisnis. Dari sinilah, solusi pun diperlukan dalam mengamankan dan meningkatkan performa sistem aplikasi bisnis. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan Cloudflare.

Apa yang dimaksud dengan Cloudflare?

Cloudflare merupakan salah satu penyedia infrastruktur Content Delivery Network (CDN) yang berfungsi untuk menjaga keamanan dan performa sistem dan aplikasi bisnis. Sebagian fitur Cloudflare dapat diakses dan diinstall secara gratis serta sederhana oleh penggunanya. Namun demikian, fitur gratis ini tentu memiliki keterbatasan dalam pemakaiannya.

Dibandingkan dengan penyedia lainnya, Cloudflare bisa dikatakan sebagai CDN yang lebih unggul mengingat penyedianya yang dapat memberikan layanan secara optimal kepada pelanggan. Beberapa paket yang disediakan oleh Cloudflare berupa Pro, Business, dan Enterprise.

Lalu, mengapa bisnis perlu menggunakan Cloudflare?

  • Melindungi aplikasi bisnis dari ancaman

Pada umumnya, data dari pengguna dan pihak ketiga digunakan Cloudflare untuk memastikan apakah traffic pada aplikasi bisnis merupakan ancaman atau bukan. Jika memang merupakan ancaman, maka sistem akan menghentikannya. Untuk melihat laporan dari masalah ini, Anda bisa mengaksesnya pada dashboard Cloudflare.

  • Memperingati visitor apabila komputer terserang virus

Cloudflare memberikan sistem peringatan kepada visitor apabila komputer terdapat virus dan menyarankan agar visitor membersihkannya terlebih dahulu.

  • Mengurangi penggunaan resource server

Dengan menggunakan Cloudflare, permintaan pada server bisa berkurang dan hal ini tentu akan mengurangi beban server. Contohnya, penggunaan CPU pada hosting. Ketika terjadi lonjakan visitor, beban server akan tetap aman.

  • Meningkatkan performa aplikasi

Cloudflare menyediakan server proxy yang tersebar di beberapa negara serta mampu mengarahkan pengunjung ke server terdekat. Oleh karenanya, kecepatan loading aplikasi bisnis bisa meningkat.

  • Laporan visitor

Cloudflare dapat menampilkan laporan kepada visitor yang dapat membantu mengidentifikasi apakah aplikasinya diakses oleh robot search engine, ancaman, atau traffic dari pengunjung manusia.

Apa saja fitur-fitur unggulan Cloudflare?

  • Firewall

Ingin menentukan visitor mana saja yang bisa mengunjungi website atau aplikasi bisnis Anda dan memblokir alamat IP atau traffic yang mencurigakan dari lokasi tertentu? Fitur Firewall bisa membantu Anda menanganinya. Dengan menyertakan fitur satu ini, Cloudflare dapat melindungi dan mengamankan aplikasi bisnis Anda dari ancaman keamanan.

  • Mirroring

Fitur Cloudflare satu ini memungkinkan beberapa konten yang terposting di situs bisnis Anda akan mirroring ke setiap data center Cloudflare. Oleh karenanya, aplikasi bisnis memiliki performa yang lebih cepat ketika pengunjung berada jauh dari server utama.

  • Analytics

Fitur satu ini berfungsi untuk memonitor segala aktivitas aplikasi pengguna Cloudflare. Adapun aktivitas yang dimonitor berupa asal visitor, jumlah unique visitor, bandwidth yang dimiliki selama 24 jam, dan jumlah permintaan akses yang dikirimkan selama 24 jam terakhir.

  • Caching

Cloudflare juga memiliki fitur caching di waktu dan kondisi tertentu. Fitur satu ini berfungsi untuk menghemat bandwidth hosting pengguna, terutama jika bandwidth pada aplikasi memiliki limit tertentu. Caching bekerja secara dua arah, yaitu ke aplikasi visitor dan ke server.

  • Railgun

Fitur Railgun pada Cloudflare berfungsi untuk meningkatkan performa aplikasi bisnis. Bahkan Cloudflare mengklaim kecepatan aplikasi bisnis bisa meningkat hingga 300%. Meskipun demikian, fitur ini hanya mampu digunakan oleh pengguna Cloudflare berbayar atau jika Penyedia Layanan Cloud yang Anda gunakan memiliki kerjasama dengan Cloudflare.

Itulah beberapa aspek yang dimiliki Cloudflare untuk meningkatkan performa aplikasi bisnis. Bila Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut Anda dapat menghubungi kamu di sini atau ke sales@zettagrid.id.

Cara Menentukan Object Storage untuk Bisnis Anda

menentukan Object Storage

Cara Menentukan Object Storage untuk Bisnis Anda

Secara bahasa, sulit untuk menentukan definisi yang tepat dari Object Storage karena konsep tersebut memiliki arti yang berbeda di dalam setiap organisasi yang menerapkannya. Dalam penjelasannya yang paling mendasar, Object Storage adalah sistem yang menempatkan data bisnis Anda yang tersimpan di dalam sebuah media yang disebut “kolam penyimpanan”. Untuk membantu Anda menentukan object storage dengan tepat, alangkah baiknya jika kita memahami apa pengertian serta manfaatnya.

Tidak seperti sistem penyimpanan lainnya, objek tidak disimpan dalam hierarki dan tidak dapat diletakkan di dalam satu sama lain. Hal ini bisa menjadi manfaat menguntungkan karena beberapa alasan, termasuk untuk mempertahankan kelangsungan bisnis.

Object Storage menawarkan cara yang sederhana untuk mengakses file kapan saja, di mana saja dari perangkat apa pun dengan memanfaatkan jasa dari penyedia layanan cloud. Dalam sistem remote working seperti sekarang, penyimpanan objek dapat menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas bagi organisasi dari semua ukuran.

Selain itu, Object Storage juga dapat secara signifikan mengurangi biaya CapEx seperti pembelian hardware dan mengefisiensikan biaya OpEx seperti listrik, lisensi software, teknisi IT, dan biaya lainnya.

Faktor-faktor yang Harus Dipahami untuk Menentukan Object Storage yang Tepat

Untuk membantu Anda dalam memilih penyedia layanan Object Storage yang dapat memberikan keuntungan dalam segi efisiensi bisnis dan mendukung solusi IT, berikut ada beberapa faktor yang patut untuk dipertimbangkan: 

1. Pastikan untuk Memilih Infrastruktur Object Storage as a Service

menentukan object storage

(Source: SvetaZi from Getty Images)

Sebagian besar penyedia Object Storage mengharuskan Anda untuk menggunakan perangkat keras yang berpemilik, meskipun dalam kenyataannya hal ini tidak selalu benar. Saat  menentukan mana layanan Object Storage terbaik, carilah layanan as-a-Service dan kompatibel dengan protokol S3 pilihan Anda. Hal ini penting untuk dilakukan demi menghilangkan kemungkinan bisnis Anda dari vendor lock in.

Tak hanya itu, arsitektur shared-nothing memungkinkan node untuk ditambahkan dengan mudah, sekaligus memudahkan Anda untuk meningkatkan kapasitas penyimpanan hingga bilangan exabyte tanpa perlu melakukan pemeliharaan yang kompleks. 

2. Menyediakan Integrasi Cloud Secara Penuh

menentukan object storage

(Source: pinglabel from Getty Images)

Sebagai salah satu alat untuk mendukung solusi IT perusahaan, penting rasanya untuk berfokus pada teknologi Cloud. Cloud adalah bagian dari strategi IT perusahaan yang sedang booming saat ini dan akan terus berlanjut di masa depan.

Solusi publik, pribadi, dan multi-cloud adalah langkah pengelolaan sumber daya, pemanfaatan, dan kepuasan pelanggan yang akan difokuskan seluruhnya di departemen IT perusahaan.

Untuk memanfaatkan kekuatan data secara penuh, penyimpanan juga harus bisa bekerja dengan cepat, sekaligus menjaga agar seluruh data bisa tersedia untuk beberapa aplikasi di seluruh departemen dan beberapa tempat penyimpanan; misalnya, Cloud storage.

3. Kompatibel dengan Berbagai Protokol Penyimpanan

menentukan object storage

(Source: Henrik5000 from Getty Images Signature)

Walaupun Object Storage bisa diaplikasikan dengan layanan streaming, aplikasi medis, hingga solusi backup, ternyata masih banyak aplikasi yang secara default mengakses dan mengelola data berbasis file dan belum siap untuk dipindahkan ke protokol Object Storage.

Maka dari itu, saat mengevaluasi opsi Object Storage, carilah layanan yang kompatibel dengan protokol seperti S3 API dan Cloud Data Management Interface (CDMI). Sehingga, Anda dapat mudah menyimpan dan mengakses data dengan berbagai aplikasi selama didukung aplikasi S3.

4. Tim Support yang siap sedia membantu kapanpun

(Source: MagoStar_Studio from Getty Images)

Terkadang, memang kendala sistem terjadi secara tiba-tiba, dan hal ini tidak bisa dengan mudah untuk dihindari. Begitu pula jika perusahaan sudah didukung dengan sebuah tim yang bertanggung jawab dalam mengelola infrastruktur IT-nya, pasti ada saja kendala dan kebingungan yang terjadi di tengah kebutuhannya. Apabila masalah tak kunjung terselesaikan, tentu hal ini akan berakibat fatal pada produktivitas perusahaan kedepannya.

Sebagai langkah awal untuk memastikan bahwa layanan yang Anda pilih akan berjalan sebagaimana mestinya, pastikan untuk mencari provider dengan layanan support yang siap sedia membantu Anda. Hal ini akan memudahkan Anda untuk mengelola infrastruktur layanan Object Storage sesuai kebutuhan. Dengan responsivitas yang terjamin, perusahaan Anda bisa tetap tenang dan aman mengelola layanan infrastrukturnya. 

5. Kompatibel Untuk Kebutuhan Backup Data Perusahaan

(Source: akuzone from Getty Images)

Sesuai dengan fleksibilitas Object Storage sebagai media penyimpanan, teknologi ini juga bisa digunakan untuk memenuhi strategi backup 3-2-1 bisnis. Bila Anda ingin menggunakan Object Storage untuk kebutuhan backup tersebut, Anda perlu memilih layanan yang kompatibel dengan kebutuhan maupun solusi backup seperti NAS dan aplikasi backup yang digunakan oleh bisnis. Dengan demikian, perusahaan Anda bisa mendapatkan ketenangan dan dengan mudah untuk membackup data kapan saja dan di mana saja.  

Kesimpulan

Itulah tadi beberapa faktor yang patut dipertimbangkan dalam menentukan object storage untuk bisnis Anda. Pilih object storage yang mana sudah terbukti keefektivannya saat ini dan akan berkembang dengan mudah sesuai kebutuhan bisnis Anda di masa mendatang.

Bila Anda memiliki pertanyaan terkait solusi Object Storage, Anda dapat menghubungi kami di sini atau ke sales@zettagrid.id.

Understanding The Risk of Attack Surface for Businesses

risk of attack surface

Understanding The Risk of Attack Surface for Businesses

Reducing the risk of attack surface is essential, especially in small and mid-size business environments. By having a certainty that the attack surface has been kept as small as possible, the company has successfully satisfied the basic cyber security measure.

That’s why, understanding how it works and how it may rise may help businesses reduce the risk of cyber attack engagements and ensuring business continuity.

While most small and mid-size businesses may think that they are too small to become a cyberattack target, revealing how attack surfaces could penetrate the inner section of the business may uncover other company’s vulnerabilities, especially in term of IT network management.

Thus, understanding the IT environment and the element surrounding it in the business’s surface attack risks would be a good step to strengthening the defense. 

Primary Attack Surfaces 

risk of attack surface

(Source: D3Damon from Getty Images Signature)

Before understanding the risk of the attack surface, it’s better to learn about the kinds of attack surfaces. There are two of them, devices and people.

Devices

As you may see today, businesses are getting familiar with Internet usage, allowing more and more devices to be connected. Despite the fact that it’s great for the company’s production management, it could be a gateway for criminals to enter, attacking the business while there’s a chance.

They usually have their most common weapons, Ransomware, and Hybrid Ransomware. Ransomware is already bad enough as the program allows cybercriminals to penetrate a device, take control of it, and demand a ransom from a user. Hybrid Ransomware works in a similar way but affects a greater aspect of the system. While Ransomware may affect one device, the hybrid form can affect the entire network.

People

In the common scenario, sophisticated cyberattacks usually target the weakest aspect in the digital security chain, which is the people. According to DBIR 2020 report by Verizon, almost 22% of breaches were caused by human error. Meanwhile, nearly 95% of cloud breaches also happened due to human errors, as stated by Gartner.

However, the must-have protocols usually revolve around password policies, and other safeguards usually can’t be found in small and mid-size businesses. This condition is making the risk rises higher. The situation is even worsened by the fact that 66% of people still use the same password combination despite their understanding of how important to change passwords for different accounts.

More skillful attackers also have a trick to use social engineering to gain access to networks from the employees themselves. What social engineering does is trick people to give in any confidential information about the company. Usually, the attackers would use some media like email, pretending to be a credible individual or an organization. Most workers who are still clueless about this can’t be able to defend themselves.

Attack Surface Management’s Essential Components 

risk of attack surface

(Source: Urupong from Getty Images Pro)

Now, to mitigate the risk of the attack surface while strengthening the data protection, there are some steps SMBs can do:

Discovery

The very first step of any attack surface management is to discover all the assets that have been used or connected to the internet that contains the company’s sensitive data, including trade secrets information.

However, the assets can either be owned and operated by the organization or third parties like cloud providers, suppliers, or business partners.

Classification Method

After the assets have been discovered, the next step would be digital asset inventory classification. This step includes dispatching and labelling the assets based on the properties, type, and how critical are they for business.

Ratings and Scorings

The attack surface management wouldn’t be completed without actionable risk scoring and rating. Usually, companies always have thousands or even millions of growing data. Without the security rating protocols, it will be harder to identify any security issues for each asset and whether they’re at risk for security breaches.

Security Monitoring

To offer decent data protection for the company, continuous security monitoring is always needed as a part of mitigating the risk of the attack surface.

Conclusion

Now, you’ve gained an understanding that SMBs are currently facing an ever-growing problem that could be unstoppable. But, with adequate knowledge of what key security measures are needed for better cyber security and actionable approaches to maintain the security, businesses or organizations will be managed to strive against the risk of the attack surface and successfully maintain their business continuity.

If you want to learn more about how to prevent cyber-attack with Attack Surface Management, you can register to “Zettagrid e-Techday: How to Secure Your Business from Data Breach with Attack Surface Management” on Thursday, 29 September 2020, on Zoom Meeting here.